Connect with us
No Hard Feelings
Sony Pictures

Film

No Hard Feelings: Sentimental Kampung Halaman & Adulthood

Naskah komedi romantis dengan humor dewasa ala Hollywood yang sudah usang.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Film komedi romantis Hollywood sudah lama tidak naik layar lebar semenjak akhir 2010an. Film komedi romantis sekarang lebih marak didistribusikan melalui platform streaming.

Kehadiran “No Hard Feelings” di bioskop sempat menimbulkan ekspektasi; apa ini akan menjadi film komedi yang menghadirkan hal baru, atau keputusan bisnis yang salah dengan mengangkat materi yang usang? Ketika kita mengira film Gene Stupnitsky ini tidak akan masuk bioskop Indonesia, Sony Pictures akhirnya merilis juga “No Hard Feelings” di bioskop lokal kita. Namun bersamaan juga dengan kabar film ini akan segera masuk Netflix. Jadi, apa worth it untuk menonton filmnya di bioskop sekarang?

Dibintang oleh Jennifer Lawrence sebagai Maddie, wanita 32 tahun yang sedang mengalami krisis finansial. Ia kemudian terlibat dalam situasi unik dimana sepasang orang tua kaya merekrutnya untuk berkencan dengan putra mereka, Percy (Andrew Barth Feldman), perjaka 19 tahun yang pemalu.

Maddie rela mengambil ‘pekerjaan’ tidak biasa ini demi mendapatkan mobil gratis untuk menyambung hidup sebagai Uber Driver. Namun, semakin ia menjalin hubungan dengan Percy, ini tidak lagi sekadar kesempatan untuk mendapatkan mobil gratis.

No Hard Feelings

Maddie dengan Quarter-Life Crisis-nya & Percy dengan Coming of Age-nya

Berlatar di Montauk, “No Hard Feelings” menampilkan desa di pinggir laut di Long Island, New York. Disitulah Maddie, wanita 32 tahun menghabiskan hidupnya tanpa pecapaian besar dan kini mengalami krisis finansial. Rumah warisan dari ibunya terancam disita karena ia telah menunggak pajak. Keadaan semakin pelik ketika mobilnya terlebih dahulu disita, padahal profesi Maddie adalah Uber Driver. Maddie memiliki character arc tipikal wanita dengan krisis kehidupan di usia 30an. Mulai dari pekerjaan, asmara, dan kehidupan sosialnya tidak berjalan dengan baik.

Sementara Percy adalah remaja 19 tahun yang sedang memasuki level awal pendewasaan. Meski tumbuh besar di keluarga kaya, Ia ternyata anak manja dengan masalah berkomunikasi, apalagi menjalin hubungan dengan perempuan. Padahal Percy sebetulnya remaja laki-laki yang manis dan berbakat. Ia hanya memiliki masalah kecemasan dan trauma masa kecil, kemudian bersembunyi dalam gelembung yang sebetulnya difasilitasi oleh orang tuanya sendiri.

Kondisi Percy membuat kedua orang tuanya khawatir karena ia akan segara masuk universitas. Oleh karena itu mereka membuat iklan mobil untuk wanita berusia 20an yang mau berkencan dengan Percy dengan imbalan mobil gratis. Meski kurang memenuhi syarat, Maddie berhasil membujuk orang tua Percy untuk menyerahkan ‘pekerjaan’ ini padanya.

No Hard Feelings

Naskah Komedi Romantis yang Sudah Usang, Materi Humor Kurang Menggigit

“No Hard Feelings” menimbulkan ekspektasi tertentu pada penonton selama masa promosinya. Tak hanya komedi romantis biasanya, ada unsur nakal dan humor dewasa yang bisa kita lihat melalui trailer-nya. Namun ternyata konten dewasa dalam film ini tidak lebih dari yang sudah ditayangkan dalam trailer.

Buat yang memiliki ekspektasi akan hubungan nakal antara remaja perjaka dengan wanita dewasa semenawan Jennifer Lawrence, film ini sama sekali tidak steamy apalagi erotis. Hanya beberapa pembicaraanya saja yang mengandung toik-topik vulgar secara umum. Jadi, kalau dibandingkan dengan komedi romantis Hollywood lawas yang nakal, ini masih termasuk standar.

Justru ada kesan film ini tidak berani mengambil resiko tersebut. Ini karena Maddie tidak senakal yang kita duga, begitu pula Percy tidak seculun yang kita sangka. Masalahnya premisnya serba tanggung. Ini bukan film komedi yang nakal, namun terlalu hambar untuk drama kehidupan dimana ada pelajaran yang bisa diambil.

Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi seperti model parenting orangtua Percy yang bisa dibilang bermasalah. Maupun krisis pribadi yang sedang dialami oleh Maddie, dimana ia memiliki sentimen tinggi pada rumah peningglan ibunya. “No Hard Feelings” memiliki naskah yang sudah terlihat usang dalam skenanya. Ini terlihat seperti film 2010an dengan latar 2023.

No Hard Feelings

Kurang Relevan dengan Budaya Indonesia, Tidak Perlu Ditonton di Bioskop

Pertama-tama, fakta bahwa orang tua Percy secara spesifik meminta Maddie, wanita 32 tahun, “berkencan” dengan putranya yang masih 19 tahun, hanya supaya anaknya tidak perjaka sebelum masuk kuliah tidak relevan dengan kebudayaan Asia (bahkan dengan model parenting masa kini dalam budaya manapun).

Dengan berbagai alternatif skenario film komedi romantis, drama krisis kehidupan, hingga drama coming of age, premis demikian tidak cukup untuk memikat perhatian kita lagi. Meski maksudnya sebagai premis komedi, pada akhirnya tidak semua lelucon berhasil memberikan punchline, salah satunya seperti materi humor “No Hard Feelings” ini.

Meski ini bukan penampilan terbaiknya, jelas Jennifer Lawrence yang menjadi alasan mengapa banyak dari kita penasaran dengan film ini. Sebetulnya masih layak ditonton karena plotnya masih tergolong rapi dan mudah diikuti.

Ada juga beberapa pelajaran kehidupan level permukaan yang bisa dipetik. Namun untuk ditonton di bioskop film ini termasuk kurang worth it. Apalagi sedang banyak film menarik lainnya yang tayang di bioskop. “No Hard Feelings” juga sebentar lagi bakal masuk platform streaming, jadi tidak terlalu urgent buat kita hingga rela mengeluarkan tiket bioskop.

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Tiger Stripes Tiger Stripes

Tiger Stripes Review: Body Horror Pubertas Akibat Minim Edukasi

Film

What to Stream on Valentine’s Day

Cultura Lists

Orion and the Dark Orion and the Dark

Orion and the Dark Review: Eksplorasi Keindahan dalam Kegelapan

Film

Connect