Connect with us
Photo via theringer.com

Film

Mank Review: Bagaimana Situasi Politik Memengaruhi Industri Film 30-an di Amerika

Memukau secara produksi, namun bukan kisah yang relevan untuk kalangan umum.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Mank merupakan film terbaru dari David Fincher yang sudah dinanti-nanti oleh penikmat film. Sudah semenjak 6 tahun Fincher merilis film Gone Girl, salah satu film terbaik pada tahun 2014 silam.

Mank merupakan film drama berlatar pada tahun 1930-an hingga 40-an, tentang situasi politik dan masa perang yang memengaruhi industri musik Hollywood di Amerika. Kita akan melihat potret pada masa tersebut melalui pandangan sutradara idealis, Herman J. Mankiewicz yang menuangkannya dalam naskah film Citizen Kane (1941).

Mank sendiri sebetulnya merupakan naskah film yang ditulis oleh ayah David Fincher, Jack Fincher, pada tahun 1990 silam. Meski dieksekusi oleh sutradara dan penulis naskah dari dua masa berbeda, tampaknya David tak memiliki masalah besar dalam mengeksekusi naskah peninggalan ayahnya tersebut. Mank merupakan film yang didedikasikan untuk pecinta film, terutama kecintaan akan produksi film pada tahun 30-an.

Mank

Netflix

Kisah Politik dan Industri Perfilman yang Sulit Dipahami oleh Penonton Secara Umum

Secara garis besar, Mank menyajikan kisah tentang Herman J. Mankiewicz alias Mank, yang menulis naskah film berdasarkan kisah hidup William Randolph Hearst. Kita juga akan melihat bagaimana rumah produksi film Hollywood pada masa tersebut masih memiliki ekspektasi yang lebih minimalis tentang sebuah film. Sesuatu yang jelas, sesuatu yang mudah dipahami oleh penonton, produk “murah” yang cepat laris. Bagaimana situasi politik kala itu mempengaruhi cara kerja industri film yang akhirnya penuh dengan korupsi dan pemanfaatan posisi dalam tangga sosial.

Jika Once Upon A Time…In Hollywood (2019) merupakan surat cinta Quentin Tarantino pada era Golden Age di Hollywood, Mank merupakan manifestasi jujur dari David Fincher tentang industri film Hollywood 30-an. Kita bisa melihat bagaimana David mencintai filmmaking, namun membenci bagaimana cara kerja Hollywood pada masa tersebut. Bukan cinta yang tanpa syarat, David mampu menempatkan dirinya sebagai penggemar sejati yang tahu sisi baik maupun buruk dari sebuah industri perfilman. Dia paham betul hingga ingin mengkritik sesuatu yang salah pada industri yang Ia cintai.

Sayangnya, topik yang diangkat pada film ini akan sulit dinikmati oleh penonton film secara umum. Buat kita penggemar film kelas berat, Mank bisa menambah wawasan tentang sejarah industri film. Sekalipun begitu, masih akan sangat sulit bagi kita untuk memahami isu apa yang sebelumnya diperdebatkan dalam film ini. Kecuali jika kita benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di Hollywood pada masa tersebut. Buat kita yang menonton film murni untuk hiburan, Mank mungkin bukan film yang menarik untuk ditonton.

Mank

Netflix

Mengeksekusi Gaya Produksi Film dari Tahun 30-an yang Maksimal

Jika naskah berisi kritikan, produksi dari film ini mempresentasikan kecintaan David Fincher pada filmmaking. Film modern dengan eksekusi yang kasar dari era 30-an sebelumnya telah dieksekusi oleh film The Lighthouse (2019), namun Mank memiliki intensitas yang lebih tebal dan detail.

Mank memiliki resolusi 8k dengan filter hitam putih yang sangat kasar. Mulai dari komposisi cahaya yang janggal pada setiap latar outdoor hingga efek pecah dan gangguan film yang tampak otentik. Transisi fade to black dengan scoring blues jazz yang diulang-ulang juga sangat khas dari produksi film tahun 30-an. Mank terlihat seperti film Hollywood rilisan tahun 1930-an dengan directing dan sinematografi yang memukau.

Begitu juga dengan sound mixing pada film ini terdengar sangat lawas. Dimana suara setiap aktor terasa seperti direkam dengan mic kualitas rendah, menghasilkan gaung atau efek seperti suara dari radio yang kasar. Menarik bagaimana teknologi produksi film masa kini dimanfaatkan untuk mencapai akurasi produksi film dari masa lampau. Ketika pada masa tersebut setiap rumah produksi film berlomba-lomba untuk semakin meningkat kualitas produksi agar semakin mulus dan modern.

Akting Gary Oldman yang Tidak Pernah Mengecewakan

Siap-siap untuk mendengar berita Gary Oldman dalam nominasi Best Actor pada Oscar 2021, karena sekali lagi aktor veteran ini masih menunjukan performa akting yang maksimal. Mank mungkin bukan tokoh yang mudah untuk dicintai, namun Gary Oldman selalu menampilkan kemampuan akting yang layak untuk dikagumi. Perlu diingat aktor ini telah menginjak usia 62 tahun, sementara Herman J. Mankiewicz berusia sekitar 30 tahun kisah ini. Sangat menarik bagaimana Gary masih bisa tersambung dengan energi dari karakter yang usianya setengah tahun lebih muda dari dirinya. Kita bahkan tidak akan menyadari hal tersebut ketika menonton film ini.

Selain Gary Oldman, Charles Dance dan Amanda Seyfried juga menjadi aktor yang menonjol dalam film ini. Meski tidak mendominasi screentime, kehadiran mereka dalam sebuah babak akan selalu berhasil memberikan statement pada film hitam putih ini. Hal ini juga berkat David Fincher yang tampaknya sengaja mengarahkan akting para aktornya secara dramatik dan teatrikal, sesuai dengan trend akting yang diterapkan oleh aktor dari era 30-an di Hollywood.

Secara keseluruhan, Mank merupakan film David Fincher yang paling idealis, membuat film ini memiliki segmentasi yang lebih khusus. Sutradara ini tampaknya tidak memiliki niat untuk menghibur penonton setelah 6 tahun dirindukan karyanya, film ini merupakan ode sinis akan industri film Hollywood pada tahun 1930-an.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect