Connect with us
Maniac
Netflix

TV

Maniac Review: Angkat Isu Kesehatan Mental dalam Latar Fiksi Ilmiah Imajinatif

Miniseries paling underrated yang dibintangi oleh Jonah Hills dan Emma Stone.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Maniac” (2018) merupakan miniseries Netflix Original oleh Cary Joji Fukunaga dan Patrick Somerville. Sebagai salah satu miniseries yang cukup underrated di platform ini, serial bergenre dark comedy dengan latar fiksi ilmiah ini sebetulnya bertabur bintang Hollywood. Dibintangi oleh Jonah Hill dan Emma Stone, ada pula Sonoya Mizuno, Sally Field, Justin Theroux, dan Julia Garner.

Annie Landsberg dan Owen Milgrim adalah dua orang asing yang bertemu dalam uji coba medis di Neberdine Pharmaceutical Biotech (NPB). NPB sedang mengembangkan metode dan obat penyembuhan penyakit mental terbaru. Melalui pil dan alat simulasi, Annie dan Owen terus menemukan cara mereka untuk bertemu dalam petualangan simulasi fiksi ilmiah yang penuh dengan kejutan dan eksplorasi keadaan mental mereka.

Sama seperti kebanyakan serial drama komedi, “Maniac” menggunakan konsep naskah yang eksentrik sebagai rebound pada pembahasan topik yang serius, dalam skenario ini adalah isu kesehatan mental.

Maniac

Owen Pengidap Skizofrenia dan Annie yang Memiliki Trauma Mendalam

Owen lolos untuk mengikuti uji coba NPB karena skizofrenia-nya. Sementara Annie tidak cukup ‘sakit’ untuk menjadi subyek uji coba metode penyembuhan NPB, karena ia hanya mengidap trauma setelah adik perempuannya meninggal dalam tragedi yang menghantui Annie setiap saat, kecuali setelah ia meminum pil yang diproduksi oleh NPB.

Melalui skenario ini, “Maniac” mengangkat topik yang menarik untuk didiskusikan tentang kesehatan mental; pada taraf apa seseorang didiagnosis memiliki gangguan mental?

Tak hanya membahas drama mengeksplorasi keadaan karakter yang memiliki gangguan mental, serial ini juga membuat kita mempertanyakan metode medis yang selama ini kita yakini di dunia nyata untuk membantu pasien gangguan mental. Apa benar hanya dengan pergi ke psikiater masalah kita bisa langsung selesai? Apa obat-obat yang diresepkan oleh psikiater bisa manjur? Apa sebetulnya yang dibutuhkan untuk menyembuhkan orang dengan gangguan mental?

Pertanyaan-pertanyaan yang cukup provokatif ini lebih luwes dibahas dengan genre sci-fi sebagai zona nyaman bagi kreatornya untuk mencurahkan pemikiran menarik mereka. Tanpa harus dibebani dengan pakem-pakem medis di realita.

Maniac

Angkat Isu Kesehatan Mental dalam Latar Fiksi Ilmiah Imajinatif

“Maniac” pada akhirnya paling fokus dalam mengeksplorasi keadaan mental, psikologi, dan berbagai peristiwa dalam hidup mereka yang membawa mereka pada titik ini; mengalami gangguan mental. Mulai dari latar belakang keluarga Owen, tragedi yang menjadi sumber trauma Annie, hingga interaksi tidak terduga dari dua karakter utama ini. Semuanya dipresentasikan melalui sekuen fantasi, fiksi ilmiah, drama, komedi, hingga action dengan simulasi sebagai mediumnya.

Jika dibandingkan dengan tontonan masa kini yang populer, bisa disandingkan dengan “Everything Everywhere All at Once” (EEAAO). Sebetulnya memiliki problem dan konflik kehidupan sehari-hari yang umum, namun penulis dan sutradaranya memilih untuk memberikan presentasi yang lebih kreatif, eksentrik, dan semarak untuk mendapatkan perhatian penontonnya.

Baik EEAAO dan “Maniac” sama-sama membahas krisis kehidupan dan sama-sama tampak unik dalam presentasinya. Namun, tidak sekadar absurd dan aneh, tetap ada intisari yang relevan dengan realita ketika penonton menyimak dengan seksama.

“Maniac” berlatar di New York masa depan, dengan papan iklan neon dimana-mana, hologram, hingga robot mini pembersih jalanan. Lebih spesifik lagi post-futuristic, karena daripada kota futuristik yang minimalis dan serba baru, latar serial memperlihatkan bahwa peradaban futuristik di skenario ini telah menjadi bagian dari peradaban manusia untuk waktu yang lama. Teknologinya sudah mutakhir, namun ada gadget hingga lokasi pada latar yang terlihat usang. Terlihat lebih otentik, bukan semesta futuristik yang terlalu bersih dan terlihat palsu.

Chemistry Jonah Hill dan Emma Stone yang Fleksibel dan Unik

Jonah Hill dan Emma Stone memiliki chemistry yang menarik dalam “Maniac”. Kapan terakhir kali kita melihat dua karakter wanita dan pria dalam serial memiliki hubungan yang dekat tanpa sentuhan romantis? Owen dan Annie bisa menjadi apapun dalam “Maniac”, namun ada chemistry unik yang selalu ada di antara mereka berdua, apapun skenarionya.

Kita akan melihat Hill dan Stone sebagai pasangan suami istri dari era 80an, pencuri yang saling bermusuhan dari era 40an, penyihir dan peri dalam latar fantasi yang terlihat seperti “Lord of the Rings”, hingga mata-mata CIA dan diplomat Islandia dalam situasi darurat. Mereka menjadi pasangan, musuh, sahabat, bahkan orang asing, namun selalu memiliki variasi interaksi yang menarik dalam setiap simulasi.

Kita tidak perlu bertanya apa mereka adalah belahan jiwa atau dua subyek dengan frekuensi yang sama dalam simulasi, kita hanya tahu keduanya menjadi pendamping satu sama lain yang akhirnya menjadi ‘obat’ bagi gangguan mental mereka. Interaksi dan hubungan yang sehat adalah obat sesungguhnya.

Secara keseluruhan, “Maniac” merupakan salah satu hidden gem yang awet bersemayam di Netflix hingga saat ini. Semakin jarang sajian original belakangan ini, “Maniac” merupakan salah satu yang paling original. Bisa jadi tontonan fantasi penuh petualangan fantasi sekaligus psikologis yang menarik untuk dialami. Ketika bicara tentang isu kesehatan mental menjadi sesuatu yang sulit dan berat, sajian drama komedi seperti ini bisa menjadi medium alternatif yang lebih menarik.

10 Best K-drama for Non-Drama Fans

Cultura Lists

Hubungi Agen Gue Hubungi Agen Gue

Hubungi Agen Gue! Review: Kekalutan di Agensi Selebriti Indonesia

TV

Moving Moving

Moving Review (Part 1): Serial Superhuman Korea Terbaik Saat Ini

TV

One Piece Live-Action One Piece Live-Action

One Piece Live-Action: Adaptasi Manga Bajak Laut Ramah Penonton Baru

TV

Connect