Connect with us
Mangkujiwo

Film

Mangkujiwo Review: Thriller Tentang Perebutan Kekuasaan

Prekuel dari seri Kuntilanak yang mengedepankan budaya Jawa dan perebutan kekuasaan penuh intrik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Film horor Indonesia memang identik dengan hantu yang menyeramkan dan sesuai mitologi lokal. Salah satunya adalah kuntilanak yang menjadi basis dalam seri film yang dipopulerkan oleh Rizal Mantovani pada 2006 silam. Meski sempat menurun kala muncul versi reboot-nya pada 2018 dan 2019 lalu, hadirlah prekuelnya yang diberi judul Mangkujiwo.

Mangkujiwo merupakan film horor thriller dari MVP Pictures yang disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis yang terkenal melalui Kafir pada 2018 lalu. Dibintangi Asmara Abigail, Sujiwo Tejo, Roy Marten, Karina Suwandhi, Djenar Maesa Ayu, film yang diposisikan sebagai pembuka lore dari seri Kuntilanak ini berkisah mengenai awal lahirnya Kuntilanak dan konspirasi yang menyebabkan kemunculannya yang ikonik.

Mangkujiwo

Kanti (Asmara Abigail)

Sedari awal, penonton akan dibawa untuk memahami dua karakter, yakni Kanti (Asmara Abigail) dan Uma (Yasamin Jasem). Kanti digambarkan sebagai sosok wanita yang dikucilkan masyarakat dan kemudian ditampung oleh Brotoseno (Sujiwo Tejo), yang ternyata nasibnya tidak berbeda jauh dibanding sebelumnya.

Berbeda dengan seri Kuntilanak lainnya yang hadir untuk menakuti melalui kelamnya kehadiran hantu titular tersebut, Mangkujiwo meneror penonton melalui ceritanya yang kelam. Gelapnya nuansa dimunculkan melalui ambisi dua pihak, yakni Brotoseno dan Tjokro Kusumo (Roy Marten) yang ingin menguasai pusaka kuno dan menghalalkan segala cara untuk itu.

Bila horor lokal lain lebih mengedepankan penggunaan jumpscare untuk menakuti penonton, Mangkujiwo cenderung mengandalkan horor yang bersifat atmospheric. Kita bakal dibuat takut dengan nuansanya yang mengganggu, seperti penggunaan tempat yang ditampilkan sangat tidak nyaman. Di samping itu, film ini juga menggunakan elemen-elemen kekerasan dan menjijikan demi meningkatkan ketegangan yang akan dirasakan selagi menontonnya.

Kuntilanak sendiri terkenal dengan budaya Jawa yang disematkan di dalamnya. Mangkujiwo juga menghadirkan budaya kejawen sebagai center dan juga untuk horror delivery-nya. Segala sisi dapat dikemas dengan baik, sehingga semuanya terlihat masuk akal dan bisa bernostalgia, sekaligus mampu membuat penonton tidak nyaman di beberapa bagian tertentu.

Mangkujiwo

Selain sebagai prekuel, Mangkujiwo nyatanya juga berfungsi dengan baik untuk menyambungkan dua lini Kuntilanak yang terpisah, yakni timeline film tahun 2006-2008 dan film 2018-2019 yang nampak berjauhan. Oleh karena itu, film arahan Azhar Kinoi Lubis tersebut menyematkan berbagai elemen yang berkaitan dari keduanya, seperti kemunculan dua cermin, referensi salah satu tempat penting, hingga hadirnya ragam karakter yang penting dalam berjalannya seri horor ini. Semuanya ditampilkan dengan sangat luwes, meski pada akhirnya masih memerlukan beberapa tambahan yang semestinya bisa memperkaya isi dari seri ini ke depannya.

Akting dari para pemainnya pun juga sangat menawan. Asmara Abigail yang digempur dengan ragam emosi, Sujiwo Tejo yang dengan luwes membawakan Brotoseno penuh misteri meski terasa masih bermain aman, hingga Yasamin Jasem yang mampu tampil meyakinkan dengan karakternya. Selain itu, hadirnya berbagai cast lain seperti Karina Suwandi dan Djenar Maesa Ayu yang singkat juga mampu membuat Mangkujiwo lebih menarik.

Mangkujiwo

Karmila (Karina Suwandi) dan Nyi Kenanga (Djenar Maesa Ayu)

Unsur teknis dari Mangkujiwo juga perlu diacungi jempol. Sinematografi dengan pergerakan kamera halus yang membangun kengerian secara perlahan didampingi alunan scoring kejawen dan set design bertema Jawa di masa lampau dijamin bikin penonton bergidik. Didukung pula dengan editing yang halus, menikmati film ini adalah pengalaman yang seru, terutama bila disaksikan di layar lebar.

Mangkujiwo adalah film horor dengan premis drama perebutan kekuasaan yang keluar dari pakem kekinian namun masih mampu menghadirkan ketegangan. Dengan hadirnya ensemble cast menawan dibarengi dengan faithful-nya film ini sebagai penyambung, menjadikan film ini bakal cocok untuk yang menyukai seri Kuntilanak dan yang ingin memahaminya lebih dalam.

Click to comment

Happy Old Year Happy Old Year

Happy Old Year: Tentang Minimalisme dan Kenangan yang Terbuang

Film

Concrete Cowboy Review Concrete Cowboy Review

Concrete Cowboy Review: Komunitas Cowboy Kulit Hitam & Gentrifikasi

Film

Madame Claude Review Madame Claude Review

Madame Claude Review: Kisah Pemilik Jasa Prostitusi Kelas Atas di Paris

Film

Tersanjung the Movie Tersanjung the Movie

Tersanjung the Movie Review: Tetap Setia dengan Source Material

Film

Advertisement
Cultura Live Session
Connect