Film

Madu Murni Review: Usik Poligami sebagai Cerminan Rumah Tangga

Dengan kemasan komedi dewasanya yang cukup menghibur, ‘Madu Murni’ dapat jadi sarana pria untuk bercermin melalui isu poligami.

Rumah tangga tidak selamanya berjalan mulus. Hal tersebut juga yang mendorong munculnya beragam hal, salah satunya adalah poligami yang kerap mendapat pro dan kontra dari berbagai sisi. Poligami pula yang ingin disorot Monty Tiwa dalam film terbarunya, ‘Madu Murni’.

‘Madu Murni’ merupakan film drama komedi terbaru dari Starvision Plus yang disutradarai oleh Monty Tiwa dan naskah dari Musfar Yasin. Dibintangi oleh Ammar Zoni, Irish Bella, dan Aulia Sarah, film ini berkisah tentang Mustaqim, seorang pria gagah yang sehari-harinya bekerja sebagai penagih utang. Akan tetapi, pekerjaan yang mendatangkannya banyak uang ini justru tak membuat sang istri tak senang. Mustaqim lantas memutuskan untuk melakukan poligami dengan Yati, membawa ketiganya dalam masalah baru pada hidup rumah tangga mereka.

madu murni review

Penceritaannya sendiri berpusat pada Mustaqim dalam kehidupannya. ‘Madu Murni’ akan membawa penonton menyelam lebih dalam pada permasalahan sang mantan guru mengaji yang mendadak menjadi tukang tagih utang, hingga dirinya yang harus berkutat dengan kendornya kejantanan pria dan mempengaruhi hidupnya seiring waktu. Semuanya dikemas dengan mulus tanpa tampak celah berarti.

Musfar Yasin dan Monty Tiwa juga tak lupa untuk menghidupkan journey dari Mustaqim dengan deretan kisah selipan menarik seiring hidupnya, seperti dramanya dengan dokter, hingga konflik dengan salah satu pemilik rumah yang dihadang anak-anak jagoannya. Walau begitu, kisah-kisah tersebut tetap terkait dengan premis inti dari ‘Madu Murni’ yang berkutat dengan peliknya poligami dan masalah rumah tangga lainnya.

Sebagai film drama komedi, ‘Madu Murni’ tak lupa untuk menyelipkan elemen jenaka dalam mewarnai kisah-kisahnya. Joke yang diberikan dalam penceritaannya cenderung mengandung elemen dewasa, walau masih di taraf yang consumable untuk penonton umur 13 tahun ke atas. Akan tetapi, komedinya cenderung repetitif yang membuat pengalaman menonton menjadi sedikit membosankan.

‘Madu Murni’ sendiri menempatkan pusatnya pada tiga karakter, yakni Mustaqim, Murni, dan Yati. Tiga karakter ini ditampilkan dengan sangat nyata dan menjadi representasi warga kelas menengah ke bawah dengan segala problema rumah tangganya. Belum lagi dengan performa menarik dari trio Ammar Zoni, Irish Bella, dan Aulia Sarah yang berhasil membawa film ini terasa lebih hidup.

Dari segi teknis, tak banyak hal yang menonjol dari ‘Madu Murni’. Sorotan menarik diarahkan pada hadirnya permainan kamera long-take di beberapa bagian film, membuat konflik dari adegan tersebut terasa multi-dimensi.

Pada akhirnya, ‘Madu Murni’ menampilkan poligami yang hangat diperbincangkan sebagai cerminan bagi rumah tangga bagi masyarakat segala lapis sosial. Walau begitu, komedinya yang repetitif bisa jadi membuat penonton mudah bosan walau hadirnya berbagai karakter dan subplot terasa berhasil menghidupkan film Monty Tiwa kesekian ini.

Galih Dea

Bachelor of Computer Science with interest in content writing. Passionate in movie, game, and technology.

Share
Published by
Galih Dea