Connect with us
Ma Rainey’s Black Bottom Review
Netflix

Film

Ma Rainey’s Black Bottom Review

Kisah di balik track blues karya penyanyi Gertrude Ma Rainey.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Gertrude Pridgett alias Gertrude Ma Rainey merupakan salah satu penyanyi blues generasi pertama yang berjaya pada tahun 1920-an di Amerika Serikat. Ia telah merekam beberapa track original populer seperti ‘Bo-Weevil Blues’, ‘Moonshine Blues’, ‘See See Rider Blues’, dan ‘Ma Rainey’s Black Bottom’ yang akhirnya diangkat sebagai film oleh sutradara George C. Wolfe, dibintangi oleh Viola Davis dan Chadwick Boseman.

“Ma Rainey’s Black Bottom” melangsungkan proses syuting sejak Juli 2019 hingga Agustus 2019, membuat film ini menjadi terakhir dari aktor Chadwick Boseman yang meninggal pada 28 Agustus 2020 lalu. Film ini akhirnya dipersembahkan untuk aktor yang sempat populer sebagai T’Challa dalam film “Black Panther”.

Film ini menceritakan proses rekaman track ‘Ma Rainey’s Black Bottom’ di sebuah dapur rekaman di Chicago pada musim panas tahun 1927. Namun film ini memiliki penulisan naskah yang didramatisir dengan beberapa tambahan cerita bersifat fiksi.

Netflix

Eksekusi Akting yang Belum Pernah Kita Lihat dari Viola Davis dan Chadwick Boseman

Kita sudah familiar dengan Viola Davis sebagai pengacara kondang yang cerdas sebagai Annalise Keating dan penampilan di film Fences (2016) yang berhasil memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori Best Supporting Female Actress. Kali ini kita akan melihat gaya akting terbaru dari Viola sebagai Ma Rainey, penyanyi blues dengan suara emas namun perilaku yang kurang menyenangkan sepanjang film.

Dalam film ini, Viola Davis tidak menyanyi melainkan mengandalkan dubbing. Membuatnya harus mampu membawakan gesture maupun attitude menyanyi yang menyakinkan bahwa suara tersebut datang dari dirinya. Viola mampu mengeksekusi tugas tersebut dengan baik.

Sementara Chadwick Boseman mendapatkan peran yang cukup memberikannya kesempatan untuk mengeksplorasi peran pembawaan tokoh Levee Green. Terutama dalam membawakan dialog yang beberapa merupakan narasi cukup panjang, dimana Levee menceritakan sebuah peristiwa yang emosional. Ada kebahagiaan, kegenitan, hingga rasa frustasi akan pengakuan yang sangat diharapkan oleh karakter ini tersampaikan melalui penampilan Chadwick.

Viola Davis in 'Ma Rainey's Black Bottom'.

Netflix

Setiap Babak Menyuguhkan Dialog yang Padat, Namun Bukan Tentang Track Black Bottom

Singkatnya, film ini memiliki plot singkat yaitu Ma Rainey yang hendak merekam track ‘Ma Rainey’s Black Bottom’ dengan sebuah band yang senantiasa mengiringinya. Film ini menimbulkan ekspektasi akan tipikal film dalam satu lokasi dengan materi yang padat akan sebuah objektif yang simple. Namun, ada sesuatu yang terasa kurang dari film ini dengan ekspektasi tersebut.

Film ini jelas bukan film biografi dengan judul lagu seperti “Bohemian Rhapsody” (2018) atau “Get On Up” (2014). “Ma Rainey’s Black Bottom” secara spesifik hendak mengungkap proses rekaman track tersebut, karena kita akan mendapat sedikit tentang Ma Rainey. Salah satu hal menarik yang akan kita dapatkan dari Mother of Blues dari film ini adalah bagaimana Ia tahu apa yang dapur rekaman kapitalisme inginkan dari dirinya, kemudian bagaimana Ia menyikapi fakta tersebut. Membuat kita kemudian akan memaklumi penokohannya yang cukup bikin gregetan.

Ada banyak babak yang disajikan dan terasa terpisah dalam film ini. Setiap babak tersebut menyuguhkan penulisan dialog dan interaksi yang dinamis. Dialog yang dibawakan memiliki gaya teatrikal ala broadway yang dramatis namun tidak terlihat over-acting, melainkan emosional dan menggugah.

Editing dengan Eksekusi yang Kurang Rapi untuk Mempertahankan Emosi

Salah satu kekurangan dari film ini adalah editing yang terasa kurang rapi dengan transisi yang kurang mulus. Hampir seperti transisi ala sitcom atau serial televisi. Misalkan ada sebuah babak adegan yang berlangsung di basement ruang latihan, kemudian menuju babak berikutnya kita akan melihat potongan gambar yang menunjukan suasana di luar studio yang ramai dengan kendaraan. Pola transisi ini cukup sering diterapkan dalam editing secara keseluruhan.

Hal tersebut membuat setiap babak hanya memberikan kesan pada saat itu saja, bukan perasaan yang akan terjaga sepanjang film berjalan. Apa yang kita rasakan pada sebuah babak, akan hilang ketika memasuki babak baru. Begitu juga yang terlihat dalam interaksi setiap karakter dalam film ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect