Connect with us
Little Big Women
Netflix

Film

Little Big Women: Cerita Para Perempuan dan Cara Menyembuhkan Diri dengan Memaafkan

Menyoroti hubungan seorang ibu dan ketiga anaknya setelah kematian sang ayah.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Beberapa tahun belakangan, kemunculan film-film Taiwan seperti “The Falls” (2021) atau “A Sun” (2019) sukses menarik perhatian pecinta sinema dunia. Mengangkat cerita-cerita khas masyarakat Asia dengan segala problematika kehidupannya, film-film ini dianggap bisa menangkap fenomena sosial melalui kaca mata paling jujur.

Pada akhir tahun 2020 lalu, Joseph Chen-Chieh Hsu ikut meramaikan industri film Taiwan dengan membuat versi panjang dari sebuah film pendek berjudul “Guo Mie” (2017). Film dengan tajuk “Little Big Women” ini menceritakan keluarga pemilik restoran legendaris di Tainan dan masalah-masalah masa lalunya yang menguak kembali.

Little Big Women

Dimulai dengan Kabar Duka yang Membuka Rahasia Masa Lalu

Tepat pada hari perayaan ulang tahun ke-70, Lin Shoying (Chen Shu-Fang) dikejutkan dengan kabar kematian suaminya yang sudah lama menghilang. Prosesi pemakaman sesuai tradisi setempat bisa menghabiskan waktu selama berhari-hari, rentang waktu tersebut menjadi babak baru hubungan Lin Shoying dengan ketiga putrinya yang sudah tumbuh dewasa.

Pada masa persiapan pemakaman itu juga, Lin Shoying harus menerima kenyataan bahwa suaminya memiliki orang lain yang menemaninya sampai akhir hidupnya, seorang wanita yang jauh lebih muda darinya dan memiliki kepribadian baik, bernama Tsai Meilin (Ding Ning).

Interaksi antara Lin Shoying dengan ketiga putrinya di pemakaman serta keinginannya mencari tahu tentang Tsai Meilin, pada akhirnya membuka luka-luka lama yang sebelumnya hanya tersimpan dalam hati.

Little Big Women

Cerita Tiga Bersaudara dengan Permasalahannya Masing-masing

Selain didominasi dengan cerita penyembuhan diri Lin Shoying, “Little Big Women” juga menyoroti kisah tiga bersaudara yang sedang kehilangan seorang ayah. Perkembangan karakter dari tiga wanita dewasa ini mungkin bisa terbilang lambat dan terlalu kompleks, namun teka-teki tentang sifat masing-masing wanita ini memang cukup mengejutkan.

Sebagai putri sulung, Ching (Hsieh Ying-Xuan) mematahkan tradisi pengemban tanggung jawab keluarga, karena sifatnya yang terbilang paling bebas dari adik-adiknya. Ia adalah seorang cancer sufferer sekaligus wanita yang sedang diambang perceraian.

Chen Wan-Yu (Vivian Hsu) berperan sebagai anak tengah penurut yang memiliki masa depan gemilang sebagai seorang dokter. Siapa sangka dia memiliki perasaan tertekan karena selalu menjadi tameng keluarga sebagai ikon “anak baik-baik, pintar, dan membanggakan”.

Chen Wan-Jia (Sun Ke-Fang) mengisi peranan anak bungsu yang mewarisi restoran keluarga, tampak luarnya yang polos ternyata sangat mengejutkan, selama ini Chen Wan-Jia menjalin hubungan dekat dengan kekasih ayahnya, Tsai Meilin.

Kisah tiga saudara ini sesekali nampak renggang namun akan kembali menghangat di waktu-waktu yang tepat. Penonton disajikan dengan ikatan persaudaraan yang sangat normal dan menyentuh melalui hubungan ketiganya.

Mengangkat Kisah Kehidupan Keluarga Asia

“Little Big Women” menghadirkan ciri khas film-film Asia yang menonjolkan elemen-elemen budaya ketimuran. Akan tetapi, unsur ini dibuat dalam format kritik sosial. Seperti misalnya pernyataan Chen Wan-Yu yang bosan menjadi penurut dan ingin menjalani hidup bebas seperti kakaknya, atau bagaimana komedi spiritual ditampilkan melalui adu doa yang berlangsung pada proses pemakaman.

Film ini juga banyak menyoroti sensitivitas perasaan manusia, khususnya sakit hati seorang ibu yang merasa kurang dihargai oleh anaknya, tipikal orang tua Asia pada umumnya. Atau tentang ungkapan-ungkapan rasa bersalah sebagai cara menebus dosa-dosa di masa lalu. Tanpa berbelit-belit “Little Big Women” bisa menciptakan rasa penyesalan dan leburan rasa bersalah melalui proses memaafkan, hal itu tergambar jelas pada ending scene film ini.

Salah Satu Film Bersinar di Golden Horse Awards 2020

Sebagai film yang bercerita tentang seorang perempuan dan ketiga anaknya yang bersama-sama melalui masa sulit, penulis naskah “Little Big Women” terbilang cakap membagi porsi tokoh-tokoh sentral dengan masalahnya masing-masing. Bahkan tokoh putri Chen Wan-Yu, Clementine (Buffy Chen) juga diberikan ruang untuk masuk dalam konflik dengan nenek dan bibi-bibinya.

Tidak mengherankan jika film ini mendapat perhatian besar, karena selain menawarkan cerita tentang masalah keluarga yang dibungkus dengan penuh kehangatan, “Little Big Women” juga menampilkan banyak aktor-aktor berbakat Taiwan. Bahkan berkat perannya sebagai Lin Shoying, Chen Shu-Fang berhasil membawa pulang piala kemenangan dalam kategori Leading Actress pada Golden Horse Awards 2020.

Secara garis besar film ini adalah sajian drama keluarga yang cukup emosional dan mampu membuat sesak di dada. “Little Big Women” sudah bisa disaksikan di Netflix sejak awal 2021 lalu.

Triangle of Sadness Triangle of Sadness

Triangle of Sadness Review: Satir Tentang Kesetaraan Duniawi

Film

first blood 1982 first blood 1982

First Blood Review: Awal Perjuangan Rambo Menghadapi Trauma Perang 

Film

Slumberland Review Slumberland Review

Slumberland Review: Petualangan Nemo & Flip Lari dari Kenyataan

Film

The Holiday The Holiday

The Holiday Review: Tontonan Musim Liburan yang Ringan & Romantis

Film

Connect