Connect with us
Limbo Review
Cr. Protagonist Pictures

Film

Limbo Review: Kisah Pengungsi Suriah Hidup Dalam Ketidakpastian di Skotlandia

Tragedi komedi dengan arahan visual surealisme dan naskah offbeat.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Limbo” (2020) merupakan film drama komedi Inggris yang disutradarai oleh Ben Sharrock. Menceritakan kisah Omar (Amir El-Masry), seorang pemuda dari Suriah yang mengungsi ke Skotlandia karena perang. Tidak sendirian, ia singgah di pulau terpencil bersama pengungsi lainnya, Farhad (Vikash Bhai), Wasef (Ola Orebiyi) dan Abedi (Kwabena Ansah).

Mereka singgah di pulau terpencil dengan fasilitas terbatas. Menghabiskan waktu di rumah singgah belajar bahasa Inggris dengan menonton “Friends”, menghadiri kelas pelajaran etika dan budaya dan memanfaatkan barang-barang dari pusat donasi. Tidak bisa bekerja sebelum mendapatkan suaka,Omar hidup luntang-lantung dalam ketidakpastian, seperti berada dalam limbo.

Film drama yang masuk dalam Official Selection di Cannes Film Festival 2020 ini akhirnya sudah bisa di-streaming di Netflix.

Ketika Pengungsi Menghadapi Ketidakpastian Nasib di Tanah Orang

Sesuai dengan judulnya, menonton film ini dari awal hingga akhir akan terasa seperti berada dalam limbo. Memilih sudut pandang seorang pengungsi untuk membahas topik tentang ‘ketidakpastian’ merupakan pilihan paling tepat. Isu ini juga masih menjadi yang relevan dengan keadaan dunia di zaman sekarang, dengan perang di beberapa belahan dunia, atau kisah imigran yang ingin mendapatkan kehidupan lebih baik dengan merantau.

“Limbo” mengandung pembahasan isu sosial dan krisis kehidupan yang termasuk serius. Sudah menjadi ciri khas komedi Inggris untuk membalut cerita serius dengan materi humor yang offbeat. Beberapa menit awal film mungkin akan terasa absurd dan mengintimidasi, terutama buat yang bukan penggemar film bergenre offbeat atau lebih sering kita sebut sebagai arthouse. Namun tidak lama sampai plot “Limbo” mulai terlihat normal. Film ini bukan termasuk yang terlalu absurd untuk dipahami.

Daripada absurd, film ini lebih tepat disebut sebagai karya bergaya surealisme. Unsur-unsur realistisnya masih sangat terasa, berpadu dengan cita rasa yang ‘janggal’ karena gaya komedinya yang quirky. Film ini tidak ingin menyepelekan maupun mendramatisir isu serius yang menjadi intisari ceritanya, karena begitulah rasanya berada di dalam ketidakpastian; suam-suam kuku, jelas bukan posisi yang menyenangkan, namun tidak juga terlalu menyedihkan maupun genting.

Kisah Omar sebagai Pengungsi yang Rindu Keluarga

Ada banyak pengungsi, namun plot lebih fokus pada karakter Omar. Omar meninggalkan kampung halaman dan keluarga yang ia cintai karena perang. Ia adalah musisi yang memainkan oud, instrumen tradisional Suriah. “Limbo” merupakan tipikal film dengan narasi ‘show, don’t tell’. Kita akan memahami situasi Omar melalui berbagai sekuen adegan. Mulai dari hubungannya dengan keluarga, perkembangan interaksinya dengan sesama pengungsi, hingga ketika ia sedang rindu rumah.

Komedi yang diaplikasikan bukan materi komedi yang akan bikin penonton tertawa terbahak-bahak, namun cukup untuk membuat film jadi memiliki cita rasa unik, tidak muram melulu karena topiknya yang cukup suram. Ada cukup banyak adegan-adegan yang bikin tersentuh dan haru. Seperti ketika Omar menelpon orang tuanya secara berkala. Setiap sesi telpon juga tak sekadar menunjukan hubungan Omar dengan orang tuanya, ada juga perkembangan plot yang bisa kita tangkap.

Kemudian kisah persahabatan Omar dengan Farhad yang menarik untuk diikuti. Terkadang interaksi mereka lucu, namun ada juga ketika mereka berbagi lara sebagai pengungsi yang menanti kepastian. Setiap pengungsi yang satu urmah singgah dengan Omar juga memiliki latar belakang dan anggan masing-masing. Disajikan dengan singkat dan padat, namun cukup untuk meninggalkan kesan pada penonton hanya dengan menyimaknya.

Sinematiografi Ala Wes Anderson Versi Kelabu Bergaya Suriealisme

Sinematografi “Limbo” terlihat seperti lukisan surealisme. Didominasi dengan panorama alam Skotlandia di pulau terpencil. Minim populasi, setiap bangunan memiliki jarak yang jauh, terlihat sepi dan ‘tidak nyata’. Membuat kita merasa terisolasi dan asing serta bertanya-tanya; apa ada tempat seperti ini? Namun tidak terlalu absurd untuk menjadi nyata.

Sedikit terasa seperti sinematografi khas Wes Anderson yang didominasi dengan still image dan panning yang simetris, hanya saja lebih suram dan kelabu. Visual ini juga yang membuat film terlihat seperti limbo.

Secara keseluruhan, “Limbo” merupakan film dengan aplikasi tema yang konsisten. Mulai dari plot, perkembangan karakter, sinematografi. Ini adalah film tentang limbo, tentang hidup dalam ketidakpastian yang suam-suam kuku. Bisa jadi tontonan yang reflektif dan  menetralisir dengan ketenangannya.

Lost in Translation & Her: Kesepian dan Perpisahan dari Dua Perspektif

Film

Siksa Kubur & Badarawuhi di Desa Penari: Rayakan Lebaran dengan Film Horor Lokal

Entertainment

Monkey Man Monkey Man

Film & Serial Terbaru April 2024

Cultura Lists

Perfect Days Perfect Days

Perfect Days: Slow Living & Komorebi

Entertainment

Connect