Connect with us
Kisah Para Preanger Planters Review

Books

Kisah Para Preanger Planters Review

Siapa sangka, dulunya tanaman teh dijadikan tanaman hias yang populer di Batavia.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Her Suganda adalah nama seorang jurnalis yang bekerja di Jakarta sejak 1965. Namanya memang unik. Begitu pula buku yang ia tulis. Ia menulis sejarah para pengusaha teh yang sukses di Priangan. Sebenarnya bukan kali ini saja ia menulis buku sejarah atau yang berkaitan dengan tanaman. Beberapa tulisannya yang lain adalah Mencari Sejarah Sunda, Robohnya Lumbung Kami-Kasus Petani Kabupaten Karawang, dan Jejak Sukarno di Bandung. Namun Kisah Para Preanger Planters mungkin bukunya yang paling unik.

Kita akan dibawa Suganda menelusuri sejarah berhektar-hektar perkebunan teh di Indonesia. Dulu, orang Belanda ingin ikut meneguk kesuksesan berdagang teh seperti negara-negara lain. Saingannya adalah China, Jepang, Korea, dan India. Saat itu tanaman teh masih belum dianggap sebagai tanaman pangan. Pohon teh hanya dijadikan tanaman hias. Tumbuhan yang bisa tumbuh setinggi enam meter itu malah dipangkas hingga hanya berukuran satu meter dan dipelihara layaknya bonsai.

Jcobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson yang merupakan pakar teh dari Belanda lalu mengunjungi China. Ia kemudian pergi ke Indonesia, membawa 7 juta biji bibit teh beserta 15 orang China untuk dipekerjakan di perkebunan teh. Namun buruh-buruh dari China itu melakukan pemberontakan. Korban jiwa pun berjatuhan. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu orang meninggal. Tak jelas jumlahnya karena kerangka mereka ditemukan menumpuk dalam lubang serupa sumur.

Setelah insiden berdarah itu dan terjadi revolusi di bidang pertanian berupa Undang-undang Agraria, perkebunan kini dikelola pihak swasta. Perkebunan bukan lagi di tangan pemerintah Belanda. Tetapi tentu saja yang dimaksud pihak swasta di sini adalah orang-orang Belanda yang memiliki modal. Orang-orang Priangan yang pada masa itu adalah peladang berpindah kini menetap menjadi buruh di kebun teh. Masyarakat setempat mendapat imbasnya dengan ekonomi yang mandek. Sementara orang-orang Belanda menjadi kaya raya hingga menumbuhkan dinasti pengusaha perkebunan teh.

Tak hanya data yang kaya dan cara menceritakan yang menarik, Suganda juga berhasil membuat kita terpaku dengan kenyataan yang tak kita tahu sebelumnya. Apa yang diceritakan Suganda bisa jadi tak kita baca di buku-buku sejarah di bangku sekolah. Kita hanya sebatas familiar dengan istilah tanam paksa. Kita tak tahu bagaimana Belanda melakukan liberalisasi ekonomi melalui Undang-undang Agraria sehingga para petani yang dulunya berpindah-pindah harus merelakan tanahnya dan menjadi buruh. Kalau bukan karena Suganda kita juga mungkin tak akan pernah tahu bahwa orang Belanda yang membawa orang China untuk menjadi buruh di sini.

Sebagai seorang jurnalis yang telah bekerja selama puluhan tahun maka kemampuan bercerita Suganda tak perlu diragukan. Walaupun informasi yang ada di dalamnya pun sedikit berbelok pada hal di luar teh, nyatanya informasi itu begitu memukau kita. Tentu dibutuhkan kerja keras yang luar biasa hingga Suganda dapat mengumpulkan potongan-potongan informasi demi menulis buku ini. Tak hanya perlu dibaca oleh pecinta sejarah, Kisah Para Preanger Planters ini juga patut diketahui kita sebagai bangsa peminum teh. Ada fakta sejarah mengenai alasan mengapa kita menjadi peminum teh.

Kisah Para Preanger Planters

Mungkin kalau bukan karena ambisi Belanda mengalahkan negara-negara penghasil teh lainnya, kita tidak akan memiliki perkebunan teh sebanyak ini. Mungkin kalau tidak ada liberalisasi ekonomi, orang-orang di Jawa Barat masih membuka ladang tanpa menetap. Bahkan bila dulu perdagangan kopi tidak lesu, kita takkan akrab dengan teh. Ada banyak sebab akibat dan hal menarik di balik sejarah segelas teh. Kisah Para Preanger Planters sangat patut masuk ke dalam daftar koleksi bacaan kita.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect