Connect with us
Kill Boksoon
Netflix

Film

Kill Boksoon Review: Ibu Tunggal yang Bekerja sebagai Pembunuh Bayaran

Film action bermuatan drama parenting yang kurang fokus dalam menentukan plot.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Kill Boksoon” merupakan film action drama Korea terbaru di Netflix. Disutradarai oleh Byun Sung-hyun, dibintangi oleh Jeon Do-yeon sebagai Gil Boksoon.

Boksoon adalah pembunuh bayaran handal yang bekerja di organisasi bernama MK. Dalam semesta action ini, ada dua jenis pembunuh bayaran; ‘pengangguran’ yang bekerja sendiri tanpa aturan dan pembunuh bayaran profesional yang bekerja di agensi besar seperti MK. Boksoon adalah aset terbaik MK.

Selalu unggul dalam menuntaskan misi dan tidak pernah gagal, membunuh orang bukan pekerjaan yang sulit baginya. Justru perannya sebagai ibu tunggal lah yang tidak mudah untuk dijalani.

Tak hanya memuat genre action, “Kill Boksoon” juga memadukan drama parenting dalam plotnya. Bagaimana usaha Boksoon menyeimbangkan perannya sebagai ibu sekaligus aset terbaik MK.

Kill Boksoon

Kill Boksoon, Pembunuh Terbaik Alami Kesulitan Memahami Anaknya

Kita diperkenalkan oleh Boksoon terlebih dahulu sebagai pembunuh handal. Memiliki kemampuan bertarung yang fleksibel serta mampu membaca gerakan lawan. Menjadi salah satu ciri khas dalam “Kill Boksoon”, bahwa Boksoon memiliki kemampuan untuk memperkirakan gerakannya, diikuti dengan hasilnya. Hal itu diperlihatkan sebagai salah satu kemampuannya. Hingga akhirnya kembali ke rumah dan menerapkan metode yang sama ketika berkomunikasi dengan anaknya (Kim Si-a), namun tidak terlalu berhasil seperti ketika ia sedang bekerja.

Akhirnya kita melihat konflik utama dalam film ini adalah bagaimana Boksoon masih ingin bekerja sekaligus menjadi ibu yang baik. Sayang sekali porsi Boksoon tampil sebagai ibu terlalu minim. Padahal adegan seperti ketika ia sedang bersosialisasi dengan ibu-ibu teman anaknya jadi adegan yang menarik.

Kita memahami, bagaimana Boksoon juga menyayangi putrinya lepas dari bagaimana ia terlihat tidak memahami anaknya sendiri. Namun naskah tidak terlalu memberikan ruang untuk memperlihatkan, seberapa besar sebetulnya Boksoon menyayangi anaknya.

Setidaknya poinnya dapat bahwa dengan memiliki anak, cukup mempengaruhi aksinya sebagai pembunuh bayaran. Serta pesan akan bagaimana anak mau terbuka pada orang tua mereka jika orang tuanya sendiri menyimpan rahasia.

Kill Boksoon

Sajian Adegan-adegan Bertarung Dinamis dan Brutal

Sebagai film action, “Kill Boksoon” sajikan berbagai adegan aksi bertarung penuh kekerasan dan kebrutalan. Jarak antar setiap adegan bertarung yang dinamis memiliki jarak yang ideal, karena selingan dramanya. Jadi tidak terlalu intens secara keseluruhan.

Setiap adegan bertarung dikemas dengan rapi, menunjukan kualitas bertarung dari masing-masing karakter penting, terutama Boksoon. Adapula adegan bertarung Cha Min-kyu (Sol Kyung-gu) yang penting untuk ditampilkan.

Sayangnya, babak pertarungan yang memiliki ekspektasi besar pada babak terakhir terasa antiklimaks setelah building character selama dua jam. Setidaknya ada dua adegan bertarung dengan skala cukup besar karena melibatkan lebih dari dua orang, yang dieksekusi dengan sangat memikat.

Memuat Banyak Cerita Namun Minim Elaborasi

“Kill Boksoon” sebetulnya memiliki judul yang cukup misleading. Karena plot baru terlihat sesuai dengan judulnya setelah satu jam durasi film. Pada akhirnya juga bukan menjadi konflik utama pula. Selain Boksoon sebagai protagonis, semesta underworld criminal dalam film ini juga menarik.

Cukup serupa dengan John Wick dengan Continental Hotel-nya, Boksoon adalah pembunuh bayaran yang bekerja untuk agensi besar bernama MK. Menerima pekerjaan hanya dari client-client besar, memiliki sistem magang, dan peraturan layaknya perusahaan normal pada umumnya.

Namun konsep MK secara keseluruhan juga tidak terlalu dimaksimalkan perannya dalam naskah. Belum lagi hubungan tak biasa antara CEO kayak-beradik Cha Min-hee (Esom) dengan Min-kyu, serta apa hubungannya dengan Boksoon. Pada akhirnya arc dari ketika karakter penting ini presentasinya terlalu klise.

Akhirnya, “Kill Boksoon” menyajikan terlalu banyak arc dan konflik, tidak terlalu fokus untuk pada satu tujuan paling mendasar saja. Entah prioritas Boksoon yang sesungguhnya, atau apapun prioritas dari pihak MK. Film berdurasi dua jam ini tidak memiliki plot yang fokus dan membuat penonton terus merasakan sensasi seakan film ini tak kunjung selesai.

“Kill Boksoon” punya protagonis dengan penampilan yang sudah cukup bagus, action-nya juga sudah dapat. Sayang saja ada banyak potensi yang hanya ditunjukan sedikit porsinya dalam segi cerita.

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Tiger Stripes Tiger Stripes

Tiger Stripes Review: Body Horror Pubertas Akibat Minim Edukasi

Film

What to Stream on Valentine’s Day

Cultura Lists

Orion and the Dark Orion and the Dark

Orion and the Dark Review: Eksplorasi Keindahan dalam Kegelapan

Film

Connect