Connect with us
Kero Kero Bonito

Music

Kero Kero Bonito: Civilisation II EP Album Review

Representasi masa lalu, sekarang, dan masa depan dalam 3 track terbaru.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Civilisation II” merupakan EP lanjutan dari “Civilisation I” yang dirilis oleh Kero Kero Bonito (KBB) pada September 2019 lalu. Sesuai dengan tajuk albumnya, unit hyper-pop domisili London, Inggris ini masih terinspirasi dari peradaban manusia.

Melalui tiga track terbarunya, KBB menulis sebuah kisah dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Baik dalam segi lirik maupun metode produksi musiknya. Masih memperdengarkan musik bergenre synth-pop yang menjadi jati diri KBB, mereka juga terinspirasi oleh konsep musik ‘Fourth World’ dari Jon Hassell dan Brian Eno.

Dalam rekaman musik tersebut kedua musisi meracik ambient music yang berusaha memadukan unsur primitif dan modern menjadi satu. Menciptakan sebuah suara baru yang tidak terbatas oleh waktu dan peradaban. Untuk menciptakan komposisi musik sesuai referensi tersebut, KBB hanya menggunakan hardware lawas untuk memproduksi musiknya.

‘The Princess and the Clock’ merupakan single utama dari EP ini, menjadi awal dari perjalanan kita ke dalam “Civilisation II”. Track ini memiliki lirik yang ditulis seperti sebuah dongeng. Dikisahkan seorang gadis pengembara harus terjebak di sebuah peradaban, meski dipuja oleh banyak orang, Ia merasa terisolasi di menara tinggi. Meski tidak disyairkan secara eksplisit, kisah gadis pengembara tersebut menjadi representasi dari kesepian dan rasa terisolasi. Lagu ini diakui ditulis sebelum masa pandemi, namun pada akhirnya rilis pada momen yang tepat bagi siapapun yang merasa kesepian pada masa karantina.

Meski terdengar seperti musik indie pop masa kini yang jernih dengan berbagai elemen electronic, lagu ini dikomposisi menggunakan hardware vintage. ‘The Princess and the Clock’ terdengar seperti folklore ciptaan KBB yang terasa dari masa lalu, dikemas dengan komposisi synth-pop yang up beat untuk mengiring kisah yang manis getir.

Setelah dibuka dengan track upbeat yang meningkatkan mood, ‘21/04/20’ menjadi track dengan komposisi aransemen ala bedroom pop yang lebih kalem. Memadukan synth dan drum beat 8-bit dengan tempo medium. Lagu ini cukup menonjolkan vokal dari Sarah Perry yang dreamy dengan directing vokal yang lebih variatif dibandingkan dengan dua track lainnya dalam EP ini.

‘21/04/20’ diambil dari sebuah satu hari spesifik yang bisa kita lihat merupakan waktu dimana masa karantina sekitar tanggal tersebut masih memasuki masa-masa awal. Lagu ini menjadi representasi dari masa sekarang, dengan lirik dimana Sarah bercerita tentang serangkaian kegiatan yang dilakukan selama masa karantina di hari tersebut, mulai dari matahari terbit hingga terbenam.

‘Well Rested’ merupakan track penutup dengan komposisi musik yang paling eksperimental dan mengandung banyak unsur suara. Lagu ini merupakan versi remix dari koleksi track lawas mereka, ‘Rest Stop’ dari album kedua, “Time ‘n’ Place”. Dengan panjang track selama 7 menit, KBB mengaransemen ulang lagu satu ini menjadi track EDM dengan banger dan komposisi yang membuat pendengarnya berdendang.

Melalui lirik tentang nasib peradaban manusia dan kebangkitan, track ini menjadi representasi dari masa depan. Bagai lingkaran kehidupan dan teori akan alam semesta yang telah berhasil bertahan melalui banyak apocalypse. Diakhiri dengan suara gemericik air dan cuitan burung yang terasa seperti kehidupan baru yang dimulai kembali.

Jika digabungkan, mulai dari ‘The Princess and the Clock’, ‘21/04/20’, hingga ‘Well Rested’, merupakan tracklist dengan kesinambungan; menjadi simbol dari siklus peradaban manusia yang terus terulang.

Kero Kero Bonito telah merilis “Civilisation II” pada momen yang tepat. Berada di salah satu situasi dunia yang monumental, album ini menjadi satu paket dongeng tentang peradaban manusia dari berbagai dimensi waktu.

Meski merupakan angkatan band hyper-pop modern, KBB merupakan salah satu unit electronic yang kerap menghasilkan musik quirky dengan sentuhan ethnic, menciptakan peradaban musiknya sendiri.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect