Film

Isle of Dogs Review: Politik Kekuasaan dan Diskriminasi pada Anjing

Persembahan Wes Anderson sebagai pecinta anjing dan kebudayaan Jepang. 

“Isle of Dogs” (2018)  merupakan film animasi Wes Anderson bergenre komedi petualangan. Kali ini, Anderson menuangkan rasa cintanya pada kebudayaan Jepang dan binatang anjing. Berlatar di prefektur fantasi retro-futuristik, Megasaki, Kenji Kobayashi (Kunichi Nomura) adalah walikota pecinta kucing. Ia membuang semua anjing di kotanya ke Trash Island karena wabah flu anjing.

Atari Kobayashi (Koyu Rankin), keponakan walikota, kabur ke Trash Island untuk mencari anjing penjaga sekaligus sahabatnya, Spots. Disambut oleh sekelompok anjing alfa, Atari memulai petualangannya mencari Spots. Selagi Ia mencari anjing kesayangannya, walikota semakin gencar mendiskriminasi anjing dengan berbagai propagandanya.

“Isle of Dogs” sendiri ternyata merupakan gagasan naskah yang sudah disimpan Anderson sejak lama. Ia mendapatkan inspirasi ketika melihat plang ‘Isle of Dogs’ di Inggris ketika Ia sedang mengembangkan “Fantastic Mr. Fox” (2009), yang juga merupakan film animasi stop-motion.

Isle of Dogs

Film yang Berpihak pada Sudut Pandang Anjing sebagai Kaum Tertindas

Eksistensi anjing dalam naskah menjadi fokus utama “Isle of Dogs”. Ada banyak bintang Hollywood mengisi suara setiap karakter anjing dalam film ini. Chief menjadi karakter anjing protagonis yang di-dubbing oleh Bryan Cranston. Kemudian ada Edward Norton sebagai Rex, Bob Balaban sebagai King, Jeff Goldblum sebagai Duke, dan Bill Murray sebagai Boss. Tak ketinggalan Scarlett Johansson sebagai pengisi suara Nutmeg, anjing betina yang tangkas sebagai anjing kontes.

Setiap karakter anjing dibekali penokohan dan latar belakang yang menarik, semakin hidup dengan karakteristik suara yang dieksekusi oleh setiap aktor. Membuat sederet karakter fabel dalam naskah ini lebih menonjol ketimbang karakter-karakter manusia yang justru menjadi karakter pendukung. Kebanyakan karakter manusia, yang didominasi oleh karakter Jepang tampil dengan dialog dalam bahasa asli tanpa subtitle. Meski ada beberapa adegan yang tampil dengan terjemahan bahasa Inggris.

Eksekusi ini telah memberi kelebihan sekaligus kelemahan. Dengan komitmen latar film di Jepang, “Isle of Dogs” menjadi persembahan yang tulus dan otentik. Berbeda dengan animasi Hollywood yang selalu menggunakan bahasa Inggris meski mengadaptasi budaya negara lain. Namun, kekurangannya mungkin beberapa penonton jadi kesal karena ada beberapa adegan yang benar-benar tidak diberi terjemahan. Kita jadi tidak paham sepenuhnya dialog karakter tertentu, dimana penting untuk memahami penokohan secara keseluruhan.

Hanya karakter-karakter anjing yang gonggongannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (klaim film pada opening credit). Oleh karena itu, kita akan dibuat lebih paham dan simpati pada karakter anjing dalam “Isle of Dogs”. Karena pada akhirnya, naskah lebih ingin menyampaikan aspirasi para anjing yang menjadi korban diskriminasi pada skenario fantasi ini.

Isle of Dogs

Animasi Stop-Motion Juara dan Sinematografi Simetris Khas Wes Anderson

“Isle of Dogs” merupakan animasi stop-motion terbaik bahkan hingga saat ini. Buat penggemar animasi artistik, dijamin akan menikmati setiap frame dalam film ini. Apalagi didukung dengan musik latar bertema Jepang yang menggebu-gebu dengan taiko-nya. Meski sekarang eranya sudah serba animasi 3D, animasi stop-motion masih bisa jadi juara jika dikerjakan dengan penuh dedikasi akan detail.

Dengan sikap sutradara perfeksionis dan simetris khas Wes Anderson, “Isle of Dogs” memiliki gerakan animasi yang detail. Selain bermain dengan tekstur, frame yang statis bisa terasa hidup dengan permain perspektif. Salah satu trik yang artistik adalah zoom in dan zoom out kamera yang membuat setiap frame terlihat lebih berdimensi. Pada beberapa adegan monumental juga ditandai dengan detail animasi dan musik yang lebih semarak.

Bagi penggemar cinematik Wes Anderson, pasti tetap bisa merasakan signature dari sutradara quirky ini. Meskipun film ini berbentuk animasi, naskah, selera humor, dan produksi desain secara keseluruhan tetap terasa Wes Anderson banget.

Referensi Kebudayaan Jepang yang Mendominasi Keseluruhan Produksi

Memilih kebudayaan Jepang sebagai latar cerita filmnya merupakan keinginan Anderson yang telah menjadi nyata. Rasa kagum tersebut benar-benar bisa kita lihat dari visual dan berbagai elemen yang melengkapi animasi ini. Mulai dari keputusan untuk menggunakan bahasa Jepang tanpa subtitle, bekerja sama dengan aktor-aktor Jepang. Hingga musik, estetika dan aset visual variatif yang diimplementasikan dengan cara kreatif. Tak sekadar ada di sana hanya untuk meneriakan ‘Jepang’.

“Isle of Dogs” bisa menjadi tontonan animasi yang menyenangkan untuk orang dewasa dan anak. Bagi penonton usia dini, animasi ini adalah petualangan bocah laki-laki mencari anjing kesayangannya. Plotnya kronologis dengan satu dua adegan flashback yang tidak akan membuat penonton bingung. Sementara bagi kita penonton dewasa, ada unsur sosial hingga propaganda politik terselubung yang menyenangkan untuk disimak. “Isle of Dogs” bisa di-streaming di Disney+ Hotstar.

Bernadetta Yucki

Writer, hardcore movie enthusiast who believes in pop culture.

Share
Published by
Bernadetta Yucki