Connect with us
IQIF: Debut Sebagai Solois dengan Before It's Too Late & Burn Me Down
Photo via Press

Music

IQIF Debut Sebagai Solois dengan Before It’s Too Late & Burn Me Down

Rilis short film dan lagu sebagai awal solo karir di industri musik.

IQIF akhirnya debut sebagai solois beraliran Indie Rock dengan meluncurkan dua single perdana, “Before It’s Too Late” dan “Burn Me Down” pada 27 Maret 2020 lalu.

IQIF telah berkecimpung dalam industri sejak tahun 2008 bersama dengan kakaknya dalam sebuah band bernama Stereocase. Ia menjadi penulis lagu dan pemain drum dalam band tersebut. IQIF telah mencintai dunia musik sejak kecil karena terlahir dalam keluarga dengan latar belakang tersebut. Kerap mendengar musik Classic Rock dan melihat ayahnya manggung sebagai drummer, membuat IQIF terinspirasi untuk menjadi seorang musisi.

Tahun 2020 menjadi langkah awal bagi IQIF sebagai solois yang sedang bersiap untuk merilis album pertamanya bertajuk “No.1”. Single “Before It’s Too Late” dan “Burn Me Down” jelas akan masuk dalam album perdananya ini. Sebagai karya perdana, ia menggandeng banyak musisi berbakat lainnya untuk memaksimalkan album ini. Mulai dari Adityar Andra sebagai produser yang telah memproduseri beberapa musisi lokal lainnya seperti Kenny Gabriel, Neonomora, Sita Marino, dan musisi lainnya. Neonomora juga ambil bagian sebagai Art Director untuk album No.1.

Menuangkan Pemikiran Pribadi Melalui Short Film “Before It’s Too Late”

“Before It’s Too Late” merupakan single instrumental pendek tanpa lirik yang dirilis dalam bentuk short film di YouTube. Film dengan sinematografi bergaya retro dan indie ini dilengkapi dengan narasi bahasa Inggris yang berisi ungkapan pribadi dari IQIF.

Rapper ShotgunDre, dipilih sebagai pengisi narasi dalam track “Before It’s Too Late”. Tentang bagaimana ia berjuang pada hari-hari sulit ketika ia dihadapkan oleh tanggung jawab dan mimpi. Hingga pada akhirnya IQIF menyatakan bahwa bermusik merupakan hal yang ia pilih untuk menjalani hidup. Ia juga ingin musiknya dapat menjangkau orang-orang yang mengalami perdebatan batin serupa.

Pada bagian akhir film, kita bisa mendengar instrumental gitar pendek sebagai klimaks dalam pesan IQIF bagi pendengarnya untuk tidak mudah menyerah untuk mengejar mimpi.

Topik tentang mengejar mimpi atau menjalani passion sudah menjadi subjek yang sering diadaptasi oleh banyak musisi. Namun, dengan eksekusi dan kemasan yang berbeda, membuat karya-karya seperti ini selalu bisa diterima oleh penikmat seni dalam bentuk apa pun.

Bicara soal ‘passion’ selalu menjadi topik yang relevan bagi setiap orang. Melihat pesan dengan topik ini dalam format yang baru selalu menjadi pengingat untuk kita dalam menjalani hidup. “Dari awal gue sudah kepikiran buat lagu ini sebagai penanda dimulainya album gue. Dimana secara musik cukup mempresentasikan album gue secara keseluruhan baik dari sisi karakter musik, sound, mood dan lain-lain”, ungkap IQIF.

IQIF Burn Me Down

IQIF – Burn Me Down

Curhat Melalui Lagu Burn Me Down

“Burn Me Down” merupakan single utama dari album ‘No.1’, terinspirasi dari sebuah film yang pernah IQIF tonton. Lagu ini diciptakan pada 2019 lalu dengan bantuan seorang teman yang merupakan seorang copywriter yaitu Reisha Sinulingga. IQIF menuangkan curhatannya pada Reisha untuk diubah dalam sebuah lirik yang lebih catchy.

“Lagu ini sebenarnya adalah potongan cerita dari curhatan hidup gue. Bahwa di setiap fase kehidupan manusia akan selalu ada tantangan dan dinamikanya. Gue pengen meng-encourage orang untuk jangan pernah menyerah, There’s nothing that can burn you down”, begitu penjelasan IQIF tentang pesan yang ia ingin sampaikan pada lagu “Burn Me Down.”

“Burn Me Down” memiliki aransemen musik Indie Rock yang up beat dibawakan dengan warna vokal IQIF yang nge-rock dan powerful dengan chanting yang bersemangat. Komposisi riff gitar yang dominan dengan efek distorsi menciptakan warna musik Garage Rock yang sesuai dengan karakter vokal IQIF.

Tak murni Garage Rock, musik dikemas dengan mastering yang memberikan sentuhan electro sangat samar untuk melembutkan instrumen rock yang cenderung menghasilkan suara “kasar” dan raw. Namun, hal tersebut membuat instrumen drum terdengar seperti teredam.

Rhythm maupun melodi gitar yang ada dalam aransemen “Burn Me Down” jadi terasa ‘pincang’ tanpa hentakan drum yang sebetulnya bisa lebih otentik tanpa efek electric. Padahal secara flow dan directing vokal secara keseluruhan telah memiliki vibe Rock yang mantap.

“Gue ingin agar pesan di album ini tersampaikan kepada siapapun yang nanti akan mendengarkannya. Bahwa there’s so many negativity in this world, dan gue akan sangat happy bisa jadi bagian yang ‘spread the positivity’ karena gue pernah mengalami sendiri, kadang-kadang hal seperti itu mesti diingatkan”, begitu harapan IQIF untuk album solo debutnya, No.1 yang akan rilis pada pertengahan tahun ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect