Connect with us
Into The Ring Review

TV

Into The Ring Review

Seorang warga teladan mencoba peruntungannya terjun ke dunia politik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Into the ring merupakan sebuah idiom yang mengambarkan seseorang memasuki sesuatu secara antusias. Misalnya masuk ke dunia politik. Sebenarnya Into The Ring memiliki judul lain. Bagi penonton dengan Bahasa Inggris, drama ini disebut sebagai Memorials atau The Ballot. Walau poster dramanya lebih menekankan sisi romance tapi sebenarnya tidak demikian. Into The Ring merupakan drama politik yang berbalut komedi kental. Rencananya drama ini tayang sebanyak 32 episode.

Goo Se Ra sebenarnya sudah berusia 29 tahun. Usia yang matang, bukan usia anak sekolahan. Tapi ia belum mampu menopang hidupnya sendiri. Masih tinggal dengan orangtua dan kerja serabutan. Namun ia diberi penghargaan sebagai warga teladan di distrik Mawon-gu. Ini karena ia sangat-sangat rajin mengajukan keluhan masyarakat sipil ke kantor pemerintahan setempat. Ia dijuluki sebagai garden tiger moth alias ngengat harimau karena ia adalah manusia langka.

Sementara itu orang yang kerap menjadi terlambat pulang kerja akibat Se Ra adalah Seo Kong Myung. Ia adalah PNS tingkat lima yang sebenarnya mendapat mutasi jabatan karena terlalu idealis. Sikapnya yang kaku itu membuatnya “dibuang” ke bagian call centre.

Untuk kedua kalinya Kong Myung tidak mau berdamai dengan bersikap lebih fleksibel sehingga ia kembali dibuang. Kali ini ia hanya boleh menangani keluhan masyarakat sipil melalui email sehingga nada suara atau ekspresinya tidak dapat terbaca. Ia pun terpaksa menangani keluhan-keluhan Se Ra.

Into The Ring Review

Sebenarnya Se Ra dan Kong Myung sama-sama idealis. Mereka tak mau diam saja melihat kejanggalan di tempat kerja masing-masing. Baik itu soal judi, suap, pelecehan seksual, hingga jam pulang kerja benar-benar mereka jalankan sesuai aturan. Padahal aturan memang dibuat untuk ditepati tapi orang seperti mereka justru dibenci oleh masyarakat karena terlalu taat. Se Ra tak henti-hentinya dipecat sementara Kong Myung menjadi bahan gibah rekan kerjanya.

Drama ini sangat kental unsur komedinya sehingga gambaran dunia politik di dalamnya terasa ringan. Ditambah lagi karakter Se Ra yang komikal tapi tidak lebay. Ia justru menjadi faktor utama hal-hal lucu dalam drama ini. Sebaliknya Kong Myung memiliki ekspresi yang datar (yang justru bagus) dan malah terlihat sedikit kejam saking kakunya. Banyak scene memanfaatkan kemampuan akting Se Ra agar menjadi momen yang lucu seperti misalnya ketika ia menggoda pacarnya.

Into The Ring juga menyisipkan plot twist berkali-kali. Awalnya kita mengira hubungan Se Ra dan Kong Myung akan terbentuk karena posisi keduanya. Se Ra sebagai pelapor dan Kong Myung yang menangani keluhan publik. Namun hal ini dipatahkan karena kemudian Se Ra menjadi pegawai honorer di kantor Kong Myung. Nyatanya hal ini juga dipatahkan ketika Se Ra tak lama kemudian dipecat lagi. Lalu tanpa pikir panjang ia malah mencalonkan diri dalam pemilu.

Sungguh menarik karena baru dua episode saja kita sebagai penonton terus dibuat penasaran. Selain itu sinematografinya juga patut diacungi jempol. Walau tidak luar biasa tapi cukup unik. Ditambah lagi, editingnya menambah nilai jual drama ini. Into The Ring patut dijagokan sebagai salah satu drama terbaik bulan ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect