Film

Incantation Review: Drama Parenting Berkedok Horor

Ingin memikat dengan gaya horor found-footage, Incantation selipkan drama parenting yang harusnya bisa lebih meaningful.

Bagi sebagian orang, film horor yang menerapkan teknik pengambilan gambar found-footage masih efektif dalam memberikan kengeriannya. Akan tetapi, belum banyak yang mencoba menerapkan teknik tersebut dengan permasalahan yang muncul di dunia nyata, salah satunya isu parenting. Dua kombinasi ini tampaknya diterapkan oleh Kevin Ko dalam film terbarunya, ‘Incantation’ yang saat ini bisa dinikmati di Netflix.

‘Incantation’ merupakan film horor mockumentary dari sutradara Kevin Ko yang naskahnya ditulis pula oleh Chang Che-wei. Filmnya sendiri berpusat pada Li Ronan, seorang perempuan yang memiliki masa lalu kelam karena melanggar satu tabu keagamaan. Di masa kini, ia pun harus berhadapan dengan kutukan yang juga menyeret anak semata wayangnya.

‘Incantation’ merupakan film horor mockumentary dari sutradara Kevin Ko yang naskahnya ditulis pula oleh Chang Che-wei.

Narasinya sendiri akan membawa penonton dalam kisah Li Ronan sehari-hari, yang sebagian besar diambil dari perspektif handcam untuk memberikan nuansa mockumentary. Premis umum ini dikemas dengan pola penceritaan maju-mundur untuk membuatnya tampak tidak terlalu linear. Akan tetapi, eksekusi pola penceritaan tersebut ditampilkan secara tidak mulus, bahkan beberapa kali mengganggu pacing kala bercerita.

Penceritaan dalam ‘Incantation’ ini terasa menarik melalui drama parenting yang menyelimuti Li Ronan, Dodo, dan pria yang merawat Dodo. Elemen tersebutlah yang sejatinya membuat apa yang dilakukan Ronan terasa lebih hidup dan menyentuh, walau di beberapa titik terasa janggal karena inkonsistensi dengan padanan versi dunia nyata.

‘Incantation’ merupakan film horor mockumentary dari sutradara Kevin Ko yang naskahnya ditulis pula oleh Chang Che-wei.

Dalam membangun elemen horornya, ‘Incantation’ ditampilkan dengan format pengambilan gambar ala mockumentary melalui gaya found-footage. Penggunaannya membuat film Kevin Ko tersebut mudah sekali disandingkan dengan berbagai film dengan formula serupa, salah satunya ‘The Medium’ beberapa waktu lalu.

Tidak hanya bermain dengan handcam, film sesekali bermain melalui kamera sampingan, membuatnya terasa multi-perspective dalam membawakan ceritanya.

‘Incantation’ memainkan kengeriannya melalui kehadiran unsur klenik, membuatnya masih terasa seperti film Asia walau minim kehadiran hantu-hantu yang ikonik dan kemunculan jumpscare yang lebih minim. Selain itu, horornya diperkuat dengan berbagai elemen menjijikan yang tentunya akan memberikan kengerian tersendiri, terutama bagi yang memiliki phobia pada hal-hal terkait film ini.

Secara teknis, ‘Incantation’ bukanlah film horor paling mewah yang dimiliki oleh sinema Asia. Akan tetapi, teknik pengambilan gambar dan permainan scoring-nya beberapa kali berhasil meningkatkan kengerian yang ingin ditampilkan sepanjang film berjalan.

Pada akhirnya, ‘Incantation’ seakan ingin bereksperimen dengan horor berunsur klenik yang ditampilkan dengan format found-footage layaknya film mockumentary. Namun, hadirnya drama parenting di tengah gempuran kengeriannya membuat film ini lebih menyentuh walau masih bisa dipoles lebih baik lagi.

Galih Dea

Bachelor of Computer Science with interest in content writing. Passionate in movie, game, and technology.

Share
Published by
Galih Dea