Connect with us
HBO

TV

House of the Dragon (Episode 2) Review: The Rogue Prince

Pernikahan dan pengkhianatan yang membuat perebutan tahta Iron Throne semakin memanas.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“House of the Dragon” (HOTD) telah kembali dengan episode keduanya minggu ini, “The Rogue Prince”. Sukses pada episode pilot, HOTD telah memecahkan rekor baru di HBO sebagai serial dengan kurang lebih 10 juta penonton pada episode perdananya pada 21 Agustus kemarin.

HBO juga telah mengumumkan kelanjutan serial ini yang sudah dipastikan akan mendapat season kedua. Berlatar 200 tahun sebelum Daenerys Targaryen di “Game of Thrones”, “House of the Dragon” merupakan prekuel yang lebih fokus pada masa pemerintahan Raja Viserys I, ketika Targaryen masih berjaya dengan kedudukannya sebagai penunggang naga di Westeros.

Jika pada episode pilot kita sudah mengenal semesta Westeros kuno dan karakter-karakter kunci dalam serial ini. Dalam episode kali ini, kita akan diajak memahami motivasi, konspirasi, hingga situasi politik di Westeros yang semakin detail. Ketika kita berpikir episode kedua mungkin akan memasuki masa membosankan, ”House of the Dragon” episode 2 ternyata masih padat konflik, dialog, dan adegan monumental.

(Spoiler Alert!)

House of the Dragon (Episode 2) Review: The Rogue Prince

Motivasi Setiap Karakter yang Semakin Dielaborasi

Pada episode pilot, kita bisa melihat setidaknya ada beberapa tokoh kunci yang dekat dengan Iron Throne. Raja Viserys I yang masih menduduki tahta, Rhaenyra putri Viserys satu-satunya, kemudian Daemon, saudara raja sekaligus paman dari Rhaenyra yang ada dalam kandidat penerus tahta. Ketika kita mengira ini akan menjadi kisah perebutan tahta antara keponakan dengan pamannya, karakter-karakter bergabung dalam permainan perebutan tahta yang semakin memanas.

Dari episode pertama, sudah banyak audience yang berperasangka buruk pada Otto Hightower (Rhys Ifans) sebagai tangan kanan raja. Perlahan tapi pasti, usahanya untuk menginfiltrasi garis penerus tahta di keluarga Targaryen mulai terlihat semakin jelas. Kita juga sudah bisa menduga semenjak Otto mengirim putrinya, Alicent (Emily Carey) untuk menghibur Viserys setelah kematian istrinya. Namun, motivasi pribadi dan perasaan Alicent yang sesungguhnya masih belum terlihat dalam plot ini. Alicent yang nantinya akan diperankan oleh Olivia Cooke ini menarik untuk dinantikan perkembangan karakternya.

Sementara Corlys Velaryon dan Rhaenys Targaryen berusaha menawarkan anak perempuannya (yang baru berusia 12 tahun) sebagai istri untuk memperkuat klan Targaryen dengan Velaryon. Sementara Daemon tidak terlalu banyak muncul dalam episode kali. Namun sekalinya muncul selalu pada adegan-adegan yang krusial.

House of the Dragon (Episode 2) Review: The Rogue Prince

 

Konfrontasi Targaryen dan Naganya Jadi Momen Terbaik

Jika adegan melahirkan dan duel ksatria menjadi adegan terbaik pada episode pertama, “House of the Dragon” episode 2 juga punya adegan terbaik. Yang sudah dinanti-nanti oleh para penonton, dalam episode ini kita akan melihat konfrontasi Daemon dan Rhaenyra dengan naga mereka, Caraxes dan Syrax. Kedua naga tersebut sudah di-teasing sejak episode pertama, namun kali ini mereka tampil lebih epic lagi.

Rhaenyra selalu memiliki adegan mengendarai naga terbaik sejauh ini. Jika penulis naskah memang ingin membuat penonton mendukung dia sebagai penerus tahta, sejauh ini usaha mereka telah berhasil. Tak sekadar memperlihatkan kekuatan naga sebagai kharisma para Targaryen, adegan konfrontasi Daemon dan Rhaenyra dalam episode ini juga diisi ketegangan serta kualitas dialog yang menunjukan wibawa mereka sebagai para Targaryen.

Secara sinematografi, adegan di Dragonstone kali ini juga menjadi salah satu adegan dengan visual terbaik dalam “House of the Dragon” sejauh ini. Kita hanya perlu sabar sedikit lagi sebelum adegan pertarungan pecah di episode-episode mendatang.

Keputusan Besar Raja Viserys yang Membuat Perebutan Tahta Semakin Memanas

Sangat kental dengan nuansa politik kerajaan dengan Raja Viserys yang gelisah, HOTD episode ini juga masih terasa intensitas ketegangannya. Mulai juga muncul berbagai materi cerita yang kontroversial seperti pedhopilia dan pernikahan sedarah yang sebetulnya sudah tidak mengejutkan lagi bagi penggemar “Game of Thrones”. Namun dalam episode kali ini, kita tak akan mengira bahwa materi tersebut benar-benar diadaptasi tanpa modifikasi dari materi sumbernya.

Lagi-lagi HOTD menutup episode dengan benih konflik baru yang tak kalah mengejutkan. Pada titik ini, kita sebagai penonton juga semakin invested pada kisah perebutan tahta ini. Banyak dari kita mungkin sudah mulai mengambil posisi untuk mendukung karakter tertentu dan membenci karakter yang kita yakini sebagai provokator.

Setiap karakter juga sudah memiliki posisi masing-masing. Baik sebagai opportunist, pengkhianat, dan protagonis yang memang layak menjadi kandidat penerus tahta yang sah. Meski keputusan Viserys tidak memuaskan mayoritas audience, konflik baru ini dibutuhkan untuk membuat kondisi politik kerajaan di Westeros semakin dramatis dan pelik.

Ini baru namanya serial, setiap episode digarap secara maksimal. Selalu ada yang mengejutkan di setiap episode terbarunya. Mulai dari naskah, porsi perkembangan plot, hingga desain produksinya sebagai kemasan artistik. Kita tunggu saja, apa HOTD episode ketiga juga masih memiliki presentasi konflik atau adegan monumental yang konsisten.

House of the Dragon Review (Episode Pilot): The Heirs of the Dragon

 

House of the Dragon (Episode 6) House of the Dragon (Episode 6)

House of the Dragon (Episode 6) Review: The Princess and the Queen

TV

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

House of the Dragon (Episode 5) Review House of the Dragon (Episode 5) Review

House of the Dragon (Episode 5) Review: We Light the Way

TV

King of the Narrow Sea Review King of the Narrow Sea Review

House of the Dragon (Episode 4) Review: King of the Narrow Sea

TV

Connect