Connect with us
hippies
Summer of Love 1967 | The LIFE Picture Collection/Getty Images

Culture

Hippies: Melawan dengan Rambut Gondrong

Simbol mereka adalah bunga sehingga kerap disebut sebagai generasi bunga (flower generation).

Hippies sebagai sebuah kultur baru, muncul pada tahun 1960an di Amerika Serikat sebagai suara perlawanan atas budaya jamak kala itu. Perlawanan ini adalah buah dari ketidakterimaan mereka atas kondisi yang tercipta. Mulai dari peperangan antara AS dan Vietnam yang tidak kunjung usai, hingga pada kepongahan kaum tua di mata para kaum muda.

Karena itulah, banyak yang akhirnya mengasosiasikan hippies dengan kelompok-kelompok tertentu yang bergerak membela hak-hak sipil di tahun 1960an, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk ikut mengambil peran dalam menentang segregasi yang terjadi, dan berbagai protes atas kebijakan politik yang timpang.

Hippies sendiri identik dengan tampilan mayoritas dari mereka-mereka yang berambut panjang (gondrong), berpakaian urakan, seringkali melakukan seks bebas, mengonsumsi zat-zat adiktif, dan banyak tampilan lain yang mendobrak sesuatu yang dianggap normal dan atau kemapanan saat itu. Simbol mereka adalah bunga sehingga kerap disebut sebagai generasi bunga (flower generation).

Demam hippies sebagai sebuah gaya populer juga diadopsi para musisi-musisi dunia yang notabenenya memiliki massanya sendiri. Hippies semakin menegaskan pengaruhnya lewat produk-produk budaya populer, seperti film, seni, sastra, dll. Festival musik Woodstock 1969 di Connecticut, Amerika Serikat menjadi puncak perayaan budaya kaum hippies. Hingga akhirnya bukan hanya pada kelompok-kelompok tertentu, pengaruh hippies juga semakin meluas ke masyarakat umum.

apa itu hippies

Photo via culturacolectiva.com

Perlawanan di Indonesia

Melalui berbagai medium, anak-anak muda Indonesia pun terpengaruh. Meski di Indonesia pada dekade 70an, banyak yang mengadopsi hippies hanya sebatas gaya. Namun tetap saja bagi pemerintah, rambut gondrong adalah persoalan serius.

Anak muda berambut gondrong tidak diabaikan pemerintah. Saking pedulinya, Pemerintah bahkan membentuk Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (Bakoperagon). Lembaga yang kemudian menggandeng aparat militer ini telah siap dengan gunting untuk memangkas rambut-rambut gondrong yang mereka temui.

Dalam buku “Yang Kelewat di Buku Sejarah” disusun oleh Tim Pamflet Generasi mengurai betapa anak muda kala itu merasa heran dan geram. Artinya, kebijakan untuk menindak tegas mereka yang gondrong adalah kebijakan yang sama sekali tidak populer bagi kaum muda. Bagi mereka, orang-orang tua, para pemerintah adalah orang-orang munafik. Ceramah tentang moral dan norma, tapi di sisi lain juga seringkali mereka langgar.

Anak-anak muda melihat bahwa mengkritik dan menertibkan rambut gondrong tidaklah lebih penting dari menyelesaikan persoalan kriminal hingga korupsi yang masih merejalela di tengah-tengah masyarakat. Hal ini jauh lebih penting untuk diatasi oleh pemerintah.

Namun seolah tidak peduli, pemerintah terus gencar melakukan razia, masuk ke sekolah hingga kampus. Hingga di tahun 1970an, di Institut Teknologi Bandung (ITB). Para taruna Akademi Angkatan Bersenjata Indonesia (Akabri) lah yang masuk ke kampus, dan memotong rambut gondrong mahasiswa ITB. Protes besar-besaran pun terjadi. Segala upaya dilakukan pemerintah untuk mendamaikan dua institusi ini. Namun akhirnya keurusuhan yang tidak terhindarkan antara mahasiswa dan aparat harus mengorbankan nyawa Rene Louis Coenraad.

Dengan jatuhnya korban. alih-alih menghentikan perseturuan, kemarahan mahasiswa semakin memuncak. Pelarangan rambut gondrong justru membuat anak-anak muda semakin berbahaya. Yang awalnya, hippies diadopsi hanya sebatas gaya, periode 70an justru memberi ruang pada budaya ini untuk memapankan bentuknya sebagai sebuah ekspresi perlawanan atas ketidakadilan yang dibentuk oleh sistem saat itu.

Lewat TVRI, berbagai pesan tentang rambut gondrong yang tidak mencerminkan kepribadian bangsa terus ditanamkan oleh pemerintah orde baru. Rambut gondrong dicap sebagai parasit atas tumbuh kembang anak muda saat itu. Namun kita patut mencurigai bahwa sebenarnya menjadi gondrong hanyalah oposisi biner dari tunduk dan taat pada apa kata pemerintah, bukan soal kepribadian bangsa.

Meski telah lama selesai, namun label buruk akan rambut gondrong masih dihidupkan hingga hari ini. Di sekolah-sekolah misalnya, lewat Guru BK dan sistem sekolah secara menyuluruh yang melarang siswa laki-laki memiliki rambut panjang. Batasannya, kadang genggaman tangan guru BK. Jika bisa digenggam, berarti rambutnya panjang. Dan itu artinya, rambut itu wajib untuk dipangkas. Bagaimana tubuh dan tampilan diatur hari ini, adalah soal yang tidak sudah-sudah.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect