Connect with us
Happier Than Ever- A Love Letter to Los Angeles Review
Disney+

Film

Happier Than Ever: A Love Letter to Los Angeles Review

Tribute Billie Eilish untuk Los Angeles dan dirinya di masa depan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Ini adalah sebuah concert film namun juga sebuah cerita di saat yang bersamaan”, begitu Billie Eilish mendefinisikan “Happier Than Ever: A Love Letter to Los Angeles” melalui trailernya.

Dalam film concert keduanya, kita akan diajak memasuki dimensi lain dari Los Angeles; LA versi Billie Eilish. Hollywood Bowl dipilih sebagai panggung sempurna untuk konser kali ini. Tak hanya tampil bersama kakaknya, Finneas, Billie juga mengajak The Los Angeles Children’s Chorus dan The Los Angeles Philharmonic untuk memeriahkan konsernya.

Disutradarai oleh Robert Rodriguez, “Happier Than Ever: A Love Letter to Los Angeles” menampilkan berbagai lagu dari album kedua Billie Eilish dengan lineup yang sama dengan tracklist album tersebut. Diselipkan pula cerita dengan animasi serta narasi langsung dari Billie Eilish tentang bagaimana Los Angeles membentuk jati dirinya.

Happier Than Ever: A Love Letter to Los Angeles Review

Disney+

Bermain dengan Animasi dan Lighting Panggung untuk Menciptakan Mood

Memilih Hollywood Bowl sebagai lokasi film, dengan penampakan bangku penonton yang kosong secara tidak langsung menjadi momento bahwa film ini produksi 2020-an. Sebuah potret new normal dari concert venue yang penuh batasan di masa pandemi ini.

Panggung juga terlihat sangat minimalis, begitu pula Billie Eilish mengenakan wardrobe sederhana yang tidak mengalihkan perhatian. Arahan visual yang serba simple ini menjadi kanvas sempurna untuk eksplorasi visual melalui animasi, lighting panggung, dan editing pada proses produksi.

Dalam film ini, Billie Eilish versi kartun akan berkeliling LA dengan mobil Porsche. Setiap adegan animasi diselipkan pada setiap transisi lagu yang akan ditampilkan. Seperti adegan avatar Billie yang menjelma sebagai malaikat sebelum track “GOLDWING”, dan kunjungan ke area makam sebagai transisi menuju track “Everybody Dies”.

Tak hanya memberikan storyline, setiap cuplikan juga dirancang untuk menentukan emosi pada setiap lagu. Misalnya saja menuju penampilan “Oxytocin”, animasi memperlihatkan Billie yang mengebut dengan mobilnya, sesuai dengan lagu yang up beat.

Happier Than Ever: A Love Letter to Los Angeles Review

Disney+

Pemilihan warna lampu panggung juga dihadirkan untuk mengatur mood, bagaikan “kostum” bagi Billie untuk menjangkau emosi yang ingin disampaikan dalam setiap lagu. Panggung dikuasai warna merah untuk memberikan kesan sensual untuk lagu “Oxytocin”.

Didukung dengan editing dan pola lighting yang dinamis, Billie mengubah panggung menjadi klub malam. Pada lagu-lagu lembut seperti “my future”, panggung diselimuti dengan warna biru dan sedikit kuning untuk suasana yang hangat.

“Oxytocin” dan “Therefore I Am” Jadi Penampilan Live Terbaik

Menjadi dua lagu yang dimasukan dalam promotional trailer, “Oxytocin” dan “Therefore I Am” memang merupakan penampilan terbaik dalam ‘A Love Letter to Los Angeles’. Baik dalam segi presentasi visual, sekaligus menggugah dalam segi aransemen versi live-nya.

“Therefore I Am” ditampilkan dengan aransemen musik orkestra yang lebih terasa megah. Track pop yang cukup repetitif dengan banyak influensi studio sounds, diracik ulang untuk lebih menggugah sebagai live performance.

Seharusnya mastering dan mixing sounds untuk film ini bisa lebih maksimal jika tidak terlalu “diredam”. Mungkin teknik atau mode perekaman yang dipilih kurang tepat karena beberapa lagu masih terasa seperti rekaman studio, bukan live performance yang memiliki nuansa berbeda.

Kualitas live performance version biasanya terdengar lebih jernih dan otentik, membuat penonton akan merasa lebih dekat dengan sang penyanyi. Tidak untuk semua penampilan, setidaknya untuk track-track ballad seperti “Your Power” dan “Male Fantasy” berhasil menyuguhkan kehangatan unplugged performance.

Bagaimana Concert Film ini Menjadi Surat Cinta yang Artistik dari Billie Eilish

Los Angeles sepertinya yang sudah kita ketahui merupakan kampung halaman bagi Billie Eilish. Melalui narasi yang Ia selipkan dalam ‘A Love Letter to Los Angeles’, Ia menyebutkan bagaimana kota ini membentuk dirinya. Melalui rangkaian lagu yang dinyanyikan, kita bisa menangkap pesan bagaimana remaja berbakat ini sudah semakin dewasa untuk menghargai dari mana Ia berasal.

Hollywood Bowl sebagai landmark menjadi lokasi yang tepat untuk memperjelas keberadaan Billie, di panggung paling ikonik di LA. Pada storyline animasi, kita akan di bawah ke berbagai lokasi di LA, mulai dari jalanan besar, di atas gedung untuk melihat panorama kota, hingga lokasi-lokasi tak teridentifikasi yang personal bagi Billie sebagai seorang ‘angelos’.

Ketika Billie versi kartun berkeliling kota dan melihat berbagai baliho dengan wajahnya merupakan salah satu momen yang dramatis dalam film ini. Sekuen perjalanan Billie juga pada akhirnya lebih dari sekadar gimmick atau sentuhan artistik belaka, ada titik temu dengan live performance yang pada akhirnya akan menjadi adegan paling emosional.

Kita pasti akan memahaminya jika sudah mendengarkan “Happier Than Ever”, apa konsep cerita yang Billie ingin sampaikan melalui album tersebut. “Happier Than Ever: A Love Letter to Los Angeles” sudah bisa ditonton di Disney+ sejak 3 September 2021.

Memoir of A Murderer Review Memoir of A Murderer Review

Memoir of A Murderer Review

Film

Prey netflix review Prey netflix review

Prey Review: Pemburu Misterius yang Mengincar Para Pendaki

Film

Kate Netflix Kate Netflix

Kate Review: Film Action Gaya Hollywood dengan Estetika Jepang

Film

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Culture

Advertisement
Connect