Connect with us
Girl in Red
Photo: Jonathan Kise

Music

Girl in Red: If I could make it go quiet Album Review

Produksi musik semakin matang dengan lirik yang masih tetap jujur dan lantang.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Semenjak viral melalui TikTok pada tahun 2018 silam, Girl in red menjadi salah satu musisi ikonik di kalangan Generasi Z. Melalui single pertamanya, “i wanna be your girlfriend”, musisi dengan nama asli Marie Ulven ini membagikan curahan hatinya, bahwa Ia mencintai teman perempuannya.

Girl in red akhirnya sangat kuat dengan musiknya yang menjadi representasi dari kaum queer, dan kekalutan depresi serta kecemasan yang menjadi “teman baik” kebanyakan remaja masa kini.

Pertanyaan ‘Do you listen to Girl in Red?’ bahkan sempat menjadi kode yang membantu komunitas LGBT untuk mengekspresikan diri mereka. Sebagai perempuan yang menyukai sesama jenis, Marie sendiri menyatakan bahwa dirinya tak pernah memikirkan orientasi seksualnya ketika menulis lagu cinta. Ia tak berbeda dari musisi perempuan lainnya yang hanya ingin menulis lagu tentang cinta. Namun, kejujuran dan perasaan tanpa filter yang Marie Ulven curahkan dalam setiap lagunya terlalu kuat hingga mau tidak mau Ia berjaya sebagai representasi dari kaum LGBT.

Setelah rajin mengeluarkan beberapa EP beberapa tahun belakangan, Girl in red akhirnya merilis full album debut pertamanya, “if i could make it go quiet” pada 30 April 2021.

Melalui album terbarunya ini, Marie Ulven menyajikan banyak hal baru, eksplorasinya dalam bermusik terutama dalam segi produksi. Girl in red terkenal melalui sederet lagu dengan genre bedroom pop, indie rock, hingga lofi. Rilisan di masa lalu dari musisi 22 tahun ini bisa dibilang cukup repetitif, dengan berbagai single maupun track yang tak memberikan banyak cita rasa baru.

Marie Ulven terlihat memberikan usaha lebih untuk meningkatkan kualitas dalam memproduksi musik yang lebih profesional dan variatif. Seakan Ia ingin melayakan dirinya sebagai musisi dengan kesempatan mengerjakan sebuah full album.

‘Serotonin’ menjadi track pembuka dengan aransemen musik alternatif rock dengan sentuhan electronic. Dalam proses produksinya, Ia berkolaborasi dengan FINNEAS, dimana merupakan pilihan yang tepat ketika Marie benar-benar ingin mencoba sesuatu yang baru. Ia juga menantang dirinya untuk membawakan lirik yang Ia tulis dengan vokal rap dalam track ini.

‘Serotonin’ merupakan lagu dengan sudut pandang Marie ketika mengalami depresi dan kecemasan. Begitu juga dengan ‘Rue’, yang menjadi single promosi pertama dari album ini, dimana liriknya terinspirasi dari karakter Rue dalam serial “Euphoria”. Sementara dalam aransemen ‘Rue’, kita bisa mendengar sedikit sentuhan folk rock, terutama karena instrumen gitar akustiknya, kemudian berkembang menjadi lagu yang lantang dengan nuansa indie pop.

Melalui kedua track menjadi single ini, Marie Ulven telah memberikan kita bocoran bagaimana dirinya telah menciptakan sesuatu yang baru. Selebihnya, “if i could make it quiet” memberikan banyak kejutan dengan track-track yang menarik perhatian pendengarnya.

Track seperti ‘Body And Mind’ merupakan salah satu konsep musik baru yang lahir dari Girl in red. Dalam lagu satu ini, kita akan mendengarkan vokal Marie dengan gaya R&B, diiringi dengan musik yang merupakan fusion antara electronic dengan soul pop. Kemudian ada ‘I’ll Call You Mine’ yang memperdengarkan musik alternatif rock yang terasa familiar dari era rock 2000-an. Track satu ini memiliki aransemen musik dan directing vokal yang paling catchy dalam album ini.

‘You Stupid Bitch’ menjadi track paling kental dengan warna musik pop-punk, dengan lirik yang tanpa basa basi dan eksplisit. Lagu ini mengandung cinta yang terlalu besar dalam situasi yang sulit. Merupakan salah satu ciri khas dari Marie Ulven untuk mengutarakan cinta dengan kemarahan dan kesabaran yang sudah tak bisa dibendung lagi.

Meski telah banyak berkembang dan mencoba hal baru dalam segi produksi musik, Girl in red masih mempertahankan gaya menulis lirik yang jujur, lantang, dan apa adanya. Marie tak sungkan bicara tentang cinta yang berujung pada pemikiran tentang seks serta isu kesehatan mental dengan statement yang nekad. Seperti dalam track ‘Did You Come?’ dan ‘hornylovesickness’, Marie dengan natural menyatakan angan dan nafsunya di saat jauh dari orang yang Ia cintai.

‘Apartment 402’ menjadi track yang kembali memuat lirik yang depresif, dibawakan dengan aransemen musik synth-pop yang atmospheric dan melankolis. Ini bukan pertama kalinya Marie bersyair tentang dirinya akan mati suatu hari nanti, sebelumnya Ia pernah menulis lagu bertajuk ‘i’ll die anyway’. Jika lagu lama tersebut mengumandangkan kepasrahan dan nihilisme dengan semangat ‘masa bodoh’, ‘Apartment 402’ lebih reflektif dan bentuk dari pemikiran yang serius.

Dengan hampir setengah tracklist menyajikan materi musik yang eksperimental dan berbeda dari karya Girl in red sebelumnya, diselipkan beberapa track ballad sebagai selingan sekaligus membentuk flow album yang lebih seimbang. Salah satunya, lagu ballad ‘midnight lover’, tentang kemandirian dalam berhubungan tanpa harus selalu bergantung dengan kekasih.

Sebetulnya album debut ini masih mengandung satu hal paling esensial dari Girl in red, yaitu lirik yang berani sebagai bentuk manifestasi akan sesuatu yang masih kerap dianggap tabu. Marie Ulven tampaknya memiliki banyak kisah yang masih terus menginspirasinya dalam menulis lagu yang selalu personal dan sentimentil.

Sebagai seorang musisi, penting untuk merasa nyaman dalam menciptakan sebuah karya. Meski dengan tuntutan untuk berkembang dan menyuguhkan hal yang baru, selalu ada cara untuk memproduksi sebuah karya yang personal maupun idealis menjadi masterpiece yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Tidak ingin meninggalkan jati diri dan latar belakangnya terlalu jauh dalam menciptakan musik, Marie Ulven memilih untuk meningkatkan kualitas rekaman album debutnya (dimana merupakan kesempatan esensial dalam karirnya) dalam segi musik. Sementara syair dan kisah yang Ia tulis masih dipertahankan dengan segala kejujurannya, menjadi jiwa dari setiap lagu yang Marie Ulven ciptakan.

Secara keseluruhan, “if i could make it go quiet” menjadi pembuktian bahwa Marie Ulven, sosok dibalik Girl in red bukan musisi yang main aman dengan genre bedroom pop dan lofi, seperti kebanyakan musisi di spectrum ini.

Kebanyakan dari mereka hanya menciptakan album yang terasa seperti mixtape dari EP mereka dan tracklist yang hambar. Girl in red telah memanfaatkan kesempatannya untuk memproduksi album perdana semaksimal mungkin; tak hanya sebagai target atau realisasi dari sebuah impian bagi semua musisi (untuk merilis full album), namun juga digunakan sebagai ajang eksperimen dan meningkatkan kemampuan bermusiknya.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect