Connect with us
Do Revenge
Netflix

Film

Do Revenge Review: Balas Dendam Remaja Ala Mean Girls Versi GenZ

Visual memanjakan perempuan, namun kurang pesan moral yang esensial dalam film chick flick. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Do Revenge” (2022) merupakan film drama remaja terbaru di Netflix. Disutradarai oleh Jennifer Kaytin Robinson, dibintangi oleh Camila Mendes (Riverdale) dan Maya Hawke (Stranger Things).

Sutradara dan penulis naskah, Robinson, terinspirasi oleh film noir klasik, “Strangers on a Train” (1951) karya Alfred Hitchcock. Dimana dua pria saling tidak kenal bertemu di kereta, kemudian sepakat untuk membalaskan dendam satu sama lain. Referensi dari materi noir tersebut disulap oleh Robinson sebagai opera chick flick yang lebih berwarna.

Tak hanya Mendes dan Hawke sebagai bintang populer di kalangan remaja masa kini, ada juga Austin Abrams (Euphoria), Sophie Turner (Game of Thrones), Alisha Boe (13 Reasons Why), dan Rish Shah (Ms. Marvel), meramaikan deretan cast dari “Do Revenge”.

Drea Torres adalah queen bee di sekolahan elit, Ia punya teman-teman yang keren dan pacar populer, Max. Hingga reputasinya hancur dalam hitungan satu malam ketika video pribadinya disebarkan oleh pacarnya sendiri. Eleanor adalah siswa baru, dengan reputasi buruk di masa lalu yang masih menghantuinya. Memiliki hasrat balas dendam yang sama-sama besar, mereka pun sepakat untuk saling menuntaskan dendam masing-masing.

Do Revenge Review

Balas Dendam Remaja Ala Mean Girls Versi Gen-Z

‘Balas Dendam’ menjadi jantung dari “Do Revenge”. Baru saja masuk prolog, babak berikutnya kita sudah langsung masuk dalam sekuen dimulainya rencana balas dendam Drea bersama Eleanor. Film ini bisa digolongkan sebagai film chick flick yang akan mengingatkan kita pada judul klasik seperti “Mean Girls” (2004) dan “Heathers” (1988). Dengan energi balas dendam yang besar, “The Craft” (1996) juga bisa menjadi salah satu judul klasik yang kita ingat dalam film bertema serupa. Balas dendam remaja sudah seperti memiliki genre-nya sendiri dalam perfilman.

Sama seperti film-film pendahulunya, “Do Revenge” juga memiliki plot dasar yang cukup sederhana. Ada masa kejayaan, ada masa keterpurukan, hingga akhirnya menjadi motif balas dendam yang kuat, lalu masuk dalam sekuen balas dendam yang semakin memakan setiap karakter dalam prosesnya. Sama seperti protagonis lainnya, Drea memiliki alasan yang besar untuk melangsungkan balas dendam. Karena Ia memiliki ambisi dan harga diri yang sangat besar, The Queen Bee. Sementara Eleanor menjadi karakter yang lebih misterius. Memberikan kekontrasan pada dua karakter utama yang cukup menarik serta variatif.

“Do Revenge” secara umum seperti mempertemukan era remaja GenZ dengan remaja 90an. Ada beberapa elemen yang terasa sama, bahwa meski telah melintasi banyak era, kehidupan sosial di sekolah dan reputasi masih menjadi topik yang relevan. Hanya saja dalam semesta “Do Revenge” deretan cast lebih ‘berwarna’. Hanya saja dalam semesta “Do Revenge” deretan cast lebih ‘berwarna’ unsur LGBT, serta peran media sosial dalam kehidupan remaja masa kini.

Do Revenge Review

Film Chick Flick yang Fashionable dan Memanjakan Perempuan secara Visual

“Do Revenge” memiliki desain produksi dan sinematografi yang menjadi daya tarik besar, terutama untuk penonton perempuan. Visual bubblegum-nya akan mengingatkan kita pada “Clueless” (1995). Karena berlatar di sekolahan swasta elit dengan seragam, kita akan melihat estetika seragam yang modis dan mungkin berpotensi menjadi kostum Halloween populer bulan depan.

Setiap karakter juga selalu tampil modis dalam kesempatan lain di luar sekolah. Dan apalah arti film chick flick tanpa babak make over yang seru. Dalam “Do Revenge”, Drea memberikan make over pada Eleanor agar bisa diterima di kelompok siswa elit. Namun entah kenapa hasil make over-nya masih kurang drastis perbuatannya untuk membuat kita terpesona.

Selain pilihan-pilihan kostum yang fashionable, produksi desain untuk setiap lokasi juga maksimal. Seperti Drea yang sebetulnya tidak dari keluarga kaya, Ia tinggal di rumah sederhana mungil namun tetap menjadi landscape yang ikonik setiap Ia berdiri di depan rumah berwarna birunya tersebut, bersandar di mobil mewahnya. Sekolah elit yang menjadi lokasi utama juga terlihat hidup dan elegan, meski lebih mirip resort daripada sekolah. Ada juga banyak pesta dalam “Do Revenge”, dimana dekorasi dan keramaian pestanya terasa otentik, setiap karakter juga selalu tampil dengan kostum pesta yang maksimal.

Plot Twist Lumayan, Pelajaran Moral Kurang Dapat

Awalnya, “Do Revenge” memiliki perkembangan plot yang terasa sangat bias dengan kedua karakter utama. Sekuen rencana balas dendam yang dijalankan juga terbilang sederhana dan tidak terlalu banyak agenda. Hingga pada akhirnya ada plot twist yang cukup membuat terkejut. Namun akhirnya memiliki kelanjutan yang kurang fokus, penulis seakan jadi bingung ini menyalahkan siapa dalam kisah balas dendam ciptaannya sendiri. Karena bias dengan Drea dan Eleanor yang sama-sama memiliki sisi baik dan buruk sebagai remaja.

Kebanyakan dari film chick flick klasik seperti “Mean Girls” dan “Clueless” selalu memiliki pesan moral yang ingin disampaikan. Ada sebab akibat, ada hukum karma, ada babak penyelesaian yang dihadapi oleh protagonisnya. Namun, “Do Revenge” masih kurang jelas dalam memberikan garis bawah pada satu statement yang kuat untuk mengakhiri agenda balas dendam Drea dan Eleanor. Padahal desain produksinya sudah maksimal sekali, namun film chick flick tidak akan berakhir sebagai judul yang ikonik tanpa pesan yang berkesan.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect