Connect with us

Film

Death to 2021 Review: Tahun Kedua Pandemi yang Belum Banyak Berubah

Netflix kembali dengan rewind mockumentary-nya yang satir.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada akhir tahun lalu, Netflix merilis mockumentary rewind perdananya, “Death to 2020”. Menjadi pengganti YouTube rewind yang hiatus pada tahun pertama pandemi. Menghadirkan aktor-aktor populer seperti Hugh Grant, Samuel L. Jackson, Joe Keery, Laurence Fishburne, hingga Kumail Nanjiani, memerankan berbagai karakter narasumber fiksi yang memberikan komentar-komentar pedas dan sarkastik tentang berbagai fenomena sepanjang tahun.

Ketika kita mengira kegilaan dari masa pandemi akan meredam pada tahun 2021, semakin banyak fenomena dan membuat kita belum bisa mengakhiri situasi darurat global ini. Dari creator “Black Mirror”, Netflix kembali menghadirkan “Death to 2021” sebagai tonton akhir tahun maupun menyambut tahun baru.

Masih Dalam Suasana Pandemi dan Trend Vaksinasi

Tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, “Death to 2021” masih dalam suasana masa pandemi, dengan lockdown, new normal, ditambah dengan perdebatan seputar vaksinasi. Topik pertama yang dikupas dan komentari dalam mockumentary kali ini adalah Joe Biden versus Donald Trump yang sempat panas pada awal tahun. Kemudian mengenang kepergian Prince Philip dan hengkangnya Harry dan Meghan dari jajaran bangsawan Inggris. Tak ketinggalan konflik di Afghanistan yang telah jatuh di tangan Taliban.

Selain membicarakan momen penting di dunia politik, sosial, dan dinamika pandemi, “Death to 2021” juga selalu menyelipkan konten hiburan viral. Seperti beberapa judul serial terbaik Netflix 2021, “Bridgerton”, “Squid Game”, hingga film dokumenter seperti “Seapiracy” hingga “My Octopus Teacher”. Secara humoris mampu memberikan komentar dan opini yang disangkut pautkan dengan isu sosial dan lingkungan.

Kita juga masih dihibur oleh beberapa “narasumber” yang tak asing lagi dari film pertamanya. Seperti Tennyson Fos OBE (Hugh Grant), Duke Foolies (Joe Keery), dan dua narasumber dari golongan awam; warga biasa Inggris, Gemma, dan tipikal ‘Karen’, Kathy Flowers. Adapun aktor baru yang bergabung sebagai narasumber, Lucy Liu, Tracey Ullman, hingga William Jackson Harper. Masih mempertahankan gaya humor komentator yang sarkastik dan bebal.

Beberapa Narasi Topik Kurang dengan Transisi yang Kurang Mulus

Ada banyak topik yang diangkat dalam “Death to 2021” sebagai sebuah konten ala ‘rewind video’. Pada babak pertama, narasi yang disajikan memiliki kesinambungan yang mulus dan enak untuk disimak, meski beberapa topik tidak terlalu berkaitan bahkan kontras. Contohnya saja bicara tentang lockdown yang kemudian disambungkan dengan serial “Bridgerton”. Namun, ada beberapa bagian yang memiliki transisi patah, seakan hanya diselipkan karena penting, namun penulis naskah kehabisan ide untuk memberikan narasi yang mulus. Salah satunya ketika berbicara tentang tragedi George Floyd.

Beberapa narasumber juga diberi materi humor repetitif untuk setiap adegan. Membuat “Death to 2021” tidak selucu “Death to 2020” yang saat itu masih sangat baru bagi penontonnya.

Jika mockumentary ini ingin dijadikan film produksi Netflix konsisten setiap akhir tahun, penulis naskah dituntut untuk mempertahankan humor dan materi keseluruhan yang tidak repetitif. Jika tidak, ‘Death to 2022’ mungkin akan berkembang semakin membosankan layaknya YouTube Rewind yang kualitasnya semakin menurun setiap tahun.

Bukan Hal Paling Brilliant dari Netflix, Namun Patut Tonton Setiap Akhir Tahun

Merupakan suguhan yang cukup menyenangkan dan seru, bahwa Netflix tampaknya ingin membuat ‘Death to’ sebagai konten spesial setiap akhir tahun. Konten seperti menjadi sesuatu yang cukup banyak dinanti oleh banyak orang, karena kita semua suka melihat kilas balik peristiwa, apalagi yang dieksekusi dengan cara kreatif. Semoga saja, tahun 2022 memberikan peristiwa global positif, begitu pula film dan serial-serial berkualitas yang bisa masuk dalam ‘Death to’ berikutnya. Atau Netflix harus menuntut penulisan-naskahnya menyajikan materi yang kreatif dan tidak basi.

Bukan konten terbaik dari Netflix, karena bukan sesuatu yang kita apresiasi sebagai mockumentary dengan kualitas sinematik. Namun, “Death to 2021” bisa menjadi tonton Tahun Baru yang humoris dan menghibur.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

Connect