Connect with us
Death to 2020
Netflix

Film

Death to 2020 Review: 2020 Rewind Persembahan Netflix

Kilas balik 2020 dengan humor satire.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Meski banyak dibenci beberapa tahun belakangan, YouTube Rewind merupakan salah satu video yang paling dinanti-nanti setiap akhir tahun. Namun, YouTube memutuskan untuk tidak merilis video rewind tahun ini karena dirasa kurang pantas ketika dunia sedang dilanda pandemi yang menimbulkan banyak krisis dalam berbagai aspek. Bagi yang masih haus menonton konten rewind akhir tahun, “Death to 2020” bisa menjadi tontonan bagi penggemar humor satire.

“Death to 2020” merupakan film mockumentary persembahan Charlie Brooker dan Annabel Jones, creator dari serial Black Mirror. Mockumentary sendiri merupakan film dengan konsep mirip film dokumenter namun fiksi. Biasanya memang diterapkan pada naskah-naskah komedi dan parodi. Dalam film ini kita akan melihat para aktor berperan sebagai narasumber fiksi, menemani kita dalam kilas balik tahun 2020 yang banyak dibilang sebagai tahun terburuk bagi umat manusia modern, terutama karena pandemi COVID-19.

Memadukan Kilas Balik Peristiwa Nyata dengan Humor Satire yang Berani

Seperti rewind pada umumnya, kita akan diajak kilas balik tahun 2020 dengan segala berkah dan bencananya. Mulai dari pandemi yang sudah muncul di awal tahun, menangnya “Parasite” sebagai Best Picture Oscar, Black Lives Matter, pemilu Amerika Serikat, dan masih banyak peristiwa monumental lainnya terjadi tahun ini. Semua peristiwa tersebut disajikan sebagai ulasan peristiwa yang seratus persen sesuai dengan kenyataannya. Namun, diselipkan opini maupun metafora dari setiap narasumber yang bernada satire. Beberapa juga diselipkan kisah dari narasumber yang fiksi sebagai bentuk hiperbola dari kenyataan.

Mulai dari dialog yang membuat kita geleng-geleng kepala, hingga pernyataan yang akan membuat kita tertawa terbahak-bahak, kilas balik tahun 2020 yang seharusnya penuh bencana dan kesulitan terasa konyol. Kekonyolan yang disajikan pun bukan materi lawak murahan semata, namun dekat dengan realita karena nyatanya banyak orang yang dengan tindakan bodoh mereka yang seringkali membuat kita heran.

Death to 2020

Netflix

Adapun film dibalut dengan produksi sinematografi dan scoring yang terasa dibuat-buat seriusnya. Setelah beberapa menit terbiasa dengan ritme film ini, indera kita akan mulai menangkap kelucuan dari musik dan visual yang ditampilkan.

Humor satire memang bukan didesain untuk orang yang mudah tersinggung. Membuat film ini mungkin tidak berkenan untuk lapisan masyarakat tertentu. Antara mereka adalah pihak yang terlalu serius atau merasa menjadi objek yang ditertawakan dalam film ini.

Narasumber yang Merepresentasikan Stereotip dari Berbagai Lapisan Masyarakat

Selain banyak peristiwa yang dirangkum dalam satu film, kita akan ditemani dengan beberapa “narasumber” dengan penokohan unik masing-masing. Mulai dari Samuel L. Jackson sebagai jurnalis, Hugh Grant sebagai sejarawan yang dipertanyakan kredibilitasnya, Cristin Milioti sebagai tipikal ‘Karen’, hingga Joe Keery sebagai streamer milenial yang “keren”.

Masih banyak lagi karakter sebagai narasumber yang bisa kita lihat terinspirasi dari stereotip profesi atau lapisan masyarakat tertentu. Setiap aktor juga mampu membawakan narasi dan dialog yang sesuai dengan versi lawak dari setiap karakter dari kehidupan nyata.

Karakter seperti Dash Bracket dan Dr. Maggie Gravel merupakan jenis orang yang mungkin cukup menyenangkan, dengan setiap pemikiran dan opini yang relatable. Namun, sebagian besar karakter merupakan versi parodi yang akan menjadi objek lawak.

Lebih Dominan Peristiwa di Negeri Barat Terutama Amerika Serikat

Untuk kontennya sendiri, “Death to 2020” memang telah mencangkup hampir semua kejadian monumental sepanjang tahun 2020. Namun, opini dan pembahasan yang lebih mendominasi film adalah kejadian di Amerika Serikat. Mungkin karena mereka negara tersebut selalu jadi sorotan dunia.

Mulai dari situasi pandemi di Amerika, proses pemilu, perdebatan antara pendukung Donald Trump dan Joe Biden, memposisikan negara tersebut sebagai konsumsi “panggung sandiwara” bagi orang-orang di belahan dunia lain. Kebanyakan narasumber juga diwujudkan sebagai orang Amerika. Ada beberapa narasumber juga dari Inggris dengan aksennya yang khas, hingga Yang Mulia Ratu yang cukup sedikit screentime-nya.

Secara keseluruhan, “Death to 2020” merupakan mockumentary yang menghibur, meski tidak untuk semua kalangan dengan selera humor yang sama. Mengangkat isu-isu serius, tak sedikit opini bijak dengan segala kesinisannya cukup masuk di logika. Jika menyukai mockumentary seperti “What We Do in The Shadows”, film “The Death of Stalin”, dan mampu menerima materi humor ala Ricky Gervais, “Death to 2020” bisa menjadi tontonan yang menghibur.

Click to comment

A Boy Called Christmas Review A Boy Called Christmas Review

A Boy Called Christmas Review: Tentang Harapan dalam Kemalangan di Hari Natal

Film

The Forgotten Battle The Forgotten Battle

The Forgotten Battle Review: Film Perang Dunia II dengan Tiga Sudut Pandang

Film

Hellbound Review Hellbound Review

Hellbound Review: Terbentuknya Distopia dari Teror Neraka di Bumi

TV

The Whole Truth Review The Whole Truth Review

The Whole Truth Review: Kebenaran di Balik Lubang Dinding

Film

Advertisement
Connect