Connect with us
Death Cab for Cutie Blue EP Album Review

Music

Death Cab for Cutie: Blue EP Album Review

Ketika Death Cab for Cutie tidak mencoba hal baru dan memeluk warna musik lamanya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Baru tahun kemarin, tepatnya pada Agustus 2018, Death Cab for Cutie merilis album mereka yang bertajuk “Thank You For Today”. Album pertama dimana band ini resmi berpisah dengan gitaris mereka, Chris Walla.

Pada awal bulan September ini, Death Cab for Cutie kembali merilis mini album bertajuk “The Blue EP”. Album dengan 5 track ini terasa seperti hadiah kecil bagi para penggemar band yang telah berdiri sejak tahun 1997. Tidak berusaha bereksperimen dengan cita rasa baru, dalam album ini kita akan dimanjakan dengan aransemen musik rock alternatif hingga soft rock yang sempat merajai tangga lagu pada tahun 2000-an awal.

death cab for cutie the blue ep album review

Blue EP Album

“The Blue EP” dibuka dengan track “To The Ground”. Aransemen lagu satu ini sangat kental dengan nuansa rock alternative dengan sentuhan psychedelic yang suram dalam penulisan liriknya. Didominasi dengan dentuman drum repetitive dan riff gitar yang catchy, lagu ini bercerita tentang momen tabrakan mobil yang dibawakan dengan puitis. Tema yang gelap ini akan membuat kita merasakan nuansa tabrakan slow motion yang menghanyutkan. Perasaan abstrak itulah yang menjadi inspirasi bagi sang frontman, Ben Gibbard ketika menulis lagu ini.

Track berikutnya, sekaligus salah satu singel dari mini album adalah “Kids in ’99”. Lagu ini bisa menjadi anthem bagi kita yang sempat merasakan hidup di era 90-an. Lagu ini secara sederhana meluapkan angan nostalgia tentang anak-anak dan gaya hidup mereka kala itu. Mengingat band ini termasuk salah satu yang berdiri pada tahun 90-an akhir. Dengan lirik yang sederhana dan arasenmen musik rock alternatif yang tenang. Lagu satu ini memiliki nuansa atmospheric yang menghanyutkan.

Tempo dan mood musik dalam “The Blue EP” semakin melembut pada track ketiga, “Man In Blue”. Lagu ini memiliki aransemen melodi gitar yang pelan dan suara drum sebagai pelengkap yang samar-samar. Liriknya juga menunjukan tema melankolis dengan durasi yang tidak terlalu panjang.

Namun, hentakan rock kembali terasa pada track “Before The Bomb” dengan lirik lagu yang cukup emosional tentang kemanusian. Lirik lagu ini bercerita tentang dunia yang penuh dengan perang dan kekacauan, namun ada satu hal yang tak akan terus bertahan yaitu cinta. Dengan lirik yang naif dan polos, aransemen musik rock alternative dengan tempo yang konstan terdengar tidak terlalu “klise” namun powerful.

“The Blue EP” ditutup dengan track soft rock, “Blue Bloods” dengan lirik melankolis tentang memperhatikan orang yang dikagumi dan dicintai dari kejauhan. Lagu diawali dengan instrumen synthesizer dan drum yang lamban. Dengan durasi 5 menit, satu persatu instrumen ditambahkan dan membangun emosi yang membendung dengan gitar solo yang maksimal pada bagian akhir track.

“The Blue EP” akan membuat kita bernostalgia dengan cita rasa musik rock alternative lama yang apa adanya dengan aransemen yang repetitive namun menghanyutkan. Album satu ini akan mengingatkan kita pada jaman dimana Snow Patrol dan Hoobastank masih diputar di radio.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect