Connect with us
Da 5 Bloods
Netflix

Film

Da 5 Bloods Review: Kompleksitas Pergerakan Kulit Hitam Dibalut Dalam Film Perang

Sebuah film peperangan dengan intrik politik dan masalah sosial yang dapat membawa tangis dan tawa.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Berdurasi dua setengah jam, Da 5 Bloods tidak memberi ampun untuk para penontonnya. Dengan gaya tipikal seorang Spike Lee, film dibuka oleh potongan-potongan video dari kejadian nyata yang menunjukkan pondasi dari nilai-nilai yang diusung dalam film ini.

Seperti jangkar, penonton harus selalu mengingat pidato-pidato anti-rasis, anti-kapitalis, dan anti-kolonial yang dipilih oleh sang sutradara untuk memulai filmnya.

Pada saat Perang Vietnam, Amerika Serikat mengirimkan tentaranya ke wilayah Indochina dengan alih melawan bibit komunisme yang mulai tumbuh di sana. Dari begitu banyak tentara yang dikirimkan, 30% adalah para tentara kulit hitam yang berharap mereka akan mendapatkan hak-hak yang setara dengan orang kulit putih setelah masa berbakti kepada negaranya telah usai.

Di antaranya, terdapat lima tentara kulit hitam yang menamakan diri mereka sebagai Da 5 Bloods. Pada salah satu misi, mereka menemukan sekotak emas batangan milik Amerika Serikat yang akhirnya disepakati akan dikubur dan akan mereka ambil kembali setelah perang berakhir.

Berpuluh tahun silam berlalu dan keempat tentara dari grup tersebut akhirnya datang kembali ke Vietnam untuk mengambil emas dan membawa pulang salah satu kawannya yang sudah gugur semasa perang.

da 5 bloods

Netflix

Apabila biasanya standar film barat selalu membuat nada warna memiliki saturasi tinggi ketika berlatar belakang di negara tropis, Da 5 Bloods memilih untuk lebih meningkatkan kontras kecerahannya. Namun untuk membedakan antara alur utama cerita dan latar belakang kisah flashback, adegannya tidak menggunakan wide screen ratio dan memiliki tingkat saturasi yang lebih tinggi.

Bukan hanya itu, teknik sound mixing dan editing serta sinematografinya juga sangat tepat untuk menunjukkan perbedaan alur utama dengan adegan flashback. Spike Lee juga terlihat menggunakan teknik pengambilan gambar ala film dokumenter ketika menunjukkan masa lalu di tengah peperangan yang membuatnya mendapatkan aura peristiwa yang lebih tegas.

Karakter-karakter dan aktor-aktor dalam Da 5 Bloods tidak perlu ditanyakan lagi kualitasnya. Akan tetapi, salah satu aktor dalam film ini sangat menonjol, dan dia bukan karakter sang “pemimpin” kelompoknya. Delroy Lindo yang berperan sebagai Paul sangat menguasai pertengahan hingga akhir film dengan performanya.

Karakternya sangat menonjol dengan segala trauma, PTSD, dan beban yang dia tanggung dan yang dia bebankan kembali ke anaknya. Perkembangan karakternya sangat tidak stabil, pada satu titik rasanya Paul menjadi lebih baik, tetapi kemudian dia kembali menjadi sosok Ayah yang buruk, dan berbalik lagi selanjutnya.

Da 5 Bloods

Netflix

(Warning: spoiler)

Pada beberapa adegan, Delroy Lindo harus berjalan sendiri sambil melakukan monolog panjang yang menunjukkan betapa berantakan isi kepala sang karakter. Hingga akhirnya, alasan mengapa Paul mengalami PTSD yang lebih parah dibandingkan teman-temannya terungkap. Lalu seperti bayi yang baru saja dibaptis, Paul merelakan jiwanya untuk mengikuti Norm yang dia anggap sebagai pemberi cahaya di tengah ketidakpastian.

Film Da 5 Bloods menyentuh begitu banyak isu yang memang saling berkaitan dan begitu rumit untuk dijabarkan. Mulai dari masalah komunisme yang selalu dibingkai sebagai ideologi yang jahat, walaupun pihak mereka selalu memakan korban terbanyak. Sedangkan kapitalisme yang begitu melekat dalam jiwa orang Amerika Serikat dan begitu diagungkan justru selalu menjadi sumber peperangan yang tidak mengenal rasa kasih.

Tentu saja masakah rasial juga tidak luput dari sorotan Spike Lee. Pada zaman Perang Vietnam, bahkan orang Vietnam pun kebingungan kenapa orang kulit hitam ikut menjadi tentara yang membela kepentingan Amerika Serikat, padahal di tanahnya sendiri mereka masih ditindas oleh orang kulit putih.

Seakan memang divide et impera adalah taktik penjajah kulit putih yang akan terus digunakan untuk menjaga para jajahannya tetap sibuk melawan satu sama lain. Masalah tentara kulit hitam juga bukan hal yang sederhana.

Bukan hanya mengenai membela negara, tetapi tindakan mereka justru meminta hak mereka diberikan oleh negara. Akan tetapi, yang didapatkan pada akhirnya hanyalah trauma mendalam tanpa pemulihan yang seharusnya dilakukan oleh negara atas kesehatan mental mereka.

Da 5 Bloods adalah tribut terhadap pergerakan Black Lives Matter yang masih terus diperjuangkan hingga sekarang. Berbeda dengan film sebelumnya, BlacKkKlansman (2018), Spike Lee lebih tegas dan berani untuk menyatakan bahwa pergerakan orang kulit hitam harus melawan rasisme dan harus melawan kapitalisme yang terus diproduksi oleh negara.

Bahwa ketika orang kulit putih terus menerus menjebak mereka, pada satu titik mereka yang terjajah harus bergerak bersama untuk mengambil paksa hak-haknya. Kehebatan Spike Lee dalam menyampaikan kisah di Da 5 Bloods dapat disaksikan di Netflix sekarang.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect