Connect with us
Book Review: Critical Eleven (2015)
Image: Aksiku.com

Books

Critical Eleven (2015) Book Review

Novel setebal 330 halaman ini mengalir dengan begitu nyaman.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Critical Eleven merupakan novel ketujuh karya Ika Natassa, seorang penulis yang telah dikenal lewat novel-novel sebelumnya antara lain A Very Yuppy Wedding (2007), Divortiare (2008) Antologi Rasa (2011) dan Twivortiare (2012). Masih dari penerbit yang sama, Gramedia Pustaka Utama, buku ini memiliki cover yang menarik dengan ilustrasi pesaawat terbang dengan background berwarna biru, yang semakin mengundang penasaran dengan apa sebenarnya inti dari judul Critical Eleven ini, apakah buku ini mengisahkan perjalanan wisata para karakternya? ataukah tentang kehidupan romansa pasangan yang tinggal berjauhan?

Istilah Critical Eleven sendiri merupakan istilah dalam dunia penerbangan, yaitu sebelas menit waktu kritis di dalam pesawat. Tiga menit sebelum take off dan delapan menit sebelum landing–karena secara statistik 8% kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.

Ika Natassa mengajak kita untuk melihat awal mula pertemuan Aldebaran Risjad (Ale) dan Tanya Baskoro (Anya) dalam rentang waktu sebelas menit itu saat perjalanan menuju Sydney.

Tentu saja karakter kuat dalam novel ini ada pada Ale dan Anya karena buku ini pun mengambil dua sudut pandang dari Ale dan Anya. Ale bekerja di pengeboran minyak lepas pantai Amerika, sedangkan Anya seorang wanita karir yang juga sukses. Dengan pekerjaan Ale yang sangat jauh, ia pun harus merelakan waktunya untuk bergantian setiap bulannya berada di Amerika dan Indonesia. Satu bulan di Amerika, lalu satu bulan di Indonesia, dan terus seperti itu secara bergantian seperti siklus yang tak ada ujungnya, kecuali ia rela untuk berhenti dari pekerjaannya. Namun, ini merupakan piliihan Ale untuk menjadi pekerja minyak karena ia pun sempat berseteru dengan ayahnya karena tak mau mengikuti jejak ayahnya yang seorang tentara. Kita pun akan dibawa pada hubungan ayah dan anak yang tidak terlalu akur.

Selanjutnya dengan Tanya baskoro, ia merupakan seorang konsultan di sebuah perusahaan di Jakarta. Tanya pun harus seringkali terbang keluar kota dan keluar negeri demi urusan kantor. Tanya Baskoro digambarkan sebagai wanita cantik, elegan, dan pintar. Hal inilah yang membuat Ale terkesan dengan pertemuan pertamanya bersama Anya. Mereka saling bercerita satu sama lain, bagaimana kehidupan Jakarta yang membosankan sekaligus menyenangkan, bagaimana bertahan bekerja di lepas pantai berhari-hari tanpa hiburan sama sekali, dan bagaimana mereka memaknai sebuah perjalanan. Pertemuan pertama ini menjadi pembukan jalan kisah cinta mereka.

Dengan plot maju mundur, berkali-kali kita akan disajikan dengan romantisme Ale dan Anya saat pacaran dan ketika Anya telah resmi menjadi Nyonya Risjad. Ale yang selalu memberikan kejutan untuk Anya dan Anya yang selalu memperhatikan Ale. Bisa dibilang hubungan mereka ini merupakan sebuah hubungan yang sangat ideal. Saling menyayangi, memahami, dan bisa membahagiakan pasangannya masing-masing. Namun, kebahagiaan mereka tidak semulus dulu, ada sebuah kejadian yang membuat keduanya harus merasakan kepedihan yang paling dalam. Anya pun harus berkali-kali menangis demi mengakurkan kata hati dan pikiran agar tidak menyiksa diri sendiri.

Novel setebal 330 halaman ini mengalir dengan begitu nyaman. Ika Natassa menyajikan kisah mereka dengan begitu nyata, didukung dengan deskripsi tempat yang tergambar dengan baik, kita pun bisa benar-benar terbawa dalam kehidupan Ale dan Anya. Masing-masing karakter mengambil peran dengan sangat pas. Kita diberikan kesempatan untuk sesekali iri dengan kebahagiaan Ale dan Anya, kesal dengan tingkah laku mereka, dan terhanyut oleh perasaan duka yang teramat dalam.

Secara keseluruhan novel ini, tidak hanya menyajikan kisah krusial mereka dalam 11 menit penerbangan, namun memberikan pengalaman hidup yang menyentuh. Apalagi bagi yang pernah merasakan kehilangan sebelumnya, karena dialog-dialog dari kata hati mereka yang terasa sangat real. Bagaimana seseorang bisa sangat rapuh dan berusaha bangkit untuk menjalani hari tanpa merasakan kepedihan setiap waktu. Memang tidak mudah untuk merelakan kepergian seseorang yang kita cintai apalagi kita tahu bahwa mereka tak akan pernah kembali, namun hidup akan terus berjalan dan kita harus kuat menghadapinya.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect