Connect with us
Bob Moses
Photo by Zackery Michael

Music

Bob Moses: Desire Album Review

Album minimal house dengan tema aransemen yang solid.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Duo group EDM asal Kanada, Bob Moses, telah merilis album keempat mereka yang bertajuk “Desire” pada 27 Agustus lalu. Jika album sebelumnya, Battle Lines (2018) lebih banyak terinfluensi genre rock alternatif dan indie, album kali ini lebih kental dengan genre house music yang terkonsep dengan solid. Memang sangat berbeda dengan konsep album sebelumnya, namun ciri khas Bob Moses dengan aransemen musik yang bernuansa gelap dan melankolis masih sangat terasa.

Dibuka dengan track ‘Love We Found’ yang diawali dengan denting piano yang sunyi, kemudian diakselerasi dengan electro beat yang pas dan tidak berlebihan. Mempertahankan mood, semakin dipertebal dengan unsur drum dan bass. Dilanjutkan dengan track ‘The Blame’ yang dibuka dengan house beat yang lebih bright, sebelum akhirnya menjadi minor kembali untuk melanjutkan mood yang sudah terbangun dari track sebelumnya. Kita akan mendengarkan middle dari track ‘The Blame’ menuju ‘Desire’ sangat mulus dan tidak patah.

‘Desire’ merupakan track kolaborasi dengan Zhu yang juga merupakan single utama dari album ini. Track ini memang layak menjadi “headline” dari album berjudul serupa. Dirilis dalam dua format versi original album dan single edit. Versi single edit juga sangat enak didengarkan sebagai satu track yang berdiri sendiri, sementara versi original diaransemen agar lebih menyatu dengan tracklist. Track ini memiliki warna musik deep house yang tebal, berpadu dengan bassline sebagai banger dan efek simbal sebagai aksen. Menciptakan nuansa dark EDM, sub genre yang masih jarang kita dengar di ranah mainstream.

Sementara ‘Hold Me up’ menjadi track house yang repetitive meski tidak terlalu adiktif, dengan lirik yang diulang seperti hymn, diakhiri dengan instrumen piano yang lembut.

Kemudian langsung berlanjut ke track berikutnya, ‘Outlier’. Pada titik ini, transasi terasa sedikit patah, namun mood melankolis dan gelap untungnya masih tetap dijaga. Track satu ini memiliki aransemen dengan drum beat, kendang, yang menimbulkan nuansa dark tropical yang eksperimental. Hingga akhirnya kita sampai pada track terakhir, ‘Ordinary Day’ dengan bassline yang kembali ditonjolkan dengan berbagai variasi. Berpadu dengan instrumen gitar elektrik yang memberikan sentuhan rock alternatif, semakin diakselerasi dengan banyak layer namun dengan komposisi yang pas.

Dalam segi penulisan lirik, Bob Moses masih tetap membawakan materi galau seputar cinta. Easy listening dan cukup catchy sebagai hook untuk dinyanyikan oleh pendengarnya. Dibawakan dengan suara Tim Howie yang breathy dan melankolis Meski dalam album ini lirik dan kualitas vokal bukan menjadi statement utama.

“Desire” lebih menonjolkan bakat duo electro ini dalam memproduksi sebuah album EDM. Seperti inilah seharusnya album EDM dieksekusi. Mulai dari konsep aransemen, dan yang terpenting adalah mood yang harus dipertahankan dari awal hingga akhir album. “Desire” mengandung tracklist yang saling berkesinambungan satu sama lain. Dengan middle antar setiap track yang nyaris sempurna.

Meski menyajikan genre utama yang berbeda, Bob Moses masih memiliki signature dalam musiknya. Sesuatu yang tidak bisa dideskripisikan dalam genre tertentu, it’s just Bob Moses style. Mau membawakan musik minimal house, deep house, hingga rock sekalipun, duo Tim Howie dan Jimmy Vallance selalu menyematkan selera personal mereka.

“Desire” bisa menjadi penuh hasrat kita yang merindukan sederet tracklist deep house tenang, dengan banger minimalis namun sanggup membuat kita menari dengan mood yang suram namun menghangatkan.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect