Connect with us

Film

365 Days: Romantisasi Hubungan Abusif Kembali Muncul di Layar

Penuh dengan nilai misoginis, adegan abusif, hubungan non-konsensual, dan fiksasi oral yang tidak diminta oleh siapapun.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Bagaimana jika cerita-cerita romansa fiksi di Wattpad dengan hubungan yang patut dipertanyakan consent-nya diangkat ke layar kaca? 365 Days (judul asli 365 Dni) memang diadaptasi dari novel sungguhan karya Blanka Lipinska, bukan sekadar cerita erotis fiksi di internet, tapi hasilnya sungguh dapat disandingkan dengan perandaian tersebut.

Setelah trilogi Fifty Shades of Grey berakhir, ternyata masih ada pasar untuk kisah pasangan benci-tapi-cinta-tapi-abusif yang dibalut secara erotis. Tidak terlalu mengejutkan jika film ini dengan cepat naik daun di Netflix, terutama di tengah wabah pandemi yang memaksa orang-orang untuk mengurangi kontak fisik dengan satu sama lain. Sepertinya semua orang sudah sangat haus sentuhan hingga bersedia menyaksikan film yang membuat sakit kepala ini.

365 Days Review

Photo via IMDb

Penonton di bawah umur tentu tidak boleh menyaksikan film ini, bukan hanya karena adegan erotis yang ada di dalamnya, tapi juga karena romantisasi hubungan yang tidak sehat antara kedua karakter utama. Sebaiknya, film ini disaksikan oleh orang dewasa yang sudah bisa membedakan hubungan yang sehat dan tidak sehat, serta ingin melihat kekonyolan kisah erotis yang justru menggelikan.

Berkisah tentang penculikan Laura, seorang wanita karir yang mulai muak dengan kekasihnya yang tidak peka, oleh Massimo, seorang pemimpin keluarga mafia, dengan tujuan untuk membuat sang perempuan jatuh hati dalam waktu setahun.

365 days review indonesia

Laura (Anna Maria Sieklucka) | via IMDb

Dalam kekangannya, Laura dikelilingi oleh kemewahan tak terbatas dan pemenuhan materialistis atas apapun yang ia minta. Bukan hanya itu, Massimo yang memiliki kecenderungan mendominasi secara seksual juga berusaha untuk meluluhkan hati Laura melalui caranya sendiri.

Tidak sulit untuk membandingkan film ini dengan film Fifty Shades of Grey (2015), tapi membandingkan kedua cerita tersebut rasanya seperti bermain adu ayam di kutub utara, dalam kata lain, untuk apa? Justru membicarakan 365 Days saja rasanya sudah cukup menyulitkan, karena film ini sangat jelas terlihat kebobrokannya tanpa perlu dibicarakan.

365 dni review

Photo via IMDb

Diperankan oleh Michael Morrone, Massimo adalah seorang pemimpin mafia yang memiliki tubuh berotot, tegap, tinggi besar, dan tatoan yang memberikannya aura berbahaya. Namun sejujurnya, dengan rupa seperti dewa, untuk apa dia sulit-sulit menculik perempuan idamannya? Untuk seorang pemimpin kelompok mafia yang sedang berjaya dan ahli memainkan kehidupan orang lain melalui pemerasan, sepertinya ia cukup bodoh dalam hal perasaan.

Namun justru itulah masalahnya, apakah perasaan Massimo merupakan cinta? Atau justru obsesi?

(Warning: spoiler)

Massimo pertama kali melihat Laura dari kejauhan di sebuah pantai. Lalu 5 tahun kemudian, dia menemukannya di bandara dan memutuskan bahwa Laura harus menjadi miliknya. Bukan hanya mengerikan bahwa seseorang bisa mengingat orang lain setelah 5 tahun lamanya, tapi Massimo terkesan sangat menggebu dalam hal kepemilikan Laura.

Ini mungkin terdengar klise, tapi cinta memang tidak harus memiliki. Justru seperti yang dikatakan oleh Lundy Bancroft, seorang konsultan kasus KDRT, obsesi untuk memiliki seseorang adalah sifat abusif dalam sebuah hubungan.

365 Days Review

Photo via IMDb

Film 365 Days pada awalnya berkali-kali berusaha menempatkan Laura sebagai perempuan mandiri yang tidak bisa dimiliki siapapun karena dia bukan barang. Namun seiring kisah bergulir dan Laura semakin jatuh hati dengan Massimo, pendirian tersebut semakin pudar hingga lama-lama menghilang begitu saja.

Laura justru menjadi milik Massimo, di bawah kendalinya yang berusaha untuk “menjaga” dia dari laki-laki lain, misalnya, tidak setuju ketika Laura ingin mengenakan gaun mini yang terbuka. Bukan itu saja, selama Laura masih berada dalam kebimbangan, Massimo juga telah melecehkannya walau sebelumnya mengatakan tidak akan menyentuhnya.

Anna Maria Sieklucka

Photo via IMDb

Semakin kontradiktif lagi, Massimo pertama kali menyatakan bahwa dia tidak akan menyentuh Laura tanpa persetujuannya sambil tangannya meraba payudara Laura dan mencekiknya. Seakan consent atau persetujuan hanya perlu diberikan untuk tindakan seksual penetratif saja. Tentu gambaran tersebut akan sangat berbahaya dan semakin melanggengkan budaya perkosaan jika membuat orang-orang menganggap sentuhan di bagian privat tidak memerlukan persetujuan kedua belah pihak.

Bukan hanya meromantisasi hubungan abusif dan melegalkan tindakan non-konsensual, 365 Days juga sangat misoginis ketika melihat deretan karakter perempuan yang ada. Karakter Laura berubah dari seorang eksekutif muda yang sukses menjadi calon istri seorang pemimpin mafia yang kegiatannya hanya berbelanja di butik borjuis.

365 Days

Photo via IMDb

Karakter Olga, sahabat karib Laura, hanya digambarkan sebagai seorang perempuan yang haus dengan kemewahan dan sentuhan laki-laki. Karakter Anna, mantan Massimo, digambarkan sebagai perempuan yang terobsesi dengan Massimo hingga berani mengancam akan membunuh Laura. Lalu karakter perempuan lainnya hanya sebatas pemuas nafsu Massimo, yang entah kenapa selalu terlihat bahagia luar biasa setelah memuaskannya secara oral.

Untuk sebuah film yang merendahkan perempuan hingga hanya menjadi sebatas manusia yang hidup demi memuaskan laki-laki dan menghabiskan kekayaan, 365 Days sebenarnya memiliki sinematografi yang baik di bawah tangan Mateusz Cierlica. Memang Italia dan Warsaw merupakan daerah yang penuh dengan keindahan, tapi cara sang sinematografer mengambil gambar pemandangan sekitar sangatlah manjur untuk menambah aura “kisah dongeng” yang sedang dilalui Laura.

Namun sayangnya, hanya sebatas itu saja yang dapat dibilang bagus dari film ini. Dari aspek pengarahan sutradara, adegan-adegan panas yang seharusnya erotis dan menggairahkan justru lebih meninggalkan kernyitan di dahi penonton. Ditambah lagi, suntingan film ini terlalu kacau tanpa pacuan yang konsisten.

Di akhir seluruh kekacauan dan keburukan tersebut, 365 Days memberikan pesan yang cukup bagus, yaitu jangan berhubungan dengan pria yang abusif jika tidak ingin dijatuhi malapetaka. Akhir film ini juga memberikan secercah harapan bagi para penonton. Harapan agar tidak ada sekuel selanjutnya.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect