Connect with us
Romeo + Juliet
Photo by 20th Century-Fox/Getty Images

Film

William Shakespeare’s Romeo + Juliet Review

Perpaduan unik visualisasi modern dengan naskah original Shakespeare. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Romeo and Juliet” merupakan pertunjukan drama tragedi romansa terpopuler yang pernah ditulis oleh William Shakespeare. Kisah cinta sehidup semati antara dua insan dari keluarga yang saling bermusuhan ini telah diadaptasi dalam film klasik berjudul serupa pada 1968. Kemudian diadaptasi kembali di perfilman modern pada 2013, dibintangi oleh Douglas Booth dan Hailee Steinfeld.

Jika kedua film tersebut berlatar di semesta medieval, Baz Luhrmann melakukan pendekatan yang berbeda dalam film adaptasi “Romeo + Juliet” miliknya pada 1996. 

“William Shakespeare’s Romeo + Juliet” dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Claire Danes. Bersama Craig Pearce, Luhrmann menciptakan semesta modern dimana keluarga Montagues dan Capulet sebagai rival ala mafia dan gangster, dengan kisah cinta Romeo dan Juliet di dalamnya.

Eksperimen Adaptasi Literasi Klasik dengan Sinematik Modern

Banyak dari kita mungkin belum pernah membaca literasi “Romeo and Juliet” original dari William Shakespeare. Film ini bisa menjadi jalan pintas buat yang tertarik dengan kisah Romeo dan Juliet dengan materi sinematik yang lebih modern dan fresh. “Romeo + Juliet” memiliki latar yang modern dalam segi visual, mulai dari lokasi hingga desain karakternya. Namun dialog dan narasi yang disajikan mengadaptasi dialog original dari pertunjukan Shakespeare. 

Pertama kali masuk dalam semesta Montagues versus Capulet dalam film ini akan cukup overwhelming bagi penontonnya. Kita akan melihat berita tentang Romeo dan Juliet di televisis, helikopter terbang dengan latar gedung-gedung pencakar langit, hingga baku tembak antara anak-anak Montagues dan Capulet di fasilitas umum yang tampak modern.

Namun, visual yang kita lihat sangat berbeda dengan dialog yang menggunakan bahasa Inggris klasik dengan sebutan ‘thee’ (kamu) dan rangkaian kalimat yang terdengar sangat dramatis, namun dibawakan dengan akting yang modern. Kita akan melihat, meski mereka sedang menggunakan pistol, mereka akan menyebut senjata mereka sebagai ‘pedang’. 

Kita akan membutuhkan beberapa waktu untuk terbiasa dengan konsep unik dari film ini. “Romeo + Juliet” akan sangat menghibur bagi kita yang memang menyukai film drama tragedi percintaan. Namun bisa jadi terlalu melelahkan bagi kita yang kurang menikmati vibe teatrikal dan musikal.

Romeo + Juliet

Penampilan Akting yang Dramatis dan Memikat

Bayangkan pertunjukan drama “Romeo and Juliet” yang teatrikal dieksekusi dengan akting film modern ekspresi realistis, kurang lebih seperti itulah penampilan yang akan kita saksikan dalam film adaptasi hybrid ini.

Para aktor mampu membawakan dialog dengan gaya bahasa ala pertunjukan teater, namun gesture dan ekspresi mereka seperti film-film yang pada umumnya kita tonton. Semakin kita memasuki babak akhir yang kalut, kita akan melihat penampilan akting yang emosional dan terasa sangat baru. 

Leonardo DiCaprio sebagai Romeo tampil menawan dengan kualitas akting yang tak perlu diragukan lagi. Sebagai aktor muda populer pada zamannya, sangat tepat meng-cast aktor ini sebagai bintang utama untuk image protagonis pria dalam sebuah film romantis dari judul ikonik.

Sementara Claire Danes sesuai dengan penokohan Juliet yang lugu dan anggun, namun sesuai untuk menjadi representasi protagonis wanita dalam skena perfilman remaja pada era 90-an. Leonardo DiCaprio dan Claire Danes berhasil memberikan penampilan dengan chemistry yang meyakinkan sebagai Romeo dan Juliet generasi milenial.  

Sinematografi dan Desain Produksi yang Semarak secara Visual

“Romeo + Juliet” sempat masuk dalam nominasi Oscar 1997 kategori Best Art Direction/Set Decoration. Meski tidak keluar sebagai pemenang, film drama tragedi ini tetap layak meraih predikat sebagai film dengan desain produksi berkualitas tinggi. Mulai dari desain latar, pemilihan kostum, hingga makeup, film ini tampak sekali melakukan persiapan dengan dedikasi tinggi untuk mewujudkan visi sutradaranya yang eksentrik untuk projek ini. 

Kita akan merasa berada di semesta yang berbeda; bukan di era medieval, bukan di era modern, namun semesta hybrid Romeo dan Juliet yang terlihat seperti distopia fantasi. Kita akan melihat kubu Montagues yang khas dengan kemeja bunga ala busana pantai, sementara keluarga capulet dengan setelan yang lebih necis. Sementara gaya sinematografinya yang dinamis dan vibrant akan terasa seperti film Quentin Tarantino. 

Secara keseluruhan, “Romeo + Juliet” merupakan film adaptasi dengan konsep pendekatan naskah yang eksperimental. Perpaduan antara konsep modern dan dialog klasik dari materi sumbernya bisa menjadi tontonan yang menarik.  Bagi penggemar film tragedi romantis, “Romeo + Juliet” juga menyajikan adegan tragedi yang emosional. Film “Romeo + Juliet” bisa kita streaming di Disney+ Hotstar.

Click to comment

Teka-teki Tika Review Teka-teki Tika Review

Teka-teki Tika Review: Wadah Eksperimen Tanggung Rasa

Film

Django Unchained Django Unchained

Django Unchained Review: Kisah Balas Dendam Seorang Budak

Film

Cyber Hell: Exposing an Internet Horror Cyber Hell: Exposing an Internet Horror

Cyber Hell: Exposing an Internet Horror Review

Film

A Beautiful Mind A Beautiful Mind

A Beautiful Mind Review: Kisah Perjuangan Matematikawan Peraih Nobel

Film

Advertisement
Connect