Connect with us
Waiting for the Barbarians
Photograph: Fabrizio Di Giulio

Film

Waiting for the Barbarians: Permulaan Perang antara Suku Barbar dengan Bangsa Kulit Putih

Diangkat dari novel terbaik, namun kurang bercerita di layar lebar.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Waiting for the Barbarians merupakan film debut dari sutradara Ciro Guerra. Dibintangi oleh Mark Rylance, Johnny Depp, dan Robert Pattinson. Film ini diangkat dari novel dengan judul serupa, karya J.M. Coetzee pada tahun 1980.

Bercerita tentang seorang hakim yang dipegangi tanggung jawab untuk menjaga wilayah perbatasan. Sudah menjadi tujuan bangsa kulit putih (caucasian) selama berabad-abad untuk memperluas daerah kekuasaannya. Ketika berhadapan dengan penduduk asli, mereka akan dengan enteng menganggap bahwa mereka musuh dan harus segera dibasmi sebelum melakukan perlawanan. Tak seperti Kolonel Joll dan Sersan Mandel yang berorientasi pada aturan militer dan tidak punya rasa kemanusiaan, sang hakim memiliki pemikiran yang bertentangan dengan tugasnya untuk melihat kaum barbar sebagai musuh mereka.

Waiting for the Barbarians

Photograph: Fabrizio Di Giulio

Film ini sebelumnya telah tayang di Venice Film Festival pada 6 September 2019 lalu. Kemudian resmi dirilis untuk kalangan umum pada 7 Agustus kemarin. Sekarang kita sudah bisa menontonnya di Mola TV, layanan streaming online terbaru untuk berbagai film dan acara televisi.

Premis yang Menarik Karena Diangkat Dari Novel Terbaik

Novel Waiting for the Barbarians sendiri merupakan karya yang telah dinobatkan sebagai Great Books of the 20th Century oleh Penguin. Juga memenangkan ajang literasi James Tait Black Memorial Prize dan Geoffrey Faber Memorial Prize. Ide utama kisahnya juga menarik, yaitu mengangkat nilai kemanusian antar ras dan sejarah peradaban dunia, terutama antara suku pedalaman dengan bangsa kulit putih.

Materi kisah yang mengandung nilai moral dan kemanusian dalam film ini juga masih sangat relevan untuk diperbincangkan saat ini. Waiting for the Barbarians bisa dibilang mengandung isu ras yang ternyata telah menjadi masalah manusia dari awal mula peradaban kita.

Namun, sayangnya film ini tidak berhasil meracik kisah yang kurang menggugah dan menarik. Banyak adegan yang terasa “kosong” dan tidak menyuguhkan banyak pesan bermakna atau adegan krusial untuk diingat. Waiting for the Barbarians sudah memiliki bekal dengan mengadaptasi novel terbaik, namun tidak berhasil memindahkan kisah dari media buku ke layar lebar tepat.

Waiting for the Barbarians Review

Photograph: Fabrizio Di Giulio

Eksplorasi Akting Aktor yang Dibatasi Oleh Naskah yang Datar

Selain bekal adaptasi novel terbaik, film ini juga memiliki dua cast aktor papan atas yang selalu mengundang antusiasme tinggi; Johnny Depp dan Robert Pattinson. Buat yang berekspektasi melihat penampilan dari kedua aktor ini, jangan terlalu berharap banyak. Nyatanya, Johnny Depp sebagai Kolonel Joll dan Robert Pattinson sebagai Sersan Mandel hanya memiliki screen time yang sedikit. Keduanya berhasil tampil sebagai karakter antagonis yang bengis dan memorable, terutama Johnny Depp yang (lagi-lagi) tampil sebagai karakter eksentrik dengan tampilan yang ikonik.

Waiting for the Barbarians Review

Photograph: Fabrizio Di Giulio

Film ini lebih didominasi oleh Sang Hakim yang diperankan oleh Mark Rylance sebagai protagonis. Mark Rylance juga berhasil membawakan karakter protagonis dengan tatapan yang penuh belas kasih dan nada bicara lembut yang menenangkan. Sebetulnya karakter ini bisa dieksplorasi lebih lagi dan didukung dengan dialog-dialog yang berbobot tentang kemanusian dan keadilan.

Namun, naskah yang ditulis membatasi performa aktor yang sudah memberikan akting terbaik mereka. Ada beberapa adegan dimana Sang Hakim memiliki dialog dengan pandangan yang kritis dan rasional. Sayangnya, hanya satu dua adegan seperti itu pada 30 menit pertama film. Sisanya seakan penulis naskah kehilangan kemampuan untuk menciptakan dialog yang menarik untuk diikuti.

Tidak Ada Momentum dan Terasa Diulur-ulur

Untuk sebuah film drama dengan durasi 1 jam 52 menit, Waiting for the Barbarians terasa seperti film berdurasi 3 jam yang tak selesai-selesai. Hal ini karena perkembangan cerita yang terasa datar dan tidak memiliki momentum. Bisa jadi karena proses editing yang kurang memberikan “tanda” pada adegan-adegan krusial. Justru adegan-adegan biasa yang mendapatkan perhatian lebih. Misalnya ketika Sang Hakim mencuci kaki seorang gadis barbar dan perjalanan Sang Hakim di gurun dengan footage-footage tidak bermakna.

Banyak adegan yang terasa diulur-ulur untuk memperpanjang durasi film. Padahal durasi sekitar 2 jam tersebut bisa dimanfaatkan untuk menyajikan kisah yang padat kaya. Bagian menariknya justru mulai terasa pada akhir film, namun langsung dipotong dengan credit yang mematahkan antusiasme penonton.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect