Connect with us
virus corona indonesia
Photo by Kuma Kum on Unsplash

Lifestyle

Wabah Mematikan di Dunia dari Masa ke Masa: Influenza hingga Corona

Manusia telah berkali-kali mampu melawan kekuatan alam ketika beragam penyakit bermunculan.

Akhir-akhir ini pemberitaan di media massa tidak lepas dari virus corona. Sebenarnya tanpa melihat berita pun kita dapat memantau informasi terkini mengenai persebaran virus corona melalui konten interaktif dari Johns Hopkins University. Tercatat hingga 31 Januari pukul 21.30 WIB, sudah ada 9776 kasus korona di seluruh dunia.

Dari seluruh jumlah tersebut, ada total 213 kematian dan 187 orang yang dinyatakan sembuh. Sejauh ini negara yang terdampak adalah China, Thailand, Hongkong, Jepang, Singapura, Australia, Taiwan, Malaysia, Makau, Korea Selatan, Amerika, Prancis, Jerman, Arab Saudi, Kanada, Italia, Vietnam, Kamboja, Finlandia, India, Nepal, Filipina, dan Srilanka.

data statistik virus korona

GIS Dashboard Johns Hopkins University

Sampai saat ini Indonesia masih aman dari virus corona. Ada belasan orang yang diduga terjangkit virus tersebut meski akhirnya terbukti negatif. Namun merebaknya corona di berbagai belahan dunia sempat membuat masyarakat panik. Apalagi dengan media yang terus membombardir masyarakat dengan berbagai informasi mengenai coronavirus.

Baca Juga: FAQ Corona: Tanya Jawab Seputar COVID-19

Beberapa informasi tersebut, meski tak memberikan dampak negatif, berhasil menimbulkan kehebohan. Sebut saja ketika Gubernur Sumatera Barat menyambut kedatangan 150 wisatawan China hingga berita bahwa kelalawar di Indonesia disebut mengidap virus korona. Belum lagi munculnya hoax di media sosial mengenai kondisi di China yang digambarkan begitu mengerikan meski tak dapat dipastikan kebenarannya.

Biro Informasi Pers India mengumumkan melalui Twitter mengenai rilis resmi pemerintah dalam menghadapi wabah virus corona. Pemerintah India menjelaskan cara-cara untuk pencegahan infeksi virus corona melalui metode homeopati. Termasuk di dalamnya adalah mengonsumsi berbagai obat dari tanaman herbal dan memijat kulit kepala maupun dada. Meski homeopati sendiri dikenal luas di berbagai negara termasuk Indonesia, ini adalah metode pengobatan pseudoscience. Joshua Wolrich, dokter bedah di Layanan Kesehatan Nasional yang dibiayai Pemerintah Inggris, mengkritik rilis yang disebarluaskan oleh Pemerintah India tersebut.

virus corona indonesia

Coronavirus | Photo via cambridgemask.com

PBB sendiri telah menyatakan kasus merebaknya virus corona sebagai kasus darurat global. Walau demikian ini bukanlah pertama kalinya dunia mengalami wabah penyakit menular dan mematikan. Selama ribuan tahun umat manusia telah berkali-kali melawan kekuatan alam dan mampu bertahan hingga generasi selanjutnya lahir. Corona bukanlah satu-satunya yang pernah mengancam kelangsungan hidup umat manusia dan bukanlah yang terburuk. Kemajuan di bidang medis terbukti telah membantu kita untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.

The Black Death

Pada tahun 1346-1353 terjadi wabah pes di Eropa. Sejarah mencatatnya sebagai The Black Death. Nama ini diambil dari hewan pembawa penyakitnya yaitu tikus warna hitam alias tikus rumahan yang bermukim dekat dengan manusia. Spesies ini memiliki perbedaan dengan tikus coklat maupun tikus abu-abu yang justru senang menjaga jarak dari manusia. Penyakit ini ditimbulkan oleh bakteri Yersinia pestis. Awalnya tikus yang telah terinfeksi bakteri tersebut digigit oleh kutu. Kemudian ketika si tikus telah mati akibat bakteri, kutunya akan berpindah ke manusia sebagai inang yang baru. Wabah ini tak hanya memakan korban jiwa banyak manusia tapi juga koloni tikus rumahan.

Bakteri ini memiliki waktu 10 sampai 14 hari untuk dapat mematikan seluruh koloni tikus sebelum akhirnya para kutu akan kelaparan dan berpindah pada manusia. Masa inkubasi pada manusia memakan waktu tiga hingga lima hari saja sebelum akhirnya orang tersebut akan jatuh sakit. Kutu terutama akan menggigit daerah lipatan seperti paha, ketiak, dan leher. Sekitar 80% korbannya akan meninggal dunia. Inilah mengapa diperkirakan korban jiwa ketika itu mencapai 50 juta orang atau sekitar 60% total dari populasi warga Benua Eropa.

The Black Death

Bakteri Yersinia pestis dari Tikus hitam | Photo by Simon Kuznetsov on Unsplash

Sejak penularan pertama kali bakteri tersebut pada seekor tikus hingga jatuh korban manusia pertama semua membutuhkan waktu kira-kira 23 hari. Contohnya ketika seseorang pergi ke suatu kota lalu ia meninggal karena memang sudah terinfeksi penyakit pes dari tempat asalnya. Maka di tempat tujuannya tersebut, penyakit itu akan menular dan memakan korban lainnya 22 hari kemudian. Inilah yang menyebabkan penyakit pes tidak hanya menjangkiti wilayah pedesaan di mana manusia hidup berdampingan dengan koloni tikus. Kutu-kutu yang terinfeksi bakteri bahkan dapat menempel pada pakaian atau koper seseorang yang bepergian ke kota lain kemudian menjangkiti seseorang di tempat tujuan. Ini disebut sebagai penyebaran metastasis.

Uniknya, penyakit pes diketahui tidak pernah mewabah pada musim dingin. Sebenarnya ini bukan hibernasi karena tikus tidak melakukannya. Namun musim dingin memang menurunkan keaktifan dari hewan pengerat ini. Perkembangbiakan mereka pun melambat. Tikus membutuhkan tempat yang hangat untuk membesarkan anak-anaknya. Mereka juga membutuhkan suplai makanan yang cukup. Para tikus akan senang bersembunyi di dalam dinding rumah agar memiliki akses untuk mengambil makanan dari tempat sampah di dapur.

Influenza merebak karena modernisasi?

Penyakit berikutnya yang terekam sejarah memiliki korban terbanyak adalah influenza alias flu. Puncaknya terjadi di tahun 1918 meski sebenarnya penyakit ini telah merebak sejak 1800-an. Namun ketika itu dunia medis belum mampu menangani influenza dan sedikit sulit mengidentifikasinya. Diperkirakan pada puncak virus influenza merebak jumlah korban jatuh mencapai 20-40 juta jiwa. Jumlahnya sulit dipastikan karena saat itupun dunia sedang kacau menghadapi perang. Virus ini juga merebak di Indonesia yang ketika itu masih bernama Hindia Belanda.

Vaksin

Ilustrasi vaksin | Photo by CDC on Unsplash

Ada banyak alasan mengapa kasus influenza merebak. Pertama karena modernisasi. Seperti halnya wabah pes yang menyebar dan memakan korban dengan cepat, modernisasi pun membuat influenza menjadi mudah tersebar luas. Manusia kini mengenal transportasi sehingga mudah untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi dengan adanya perang dunia membuat manusia berkumpul dalam jumlah besar di satu wilayah dalam satu waktu. Selain itu perekonomian dunia telah meningkat dengan terjadinya perdagangan lintas negara melalui kapal sehingga penyakit ini dapat menular hingga ke belahan bumi lainnya.

Ditambah lagi perang yang memanas membuat berita mengenai influenza justru dikesampingkan. Orang-orang lebih fokus memberitakan perang dan tak mau memberitakan influenza yang telah memakan banyak korban jiwa agar tidak menurunkan semangat juang prajurit.

Spanyol sebagai negara yang netral pada masa Perang Dunia I adalah negara pertama yang secara terbuka memberitakan mengenai wabah influenza. Hal ini menyebabkan wabah tersebut dinamai sebagai Flu Spanyol. Meski demikian bukan berarti Spanyol adalah negara asal penyakit ini. Diduga influenza berasal dari Amerika yang lalu menyebar ke Benua Eropa ketika tentara Amerika turun dari kapal dan terlibat dalam perang.

Baca Juga: 10 Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Data yang tercatat selama tujuh minggu di tahun 1918 membandingkan jumlah kematian yang terjadi secara alami dengan yang terjadi karena wabah influenza menunjukkan angka tak jauh berbeda. Di Kabupaten (Afdeeling) Malang tercatat pada minggu pertama ada 92 kematian karena sebab umum dan 66 kematian akibat influenza.

Sementara di Kawedanan (onderafdeeling) Krasak tercatat 86 kematian karena sebab umum dan 60 kematian akibat influenza. Ini jelas menunjukkan bahwa influenza memakan banyak korban jiwa. Kawedanan sendiri adalah daerah administratif yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan. Penggolongan wilayah seperti ini tidak lagi dilakukan di masa kini dan hanya dikenal pada masa penjajahan Belanda.

virus corona

Di masa itu, pengetahuan mengenai influenza masih terbatas sehingga memungkinkan adalahnya salah diagnosa. Menurut buku “Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda” dokter-dokter setempat acapkali tidak tertarik untuk menangani pasien dari kalangan pribumi. Ini karena orang-orang pribumi tidak memiliki kemampuan finansial untuk berobat.

Para dokter lebih memiliki menangani pasien dari Eropa maupun China. Selain itu, banyak pula masyarakat pribumi yang masih memercayai pengobatan alternatif dan lebih memilih pergi ke tabib. Penyebab influenza pun saat itu belum dipahami dengan baik sehingga influenza dikira berasal dari daerah pantai, rawa-rawa, maupun kanal-kanal tempat air tergenang kotor. Publik sulit membedakan influenza dengan malaria dan malah menyamakan pengobatannya dengan pil kina.

Awalnya konsulat Belanda yang berkantor di Singapura telah memberi peringatan pada kantor di Batavia untuk berhati-hati terhadap kapal dari Hongkong karena khawatir terhadap wabah influenza. Peringatan tersebut diacuhkan. Tiga bulan kemudian, pasien yang menderita influenza mulai berjatuhan.

November 1918 korban mulai meningkat di Banjarmasin. Pada bulan yang sama, korban juga bermunculan di Bali. Banyuwangi mulai mencatat peningkatan korban di Bulan Desember. Dalam waktu seminggu influenza telah menyebar di Jawa Timur dan semua berasal dari Surabaya sebagai kota pelabuhan. Bisa dilihat polanya bahwa daerah yang terjangkit merupakan tempat di mana kapal-kapal merapat.

influenza

Photo by Brittany Colette on Unsplash

Influenza yang dimaksud di sini berbeda dengan batuk pilek biasa (common cold). Flu memiliki gejala lebih parah dan umumnya datang mendadak. Sebaliknya, batuk pilek biasa hadir secara bertahap dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Flu akan menyebabkan demam, sakit kepala, hidung tersumbat, serta batuk. Influenza memiliki dua tipe virus yaitu A dan B. Tipe A dikenal lebih parah dan inilah yang umumnya mewabah. Kita pernah mengalami yang terparah di awal abad 21, yang baru hadir setelah 41 tahun yaitu influenza tipe A subtipe H1N1 alias flu babi. Untuk membedakan dengan influenza yang mewabah di tahun 1918, flu babi diberi kode A-H1N1/2009 sementara leluhurnya diberi tipe A-H1N1/1918.

Hindia Belanda alias Indonesia tercatat dalam sejarah telah mengalami berkali-kali wabah influenza. Selain di tahun 1918, kita juga telah mengalami flu burung yang dimulai pada tahun 2003 yaitu virus avian influenza alias H5N1. Meski kini kasusnya sendiri sudah mereda dan tergolong jarang, tercatat bahwa virus flu burung rata-rata terjadi seribu kasus pertahunnya. Sementara itu flu babi tercatat mencapai 150,000 kasus pertahunnya. Walau kini kita tengah dihadapi pada kecemasan mengenai virus corona, media-media di Amerika memasang headline yang menyatakan influenza tetap lebih ganas. Padahal influenza sendiri memiliki vaksinnya.

Influenza dianggap begitu menakutkan karena satu dari 20 orang yang terjangkit meninggal dunia. Bahkan bila dibandingkan dengan The Black Death, wabah influenza di tahun 1918 memakan jauh lebih banyak korban hanya dalam jangka waktu satu tahun. Influenza juga dianggap memakan lebih banyak korban dalam waktu 24 minggu dibandingkan dengan penyebaran AIDS selama 24 tahun. Saking berpengaruhnya influenza, ia tercatat dalam sejarah lokal maupun cerita-cerita tradisional bahkan nyanyian anak-anak. Influenza yang menjangkiti delegasi negara-negara yang terlibat Perang Dunia I menyebabkan negosiasi untuk menghentikan perang menjadi lebih lunak.

Sebenarnya masih ada banyak wabah-wabah lain yang menyita perhatian dunia seperti virus ebola dan virus nipah. Namun virus-virus itu tidak merebak di Indonesia sehingga gaungnya kurang terdengar. Tetapi melihat pola dari masa ke masa, mutasi virus memang tak dapat dielakkan. Sudah seharusnya umat manusia untuk terus berjuang terutama dalam ilmu medis demi menemukan cara-cara baru untuk memerangi beragam penyakit yang mengancam kelangsungan hidup. Saat ini pun vaksin untuk virus corona tengah dibuat dan diperkirakan akan siap pada musim panas nanti.

virus corona indonesia

Illustration: Sarah Grillo/Axios

Penyebaran informasi oleh media di satu sisi dapat berdampak baik karena ini dapat mengedukasi masyarakat. Berkaca pada kondisi dunia di tahun 1918 ketika pemberitaan mengenai influenza dikesampingkan, wabahnya justru menyebar luas. Masyarakat yang tidak memiliki persiapan dan tidak tahu menahu tak mampu menghadapinya. Apalagi masih adanya kepercayaan untuk memilih pengobatan tradisional dan tidak mengubah gaya hidup akan semakin mempersulit manusia untuk hidup sehat.

Namun pemberitaan mengenai virus corona yang masif akhir-akhir ini pun dapat berbahaya karena menciptakan kekhawatiran berlebihan. Padahal, alam akan selalu memunculkan kejutan-kejutannya dan kita sebagai manusia hanya memiliki pilihan untuk tetap berjuang.

Baca Juga: 
Wabah Mematikan Di Dunia dari Masa ke Masa Part 2
Wabah Mematikan Di Dunia dari Masa ke Masa Part 3

3 Comments

3 Comments

  1. irwan

    February 7, 2020 at 9:46 AM

    ijin share ya mbak

    • Cultura Editors

      February 7, 2020 at 5:40 PM

      Silahkan, bisa kasih credit via Cultura.ID

  2. Dimas Hidayat

    March 29, 2020 at 10:07 AM

    Manusia takkan mampu melawan kekuatan alam, sebaliknya kekuatan alam lah yg membantu manusia dalam menghadapi wabah penyakit buatan manusia itu sendiri. Terima kasih artikelnya. Semoga dunia kedokteran lebih terbua lagi dalam menangani sebuah kasus.

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect
%d bloggers like this: