Connect with us
the witcher netflix
The Witcher | Netflix

TV

The Witcher Review: Serial Fantasi Petualangan Pemburu Monster

Serial petualangan adaptasi yang menawarkan experience tak jauh berbeda dengan game-nya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

The Witcher merupakan Original Netflix Series yang cukup populer pada akhir tahun 2019 lalu. Dibintangi oleh Henry Cavill, Freya Allan, dan Anya Chalotra. Serial ini terkenal karena diberitakan sebagai serial adaptasi game populer dengan judul serupa. Padahal, serial ini diadaptasi dari novel karya Andrzej Sapkowski yang juga menginspirasi game petualangan The Witcher.

Terdiri dari 8 episode, ikuti petualangan Geralt of Rivia, manusia mutan dengan kekuatan abadi yang disebut sebagai Witcher. Tak memiliki keluarga, perasaan, dan hasrat, Geralt menghabiskan hidupnya berburu monster untuk koin. Cirilla adalah pemegang tahta kerajaan Cintra. Setelah kerajaannya jatuh, Cirilla harus menemukan Geralt dimana mereka berdua terhubung akan sebuah takdir.

The Witcher Review

Alur Cerita Terasa Seperti Petualangan Game

The Witcher memang memiliki materi novel yang seharusnya bisa dikembang sebagai world-building yang massive. Namun, bayang-bayang sebagai adaptasi game rupanya memang sesuai dengan kualitas serial ini. Setiap episode, sebagian besar kita akan mengikuti perjalanan Geralt memburu monster dari berbagai pihak berbeda. Layaknya menjalan sebuah quest atau misi dalam sebuah game.

Dari episode awal, memang telah ditunjukan bahwa Geralt of Rivia dan Cirilla merupakan dua tokoh kunci dalam serial ini. Namun, memasuki episode kedua dan beberapa episode ke depan, kita akan melihat lebih banyak petualangan Geralt melawan monster. Baru pada dua episode terakhir kisah kembali pada kaitan Geralt dengan Cirilla.

Karena sebuah hukum sihir tertentu, beberapa karakter dalam The Witcher tidak akan mengalami penuaan. Jangan terkecoh, serial ini sebetulnya dirilis dengan susunan episode dengan timeline yang acak. Berhubung beberapa karakter kunci tidak mengalami penuaan, penonton akan sudah menyadari adanya plot maju mundur. Tidak ada transisi maupun penjelasan yang menunjukan informasi tersebut.

Mungkin maksudnya untuk memberikan plot twist dan ‘wow’ efek pada setiap penontonnya. Jatuhnya justru membuat penonton menjadi bingung karena belum familiar dengan semesta The Witcher.

Petualangan Seru Dengan Sentuhan Aksi, Drama, Hingga Horror

Buat penonton yang menyukai serial maupun film petualangan fantasi, The Witcher bisa menjadi tontonan yang seru setiap episodenya. Ada berbagai adegan pertarungan seru antara Geralt dan berbagai jenis monster yang menegangkan.

Beberapa episode bahkan menyuguhkan kisah dengan genre horror mengandung jumpscare mengejutkan. Kita juga akan disuguhkan dengan berbagai kelas karakter seperti, penyihir (mage), mutan, naga, bangsa peri, dan berbagai fakta dunia sihir yang membuat cerita semakin materi untuk dikembangkan.

Naskah yang Kurang Dikembangkan

Kembali membandingkan serial The Witcher dengan produksi game-nya, setiap dialog dalam serial ini masih terasa seperti template dari game. Kita tak perlu memainkan game-nya untuk memahami bahwa dialog terasa datar dan dibawakan dengan bahasa yang modern.

Ada berbagai istilah dan umpatan modern yang terasa kurang sesuai dengan tema fantasi medieval. Pembawaan aksen dan dialog oleh pemain juga masih kurang konsisten. Ada beberapa karakter yang memang terdengar dari era tersebut, ada pula yang terdengar dari era modern.

Sebagai pemeran utama, Geralt of Rivia juga memiliki dialog yang sangat minim dan template-an. Tak terhitung berapa kali kita hanya akan mendengar dialog ‘hmm’ dan sebuah kata umpatan tertentu dari mulut Geralt. Meski secara keseluruhan, akting masing-masing cast cukup menyakinkan. Masalah hanya terletak pada penulisan naskah.

The Witcher sempat digadang-gadang sebagai serial populer yang menandingi Game of Thrones. Ada baiknya tidak membandingkan kedua serial tersebut dan memiliki ekspektasi tertentu sebelum memutuskan untuk menonton The Witcher. Serial dengan latar kerajaan dan medieval satu ini lebih menonjolkan sisi fantasi dan aksi, tidak seperti Game of Throne yang kaya dengan drama, intrik politik, hingga sentuhan fantasi yang komplet.

Bukan berarti Game of Thrones lebih baik dari The Witcher (mengingat akhir dari GOT season 8), keduanya jelas memiliki segmentasi penonton yang berbeda. Ada kemungkin The Witcher mendapatkan season kedua karena akhir cerita yang masih menggantung. Serial ini masih memiliki potensi untuk meningkatkan kualitasnya sebagai serial kolosal yang epic.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect