Connect with us
The Photograph

Film

The Photograph Review: Tentang Menyikapi Masa Lalu dan Masa Depan

Drama kehidupan tentang perempuan penyanyi bar dan fotografer tua yang menyimpan trauma. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Photograph” (2007) merupakan film Indonesia lama yang disutradarai oleh Nan Achnas. Sutradara kelahiran Singapura ini juga memiliki banyak karya lain yang masuk dalam katalog film terbaik Indonesia era 2000an. Mulai dari “Pasir Berbisik” (2001) dan “Bendera” (2003).

“The Photograph” bergenre drama kehidupan (slice of life) yang patut ditonton karena sudah tersedia di Disney+ Hotstar. Bercerita tentang Sita (Shanty) yang bekerja sebagai penyanyi bar dan Pak Johan (Lim Kay Tong), fotografer berdarah Tionghoa yang sedang mencari penerus usahanya.

Kisah kehidupan mereka menjadi dua plot utama yang mendominasi cerita. Meski awalnya kita mungkin akan mempertanyakan benang merahnya, pada akhirnya kita akan menemukan kisah Sita dan Pak Johan yang berbeda ternyata bisa bersinggungan. Kemudian dijadikan pelajaran berharga dalam kehidupan.

The Photograph

Hubungan Platonik Antara Fotografer Tua dan Perempuan Penyanyi Bar

Sudah lama kita tidak disuguhi film drama lokal dengan premis seperti “The Photograph”. Tak hanya naskahnya yang original, kombinasi karakter dalam film yang unik dengan hubungan platonik juga sudah jarang sekali ditemukan. Dengan gap usia yang cukup jauh antara dua karakter utama, chemistry antara Sita dan Pak Johan tergolong sebagai hubungan platonik.

Berawal dari situasi yang terpaksa, pada akhirnya mereka justru saling melindungi dan menemani. Perkembangan interaksi mereka juga terasa natural perkembangannya. Ditandai juga dengan sekuen kejadian yang mengungkap keseluruhan kisah masing-masing.

Pak Johan adalah seorang fotografer yang sedang mencari penerus dari profesinya. Namun, ada misteri yang bisa kita lihat disembunyikan oleh Pak Johan tentang keluarganya. Plot ini cukup menarik untuk membuat penonton tertarik menyimak kisah karakter ini hingga akhir. Sementara kisah Sita sebagai kupu-kupu malam terlihat lebih transparan.

Mulai dari impiannya, tanggung jawabnya, dilemanya, hingga masalah besar yang menjadi konflik cukup bikin ramai dalam “The Photograph”. Komposisi plot antara Pak Johan dan Sita menjadi seimbang. Ketika kisah Sita terasa lebih jelas, runyam, dan sering kali bikin panik, kisah Pak Johan lebih tenang namun menyimpan banyak rahasia untuk diungkap.

The Photograph

Drama Fase Lambat Melankolis dan Sentimental, Dihiasi Cameo Lucu

Sebagai film karya Nan Anchas, drama ini juga kental dengan nuansa art house dengan niche spesifik. Mulai dari latar belakang dan interaksi karakter-karakter yang unik, naskah, hingga eksekusi visualnya. Filmnya sunyi, mengandalkan narasi visual dan adegan.

Film seperti ini jenis yang memberikan penonton ruang untuk menarik makna yang tersimpan di balik naskah tanpa dipresentasikan secara gamblang. Bagi penikmat film art house dengan fase yang cukup lambat, “The Photograph” bisa jadi asupan film klasik Indonesia yang ditambahkan dalam referensi pribadi.

Namun, jangan takut bosan, film ini juga diselipkan berbagai cameo dari aktor populer Indonesia pada jamannya. Kemunculan mereka cukup tidak terduga pada beberapa adegan yang singkat. Yang paling mengejutkan adalah penampilan Nicholas Saputra, kemudian ada juga Indra Bekti dan Indra Birowo.

Kehadiran Sita juga tak hanya menghibur Pak Johan yang kesepian, namun juga kita sebagai penonton. Mengingat Ia berperan sebagai penyanyi bar malam, sangat masuk penokohan bahwa Ia memang memiliki aura ramah dan seru sebagai teman yang alami. Hal ini berkat akting dan kharisma Shanty yang sepertinya memang sudah Ia memiliki sebagai penyanyi terkenal. Kita mungkin tidak menyangkah saja, ternyata dia juga jago akting.

Sementara Lim Kay Tong adalah aktor Singapura yang tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia. Aksennya Tionghoa-nya juga membantu karakternya terlihat lebih otentik. Meski ada yang sempat berpendapat bahwa dialognya susah dipahami, kalau nonton di Disney+, ada subtitlenya. Ia juga berhasil menjadi karakter yang membuat kita kasihan dan menoreh pilu bagi penonton dengan latar belakang kisahnya.

Dua Karakter Utama sebagai Representasi Masa Lalu dan Masa Depan

(Slight Spoiler) Buat yang bertanya-tanya, apa intisari dari film “The Photograph”? Sita menjadi karakter yang merepresentasikan masa depan. Ia masih muda, optimis, dan punya mimpi yang besar; ingin menjadi penyanyi di kapal pesiar.

Sementara Pak Johan menjadi karakter yang merepresentasikan masa lalu. Ia masih dihantui rasa bersalah dan penyesalan di masa lalu. Padahal kesalahan tersebut sudah berlalu bertahun-tahun yang lamanya, seharusnya Ia sempat punya banyak waktu untuk menyongsong masa depan, memperbaiki kesalahannya. Namun Pak Johan tak memiliki ambisi melanjutkan kehidupan hingga akhirnya kita diperlihatkan masa depan dari seseorang yang gagal move on.

Sita pun tak lantas luput dari celah. Karena hanya bermimpi dan mencari uang dengan segala cara. Ia pun terjerat dalam berbagai keputusan yang salah dan konsekuensi yang membuat jatuh di situasi yang menyusahkan diri sendiri. Tak hanya terjebak dalam masa lalu karena gagal move on, terlalu terlena dengan masa depan juga bisa membuat kita terjebak di masa sekarang, tak ada kenaikan level hidup. Di sini posisi Sita dan Pak Johan bersinggungan. Di masa sekarang, dimana Pak Johan terjebak di masa lalu, sementara Sita terbuai masa depan.

Ada banyak sekali film klasik Indonesia yang sekarang bisa kita tonton di streaming platform. “The Photograph” merupakan salah satu yang patut ditonton untuk ditambahkan dalam katalog film Indonesia terbaik kita.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect