Connect with us

Film

The Man Standing Next Review

Seorang kepala badan intelejen negara membunuh presiden.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Bila ingin menonton film sejarah politik Korea Selatan berdasarkan linimasa, maka sebaiknya pertama kali kita menonton The Man Standing Next terlebih dahulu. Kedua, A Taxi Driver dan ketiga adalah 1987: When The Day Comes.

Ketiga film ini tidak dibuat oleh sutradara yang sama dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan linimasa sejarah politik Korsel. Sama-sama mengangkat isu kepimpinan yang diktator tapi menggunakan sudut pandang yang berbeda. Namun ketiganya membuat kita lebih memahami bagaimana perjuangan rakyat Korsel mencapai kondisi yang lebih ideal seperti sekarang.

The Man Standing Next

The Man Standing Next (2020)

Empat puluh hari sebelum tumbangnya rezim Park Chung Hee, Park Yong Kak bersaksi di Amerika. Ia adalah mantan kepala badan intelejen Korsel yang mencari suaka. Kesaksiannya ingin membongkar kebobrokan pemerintahan Park Chung Hee beserta skandal Koreangate.

Hal ini membuat kondisi di Korsel menjadi panas. Kepala badan intelejen saat ini, Kim Kyu Pyeong, mencoba membela Yong Kak yang juga kawan seperjuangannya. Ia dan Kwang Sang Cheon sang kepala keamanan diminta menyelesaikan masalah tersebut.

Kyu Pyeong yang lebih suka berdiplomasi dibanding langsung menarik pelatuk justru dianggap pengecut oleh presiden dan orang-orang di sekitarnya. Ia mulai disisihkan. Yong Kak sendiri memberitahunya kalau sebenarnya mereka sebagai kepala badan intelejen Korsel bukanlah tangan kanan presiden.

Presiden memiliki orang kepercayaannya sendiri yang mengelola uang panasnya. Walau tidak disebutkan dengan gamblang dalam film, nampaknya Kyu Pyeong curiga orang itu adalah Sang Cheon. Ia sendiri terus menunjukkan pada presiden kesetiaannya meski berbeda pendapat.

Namun Kyu Pyeong terus ditekan dan dipersalahkan atas insiden di Busan dan Masan. Ia dianggap tak becus. Sang Cheon bahkan memprovokasi presiden agar mereka membunuh siapapun yang melawan. Katanya, seharusnya Korsel bisa meniru Kamboja yang bisa membunuh jutaan rakyatnya dengan tank.

Terus ditekan membuat Kyu Pyeong meledak. Ia justru melancarkan kudeta dengan membunuh presiden. Walau dituduh melakukannya karena sakit hati akibat disisihkan, ia menyangkal. Baginya ia melakukannya demi rasa cinta pada negara.

The Man Standing Next Review

The Man Standing Next

Bila dibandingkan dengan 1987: When The Day Comes dan A Taxi Driver, maka The Man Standing Next adalah yang paling berantakan plotnya. Penonton akan sulit memahami peran-peran tokoh di dalam film ini beserta plotnya.

Seharusnya skenarionya bisa lebih baik lagi mengingat ini adalah film sejarah sehingga ada beban untuk mengedukasi publik tentang kejadian yang sebenarnya. Orang jadi sulit paham mengenai kejadian di masa itu bila skenarionya kurang smooth.

Tak hanya intrik politik Korsel yang penuh pengkhianatan dan isu korupsi, kita juga akan dibuat bertanya-tanya kenapa Amerika “ikut campur” dalam kasus ini. Sayang ini justru menjadi plot hole karena kurang dijelaskan. Ditambah lagi Koreangate disebut-sebut sekilas saja tanpa membuat penonton paham. Banyak tanda tanya yang membuat kita penasaran sebenarnya apa kaitannya antara masalah ini dan masalah berikutnya.

Sama seperti dua film lainnya, The Man Standing Next juga masih mengangkat isu komunisme meski hanya sedikit. Bisa dibilang Korsel yang beberapa kali di bawah kepemimpinan diktator itu terus dibayang-bayangi kebencian terhadap komunisme.

Siapa saja yang melawan rezim pemerintah dicap komunis walau tak ada buktinya. Bahkan Kyu Pyeong terang-terangan disuruh mengkambinghitamkan siapa saja agar kasus cepat ditutup sehingga ada yang bisa disalahkan. Pemerintahan diktator ini juga tidak terima jika harus dihukum ketika bertindak sewenang-wenang karena merasa kedudukan mereka absolut.

Film yang dibuat berdasarkan novel nonfiksi Namsanui Bujangdeul garapan Kim Choong Sik ini sebenarnya mengganti beberapa nama tokoh utamanya. Kita perlu mengapresiasi tim penata rias yang berhasil menyulap para aktor dan aktris agar secara fisik sesuai dengan tokoh sebenarnya. Misalnya Lee Sung Min yang memerankan tokoh sang presiden. Struktur rahangnya dan bentuk telinganya terlihat sedikit berbeda.

Selain itu film ini sengaja memberikan ciri khas dengan mengambil gambar banyak scene menggunakan pencahayaan redup. Pencahayaan yang redup sengaja dibuat untuk menambah kesan dramatis.

Pada banyak adegan wajah tokoh dalam film sengaja hanya disorot sebagian seperti gambaran yang kita dapat pada ruangan dengan lampu bohlam kuning. Hanya saja cara menyorotnya dalam film terkesan lebih aestetik.

Film ini juga berusaha menekankan bahwa syuting benar-benar dilakukan di Eropa (yang dingin) sehingga penekanan ditunjukkan dengan tone film warna biru.

Walau cukup membuat berdebar di beberapa bagian sayangnya film ini tak banyak mengaduk emosi kita. Rasa frustasi akan lebih banyak kita dapatkan pada 1987: When The Day Comes. Namun film ini jelas lebih serius dari A Taxi Driver sehingga kita takkan menemukan scene dengan selipan komedi.

Akting para aktor dan aktrisnya jangan ditanya, tentu saja bagus. Pantas saja mereka mendapatkan banyak nominasi dan penghargaan. Untuk sebuah film sejarah, The Man Standing Next memang layak tonton.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect