Connect with us
a taxi driver

Film

A Taxi Driver: Kisah Supir Taksi Saat Pemberontakan di Gwangju

Seorang supir taksi yang berperan dalam proses demokrasi di Korea Selatan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

A Taxi Driver merupakan film berdasarkan sejarah politik di tahun 1980 dengan latar pemberontakan di Gwangju, ibukota Provinsi Jeolla. Pemberontakan Gwangju pun beberapa kali disebut-sebut dalam 1987: When The Day Comes.

Dalam 1987: When The Day Comes, Chun Doo Hwan telah berkuasa sebagai presiden. Namun dalam A Taxi Driver ia adalah seorang brigadir jenderal yang memenangkan kudeta internal di institusi militer Korea Selatan. Ia berhasil menduduki posisi sebagai kepala BIN, mendeklarasikan darurat militer, dan mengokohkan kekuasannya di Korsel.

A Taxi Driver (2017)

A Taxi Driver (2017)

Film dimulai dengan Kim Man Seob, supir taksi yang heran dengan tingkah laku anak muda pada saat itu. Ia berpikir bahwa anak muda Korsel tidak bersyukur padahal negaranya sudah sangat baik tapi mereka malah sibuk berdemo. Man Seob sendiri hidup sebatang kara. Ia memiliki tunggakan 100 ribu dolar untuk uang sewa rumah. Sementara itu karena sibuk bekerja ia seringkali meninggalkan sang putri sendirian. Di pikirannya hidup hanya untuk mengumpulkan uang.

Saat terdesak karena membutuhkan uang, Man Seob mendengar obrolan sesama supir taksi di meja sebelah bahwa ada orang asing yang membutuhkan tumpangan ke Gwangju. Bila berani mengantar di jam makan siang dan membawa pulang ketika malam maka akan diupah 100 ribu dolar. Tanpa basa-basi Man Seob mengambil kesempatan itu. Ia pun bertemu dengan Jürgen Hinzpeter, seorang jurnalis Jerman yang penasaran dengan desas-desus kondisi politik di Korsel.

A Taxi Driver (2017)

A Taxi Driver (2017)

Man Seob yang acuh dan selama ini tak banyak tahu mengenai kondisi negaranya pun terbuka matanya ketika mengantar Peter ke Gwangju. Ia berkali-kali menolak kenyataan hingga melihat dengan mata kepala sendiri ketika militer membantai rakyat sipil.

Sebenarnya Man Seob tidak benar-benar senang harus bekerja pada Peter karena khawatir akan keselamatannya. Ia juga memikirkan bagaimana putrinya yang menunggu di rumah. Saat itu isi hati Man Seob terbelah. Ia bingung apa yang harus dilakukan.

A Taxi Driver mungkin tidak meninggalkan kesan sekuat 1987: When The Day Comes. Film ini juga cenderung lebih ringan dan memiliki selipan humor di beberapa bagian. Namun bukan berarti kita tidak dapat melihat kenyataan yang begitu mengerikan.

Bahwa Korsel yang seringkali meneriakkan anti komunisme ternyata pernah tak jauh berbeda dengan saudara di sampingnya, Korut. Politiknya carut marut, penuh kudeta, pelanggaran HAM, dan otoriter. Rakyat diadu domba. Media yang di bawah kekuasaan pemerintah justru menyiarkan hal yang tidak sebenarnya.

A Taxi Driver (2017)

A Taxi Driver (2017)

Sebagai informasi tambahan, awalnya pemberontakan di Gwangju dimulai oleh mahasiswa. Karena saat itu di bawah tangan besi Chun Doo Hwan, universitas benar-benar ditekan. Aktivitas akademis dikendalikan negara.

Namun ketika militer mencoba membungkam demo mahasiswa, dampaknya justru lebih buruk lagi. Penduduk Gwangju sama-sama bangkit dan melawan. Tak mengherankan di antara para demonstran bahkan banyak yang sudah lanjut usia. Gwangju sendiri merupakan basis kelompok oposisi.

A Taxi Driver merupakan sebuah film sejarah politik yang betul-betul menarik. Politik tak hanya lahan milik politikus ataupun aktivis saja. Seorang supir taksi pun bisa memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan politik suatu negara.

Seperti yang dilakukan Man Seob yang awalnya hanya dimotivasi oleh uang, ia berhasil membantu Peter menyiarkan kekejaman pemerintah Korsel ke mata dunia.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect