Connect with us
1987: When the Day Comes
1987: When the Day Comes

Film

Membongkar Dosa Penguasa Lewat Film 1987: When the Day Comes

Bagaimana perjalanan Korea Selatan menemukan demokrasi?

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Ada sedikit kemiripan antara sejarah politik Indonesia dengan Korea Selatan. Indonesia baru merasakan pemilihan langsung pertama kalinya dalam memilih presiden di tahun 2004. Ketika itu presiden yang terpilih adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara Korsel telah menorehkan sejarah pemilu pertamanya di tahun 1987. Sejarah inilah yang mendasari dibuatnya film 1987: When The Day Comes.

Setelah merdeka, Korsel beberapa kali dipimpin oleh diktator. Presiden pertama Korsel adalah Syngman Rhee yang menjabat tahun 1948-1960 alias 12 tahun. Sejak eranya dimulailah gerakan anti komunis di Korsel. Setelah dimakzulkan ia digantikan oleh Park Chung Hee yang menjabat tahun 1963-1979 dengan latar belakang militer. Park Chung Hee lalu ditumbangkan oleh Kepala BIN Korea saat itu, Kim Jae Gyu. Ia menyatakan motifnya membunuh karena sang presiden merupakan hambatan dalam demokrasi.

Namun hal tersebut disanggah oleh kepala investigasi pembunuhan tersebut yaitu Chun Doo Hwan. Menurutnya pembuhan terjadi karena motif pribadi sang kepala BIN, bukan demi negara. Setelah pembunuhan tersebut Chun Doo Hwan sempat menjadi presiden de facto selama setahun sebelum akhirnya benar-benar memimpin Korsel pada 1980-1988. Pada akhir masa kekuasaannya yang menjadi latar film ini adalah pertama kalinya pergantian kekuasaan di Korsel dilakukan dalam damai.

Scene dibuka dengan terbunuhnya Park Jong Chul, seorang mahasisiwa jurusan bahasa yang aktivis pro demokrasi. Ia ditangkap karena diduga terkait dengan aktivis yang menjadi kunci dari keresahan pemerintahan Presiden Chun Doo Hwan yaitu Kim Jung Nam. Jong Chul dibunuh oleh lima detektif yang berada di bawah Divisi Anti Komunis yang dipimpin oleh Direktur Park. Direktur Park adalah orang Korut yang berhasil menyelamatkan diri ke Korsel dan mendapat posisi penting dalam pemerintahan.

1987: When the Day Comes

1987: When the Day Comes

Sampai di sini penonton mungkin berpikir, kenapa Divisi Anti Komunis malah menangkap aktivis pro demokrasi, bukan aktivis yang pro komunis? Inilah masalah karena kepempinan rezim diktator di kala itu. Siapa saja yang tidak setuju dengan pemerintah dan menyuarakan perbedaan dianggap memberontak. Mereka dilabeli komunis, ditangkap, lalu disiksa. Mereka dituduh menjadi kaki tangan Presiden Korut saat itu, Kim Jong Il. Padahal tuntutan mereka hanya pemilu.

Tentu saja demi menjaga nama baik pemerintah, kematian Jong Chul harus disembunyikan dengan sempurna. Karena itu Divisi Anti Komunis harus meminta tanda tangan Jaksa Choi Hwan untuk mendapat izin kremasi. Hal tersebut menyalahi aturan hukum sehingga Jaksa Choi menolak. Ia ngotot kalau Jong Chul harus diautopsi dulu sebelum dikremasi. Hasil autopsi yang akan membuka borok pemerintah berusaha ditutupi. Media dihalangi mencari informasi. Kepolisian nasional pun tetap pada pendiriannya mengatakan Jong Chul mati terkena serangan jantung.

Seorang jurnalis yang gigih, Yoon Sang Sam, berhasil menemukan titik terang dari kasus tersebut. Namun kebenaran saja tidak cukup. Demi menjaga wibawa pemerintah, kesalahan ditimpakan kepada lima detektif di bawah Divisi Anti Komunis. Padahal mereka hanya menjalankan perintah. Kepolisian, kementrian, dan presiden cuci tangan dari kasus. Direktur Park berusaha menyelamatkan anak buahnya. Ia gagal. Di titik itu ia menyadari bahwa negara mengkhianatinya. Negara tak peduli pada kerja kerasnya.

Di sisi lain ada sipir penjara bernama Byeong Yong yang bertugas sebagai kurir. Ia membawakan informasi yang dihimpun dari para tahanan politik pada Kim Jung Nam. Namun mata-mata negara makin banyak dan ia sulit bergerak. Ia lalu berusaha mendapat pertolongan dari keponakannya, Kim Tae Ri. Keponakannya bukanlah mahasiswi yang kritis. Tae Ri hanya mau menjalani hidup yang aman karena menurutnya rakyat akan kalah bila melawan pemerintah.

1987 When the Day Comes

1987: When the Day Comes

Color grading yang diberikan pada film ini menguatkan suasan sendu. Film ini memang bergenre thriller. Namun mood utama yang akan kita rasakan sepanjang film bukanlah ketegangan melainkan keputusasaan dan kesedihan. 1987: When The Day Comes juga menguatkan rasa sedih dan putus asa itu melalui scene-scene khas di mana kita bisa melihat butiran salju turun. Ditambah lagi perasaan kosong itu dikuatkan melalui pengambilan gambar dengan angle bird eye pada jalanan yang lengang.

Film ini beritme cepat dan rasanya sedikit seperti menonton dokumenter. Kita diajak melihat dengan sudut pandang orang ketiga tanpa narator yang menjelaskan siapa-siapa yang terlibat. Tak ada pula kita dengar konflik batin dari para tokohnya. Semua digambarkan melalui adegan-adegan maupun ekspresi yang gelap, nanar, pedih, marah, dan merasa terkhianati. Inilah yang membuat Direktur Park yang diperankan oleh Kim Yun Seok mendapatkan tiga penghargaan sebagai aktor terbaik melalui film ini.

Walaupun tokoh dalam film ini sangat banyak namun sutradara maupun penulis skenarionya sangat terampil dalam menciptakan plot sehingga kita tidak dibuat bingung. Kita justru mengerti walau tanpa dijelaskan melalui narasi.

Adegan per adegan sungguh kuat sehingga kita mampu merasakan gejolak emosi karakter-karakternya. Salah satu scene paling kuat adalah ketika Detektif Jo Han Kyung mengonfrontasi Direktur Park ketika ia dikambinghitamkan. Apakah benar mereka adalah pahlawan negara? Ataukah mereka sekadar penjahat saja?

1987: When The Day Comes mungkin adalah salah satu film sejarah politik terbaik di Korea. Kesan yang ditimbulkan begitu kuat. Walau kita bukan rakyat Korsel, kita dapat memahami perjuangan mereka.

Apa yang mereka lakukan tidak sia-sia. Darah yang tumpah bukanlah tanpa makna. Mereka berhasil meraih apa yang mereka impikan. Selain nasionalisme, film ini juga berhasil menyelipkan sisi religius rakyat Korsel.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect