Film

The Man from Toronto Review: Petualangan Laga Komedi Tanpa Objektif Memikat

Aksi Kevin Hart dan Woody Harrelson yang mudah dilupakan. 

“The Man from Toronto” merupakan Netflix Original bergenre laga terbaru yang sedang trending di platform-nya. Film ini disutradarai oleh Patrick Hughes, dibintangi oleh komedian, Kevin Hart dan Woody Harrelson. Bercerita tentang Teddy, seorang pria asal New York, yang ahli dalam kegagalan. Ingin sekali saja merayakan ulang tahun istri dengan sempurna, lagi-lagi Ia terjerumus dalam masalah dalam skala besar.

Kali ini Ia melakukan kesalahan yang membuat dirinya diidentifikasi sebagai ‘Man from Toronto’. Dikenal sebagai sosok yang misterius, Man from Toronto dikenal ahli dalam melancarkan ‘metode spesialnya’ untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari target client.

Netflix telah merilis banyak film bergenre suspense action maupun action comedy, namun banyak yang berakhir sebagai judul dalam katalog yang terlupakan. Padahal tak jarang nama aktor besar terlibat dalam film. Apakah “Man from Toronto” hanya film laga yang lewat di Netflix kali ini? Berikut ulasan lengkapnya.

The Man from Toronto

Konsep Organisasi Kriminal yang Menarik Namun Tidak Dikembangkan dengan Tepat

Film ini dibuka dengan monologue komedi Teddy sebagai online trainer yang payah. Menandai bahwa karakter ini yang akan menjadi badut dalam naskah laga ini. Sebagai film komedi, prolog ini mungkin dimaksudkan sebagai komedi pemanas. Sayangnya adegan ‘komedi’ tersebut tidak berhasil membuat penonton tertawa.

Kemudian langsung beralih ke sosok yang lebih serius dan misterius, Man from Toronto yang memiliki reputasi sebagai pria yang mengerikan hanya dengan mengancam targetnya secara verbal. Kita kemudian akan mempelajari bahwa Toronto bekerja untuk organisasi kriminal yang lebih besar. Hingga pada babak tertentu, kita menemukan bahwa tak hanya Man from Toronto yang dipekerjakan oleh Handler (Ellen Barkin), ada juga Man from Miami (Pierson Fode). Penampilan Miami kelihatan nyentrik dan cukup berkesan sebagai salah satu antagonis dalam skenario ini.

Konsep bahwa Handler mempekerjakan banyak pembunuh bayaran profesional dari setiap kota di berbagai negara, merupakan konsep yang menarik. Beberapa pembunuh lainnya juga memiliki penampilan yang menarik, sayang kita tidak akan melihat banyak aksi dari organisasi kriminal ini.

The Man from Toronto

Aksi Laga Penuh Ledakan dan Materi Komedi yang Tanggung

Sebagai film laga komedi, “The Man from Toronto” tidak menyuguhkan materi komedi yang mutlak lucunya. Mengingat film action comedy seperti “Rush Hour” atau “ 21 Jump Street”, yang berhasil membuat penonton diserang dengan humor yang bertubi-tubi, film satu ini akan terasa hambar. Ada beberapa adegan dengan skenario lucu, namun tidak akan memancing tawa hingga terbahak-bahak. Kevin Hart mungkin komedian yang bisa membuat penonton tertawa sebagai komika. Namun, jika naskah yang harus Ia eksekusi tidak lucu, dibawakan oleh seorang komedian pun tidak akan secara ajaib jadi lucu, bukan?

Buat penggemar film action dengan sekuen bertarung dan ledakan, film ini cukup dinamis dalam elemen laganya. Meski agresif dan brutal, visual yang diperlihatkan tidak terlalu kental dengan unsur kekerasan. Minim darah tanpa kenampakan adegan menyerang yang terlalu eksplisit.

Casting Aktor Besar Tidak Mampu Selamatkan Naskah yang Membosankan

Kevin Hart dan Woody Harrelson merupakan dua aktor Hollywood dengan spesialisasi masing-masing. Hart terkenal sebagai komedian yang lucu. Sementara Harrelson memiliki persona fleksibel antara skenario serius dengan komedi. Keduanya juga telah tampil semaksimal mungkin untuk menghidupkan karakter masing-masing.

Masalahnya, Baik Teddy maupun Toronto tidak memiliki latar belakang karakter yang kuat. Apa prinsip mereka, apa objektif, dan prioritas mereka dalam skenario antara hidup dan mati. Meski film ini adalah film komedi, elemen action yang menegangkan dengan segala konsekuensinya juga harus tetap terasa nyata. Tidak dianggap ringan dimana setiap karakter memiliki akhir cerita seakan tidak pernah ada yang terjadi.

Selain dua karakter utama, pihak lain dalam skenario seperti istri Teddy, pihak FBI, hingga penjahat utamanya juga tampil setengah-setengah. Tidak ada komitmen besar yang mereka tanggung dalam skenario film laga road trip ini. Perkembangan kronologi plot yang disajikan juga tidak memikat tanpa momentum.

Pada akhirnya, “The Man from Toronto” bisa jadi menghibur beberapa penggemar film laga santai, namun akan segera dilupakan setelah tidak trending lagi di Netflix.

Bernadetta Yucki

Writer, hardcore movie enthusiast who believes in pop culture.

Share
Published by
Bernadetta Yucki