Connect with us
The Lobster

Film

The Lobster: Stigma Kaum Single dan Standar Pasangan di Masyarakat

Sajian satir Yorgos Lanthimos menanggapi stigma orang single dan standar pasangan ideal. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Lobster” (2015) merupakan film drama satir percintaan karya sutradara Yorgos Lanthimos. Yorgos Lanthimos terkenal dengan naskah-naskahnya yang bernuansa drama dystopia. Dimana ada tatanan masyarakat atau gaya hidup yang unik, namun mengandung nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan nyata.

“The Lobster” menjadi film dengan konsep skenario yang sekilas tampak absurd dan surreal. Padahal, jika kita mau menganalisa lebih dalam, ada banyak poin dalam film ini yang menjadi simbolis dari stigma maupun standar seputar kehidupan percintaan di dunia nyata.

Naskah “The Lobster” sendiri berpusat pada kisah cinta protagonis bernama David (Colin Farrell). Ia tinggal di peradaban dystopia, dimana orang berstatus lajang didiagnosis sebagai pasien gangguan jiwa. Setelah bercerai karena sang istri memilih untuk berpindah hati pada selingkuhannya, David pun dijemput untuk masuk hotel rehabilitasi karena tidak memiliki pasangan lagi. Di hotel tersebut, David harus menemukan pasangan dalam waktu 45 hari. Jika tidak, Ia harus pasrah diubah menjadi bintang sesuai dengan pilihannya. David memilih untuk menjadi lobster karena binatang tersebut memiliki umur yang panjang.

The Lobster

Ketika Orang Single Disamakan dengan Binatang

Meski seringkali hanya berubah candaan di lingkaran pertemanan kita, masih ada stigma akan orang melajang. Kebanyakan stigma yang dilontarkan untuk kaum jomblo berupa hinaan yang merendahkan. Melajang kerap diasosiasikan pada situasi yang bernuansa kehampaan dan kesepian. Adapula yang dianggap ‘tidak laku’ dalam kehidupan percintaan. Secara tidak sadar, kita yang masih melajang juga tak ragu melontarkan candaan yang merendahkan diri sendiri.

Bagi kita yang sudah di atas 20 tahun, juga kerap diteror dengan pertanyaan seputar pasangan. Mulai dari sudah punya calon apa belum, hingga ‘kapan nikah?’ setiap berkumpul dengan keluarga besar. Semakin tua kita melajang, semakin banyak stigma buruk yang dilontarkan oleh orang pada kita.

“The Lobster” memberikan hinaan terbesar pada kaum jomblo dengan menyamakan mereka dengan binatang. Ya, binatang secara harfiah. David yang melajang tidak boleh kembali ke masyarakat sebagai manusia jika tidak menemukan ‘belahan jiwa’ selama menjalani rehab. Dalam film ini, saudara David menjadi contoh yang sudah menjadi nyata.

Saudaranya juga sempat direhabilitasi karena melajang. Ia gagal menemukan pasangan dan memilih untuk diubah menjadi anjing agar bisa kembali ke keluarganya sebagai peliharaan.

The Lobster

Pasangan Ideal Harus dari Latar Belakang yang Sama

Sebelum menjalani rehabilitasi, David dipaparkan tentang peraturan dan proses yang harus Ia jalani di hotel tersebut. Salah satu statemen yang menarik dari manager hotel adalah setiap orang hanya boleh berpasangan jika memiliki kesamaan. Layaknya binatang, bintang hanya bisa kawin dengan binatang sejenis. Tidak sendirian, David bertemu dengan teman baru di hotel tersebut. Ada pria yang pincang, Ia fokus mencari wanita lain yang pincang.

Pada babak selanjutnya, David bertemu dengan belahan jiwanya justru setelah kabur dari hotel. Ia bergabung dengan sekte lajang yang tinggal di hutan, dimana menjalin hubungan dilarang. Namun David tidak bisa berpaling dari seorang wanita dengan mata rabun jauh, sama seperti dirinya. Hingga ketika wanita tersebut menjadi buta, David berpikir untuk menusuk matanya dengan garpu agar Ia juga buta. Karena Ia masih terjebak dengan definisi belahan jiwa dari hotel rehabilitasi; bahwa pasangan harus memiliki kesamaan untuk bisa serasi.

Kita juga hidup di masyarakat yang masih mengutamakan kesamaan dalam menjalin hubungan. Mulai dari mencari pasangan dengan kepercayaan yang sama, kelas sosial yang sama, hingga latar belakang etnis yang sama. Tak sedikit dari kita berkorban untuk bisa mencapai ‘kesamaan’ agar direstui oleh keluarga dan masyarakat. Ada yang memilih untuk menyamakan kepercayaan rohani dengan pasangan. Adapula yang berusaha bersosialisasi dan bekerja di lingkungan yang mampu mendongkrak status sosial.

Pernikahan sebagai Perlindungan Manusia dari Penghakiman Masyarakat

“The Lobster” memiliki skenario yang memberikan urgensi pada setiap karakter lajang di dalamnya. Sebagai pasien lajang, hotel mengekang berbagai aktivitas yang memenuhi kebutuhan biologis mereka secara mandiri. Mereka baru bisa melakukan ketika sudah resmi mendapatkan pasangan dan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Mengubah pasien menjadi binatang jika gagal selama rehabilitasi juga menambah tekanan. Pada akhirnya, pasien tak lagi mencari pasangan dengan dasar cinta. Mereka hanya ingin keluar dari hotel dan tidak berakhir sebagai bintang.

Teman David, pria pincang sampai rela membenturkan hidungnya agar berdarah. Karena Ia ingin serasi dengan seorang wanita yang sering mengalami mimisan. Tak sekali dua kali, pria pincang harus membenturkan hidungnya secara berkala, bayangkan rasa sakit yang harus Ia rasakan selama pernikahan? Namun, baginya kesengsaraan tersebut lebih baik daripada menjadi binatang.

Banyak orang pada akhirnya menikah hanya karena tekanan dari keluarga dan masyarakat. Meski belum mantap berkomitmen, mumpung ada pasangan yang mau, mereka memilih untuk menikah secepatnya. Berpikir bahwa menikah akan melengkapi status mereka sebagai orang dewasa sesuai konstruksi sosial. Bekerja, menikah, dan membangun keluarga sebelum melampaui usia 30 ke atas. Label tersebut masih esensial bagi banyak orang di masyarakat kita.

Pada akhirnya, ini hanya pandangan umum tentang kehidupan percintaan yang terkandung dalam “The Lobster”. Meski peradaban kita kini sudah modern, dengan segala alternatif pandangan hidup yang baru, “The Lobster” merupakan film dengan metafora menarik sebagai simbol stigma dan standar pasangan di masyarakat yang masih konservatif.

Triangle of Sadness Triangle of Sadness

Triangle of Sadness Review: Satir Tentang Kesetaraan Duniawi

Film

first blood 1982 first blood 1982

First Blood Review: Awal Perjuangan Rambo Menghadapi Trauma Perang 

Film

Slumberland Review Slumberland Review

Slumberland Review: Petualangan Nemo & Flip Lari dari Kenyataan

Film

The Holiday The Holiday

The Holiday Review: Tontonan Musim Liburan yang Ringan & Romantis

Film

Connect