Connect with us
The Gentlemen
STX Films

Film

The Gentlemen Review: Kombinasi Aksi dan Komedi Memuaskan dari Segala Sisi

Film ini memberikan perasaan yang sama seperti ketika menonton Knives Out.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Ada sebuah film yang sedang tayang di bioskop dan tidak begitu banyak mendapat sorotan, namun ternyata sangat menghibur dan wajib ditonton sebelum turun layar. The Gentlemen bercerita tentang seorang ekspatriat Mickey Pearson yang membangun sebuah bisnis marijuana yang sangat menguntungkan di London. Ketika tersiar kabar bahwa Mickey bermaksud menjual seluruh bisnisnya, muncul berbagai intrik, siasat, suap menyuap, dan pemerasan dari berbagai pihak agar dapat mencuri lahan kekuasaannya.

Hampir tiga perempat film diceritakan secara naratif oleh salah satu tokoh dalam film. Sederhananya, kita akan menyaksikan dua orang berdialog, dengan salah satu di antara mereka menjadi sang penutur cerita. Nah, pada dasarnya, sinopsis yang beredar di internet merupakan gambaran dari cerita yang dituturkan.

Tentu saja tidak sepenuhnya cerita berupa narasi. Jadi, penonton tidak perlu takut bosan. Tetap ada scene asli, dimana Mickey Pearson dan kolega-koleganya beraksi, sebagai gambaran nyata dari cerita yang dituturkan. Kita—para penonton—hanya diposisikan sebagai pihak yang (secara tidak langsung) ikut mendengar cerita dari sang penutur pada lawan bicaranya.

The Gentlemen Review

STX Films

Sisi aksi dari film ini terlihat dari adegan-adegan Mickey Pearson (dan beberapa tokoh yang berada di sisinya) bertemu dengan lawan-lawannya. Dan seperti klaimnya, film ini selain bergenre crime/action, juga ada komedinya. Bagusnya, film ini berhasil menunjukkan sisi komedinya tanpa terkesan dipaksakan sama sekali. Lawakan-lawakan dalam film ini disajikan melalui obrolan tiap tokoh, dan tentu saja, paling banyak dilontarkan oleh tokoh yang berperan sebagai ‘sang penutur cerita’ pada lawan bicaranya.

Selayaknya melihat dua orang yang cukup karib, dan salah seorang di antara mereka—alias sang penutur cerita—adalah tipikal orang yang ceplas-ceplos. Mungkin, dalam dunia sehari-hari, ini sama halnya seperti melihat dua orang yang cukup dekat bergunjing dan bergosip, dengan sang pembawa gosip sangat berapi-api dalam menyampaikan gosipnya, sambil sesekali menambahkan bumbu-bumbu dalam gosip agar lebih panas. Beberapa dialog antar tokoh lainnya, selain si penutur cerita, juga ada yang mengandung unsur komedi. Kita akan dibuat tertawa hanya karena umpatan-umpatan yang keluar dari mulut para tokoh.

Selain itu, kita juga akan terpuaskan secara visual oleh The Gentlemen. Warna dan pencahayaan dari keseluruhan film akan sangat memuaskan mata selama dua jam kurang tujuh menit. Dari segi akting? Bahkan, hingga para pemeran pembantu yang hanya muncul semenit-dua menit pun semuanya berakting dengan bagus dan tidak kaku. Walaupun tidak semua, masih ada beberapa tokoh minor—bahkan sangat minor—yang “kurang ngena” dengan perannya, namun itu tidak menutupi bagusnya akting kebanyakan tokoh di film ini.

Yang kurang dari film ini pun hanya hal-hal minor dan mendetail yang tidak terlalu berpengaruh pada cerita, tidak membuat kita sampai mempertanyakan ini film macam apa. Ingat film yang cukup ramai di bulan November lalu berjudul Knives Out? Film ini memberikan perasaan yang sama seperti ketika menonton Knives Out. Walaupun berbeda genre, namun jika bisa menikmati menonton Knives Out, kita juga akan menikmati menonton The Gentlemen.

Sebagai penutup, ada satu quotes yang lumayan iconic, diucapkan di bagian awal dan akhir film, menjadi pembuka sekaligus penutup dari film ini.

“If you wish to be the king of the jungle, it’s not enough to act like a king. You must be the king. There can be no doubt. Because doubt causes chaos and one’s own demise.”

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect