Connect with us
The French Dispatch
Searchlight Pictures

Film

The French Dispatch Review

Eksplorasi visual Wes Anderson yang melampaui ekspektasi. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The French Dispatch of the Liberty, Kansas Evening Sun” (The French Dispatch) merupakan karya sutradara quirky, Wes Anderson. Selain menjadi film live action terbaru semenjak “The Grand Budapest Hotel” (2014) yang meraih banyak penghargaan pada Oscar 2015 silam, cukup antisipatif karena bertabur bintang film mancanegara populer. Mulai dari Bill Murray, Owen Wilson, Tilda Swinton, kemudian ada aktris Prancis, Lea Seydoux, bintang muda, Timothee Chalamet dan Saoirse Ronan, dan masih banyak lagi bintang Hollywood lainnya. 

Arthur Howitzer Jr (Bill Murray) adalah kepala editor dari surat kabar bernama French Dispatch di Prancis pada abad ke-20. Kisah langsung dimulai dengan kabar duka meninggalnya pimpinan surat kabar tersebut. Para jurnalis yang kerja untuk Arthur pun berniat untuk membuat obituari Arthur Howitzer Jr disertai dengan tiga artikel cerita pendek dalam edisi terakhir French Dispatch.

Ketika film ini diumumkan pada 2018 silam, Wes Anderson menyebutkan bahwa “The French Dispatch” merupakan ‘surat cinta’ yang didedikasikan kepada jurnalis.

The French Dispatch Review

Obituari dengan Tiga Cerita Pendek yang Quirky

Berbeda dengan film-film sutradara Anderson sebelumnya, film ini terdiri dari banyak bagian cerita layaknya kumpulan halaman yang membentuk surat kabar. Film dibuka dengan narasi yang memperkenalkan kita pada sosok Arthur Howitzer Jr dan surat kabar yang Ia pimpin pasca Perang Dunia II. Kemudian dilanjutkan dengan cerita pendek “The Cycling Reporter” yang dibawakan oleh seorang penulis lepas, Herbsaint Sazerac (Owen Wilson). 

Memasuki babak antologi utama, kita akan menyimak tiga cerita pendek; “The Concrete Masterpiece”, “Revisions to a Manifesto”, dan “The Private Dining Room of the Police Commissioner”. Cerita pertama mengisahkan seorang narapidana dengan isu kesehatan mental yang memiliki bakat istimewa di bidang melukis. Cerita kedua terinspirasi oleh protes mahasiswa pada Mei ‘68, fokus pada kisah seorang pemuda dengan manifestonya. Cerita terakhir dalam antologi mengisahkan drama penculikan anak seorang komisaris kepolisian. Hingga akhirnya ditutup dengan epilog yang berisi obituari Arthur Howitzer Jr. 

Wes Anderson selalu memiliki ciri khas naskah drama memadukan unsur komedi dan materi depresif dengan cara yang quirky. Tak lupa diberi skenario drama yang membuat penonton merasakan perasaan sentimental. Meski kita baru mengenal French Dispatch sekitar satu jam saja, kita juga akan ikut berduka atas meninggalnya kepala editor dan perilisan edisi terakhir dari surat kabar tersebut.

The French Dispatch Review

Visual Khas Wes Anderson yang Melampaui Ekspektasi

Kita pasti memiliki ekspektasi tertentu ketika hendak menonton film terbaru dari Wes Anderson. Unsur yang paling khas dari sutradara ini adalah penerapan sinematografinya yang ‘tegak-lurus sempurna’ dengan tema warna pastel yang vibrant. Dalam “The French Dispatch”, ada adegan yang disajikan dengan filter berwarna, namun tak sedikit pula yang menerapkan filter hitam-putih.

Pada beberapa babak, kemunculan frame berwarna menjadi highlight sempurna untuk menandai sebuah adegan krusial. Contohnya saja pada kisah “The Concret Masterpiece”, warna dihadirkan untuk menunjukan lukisan masterpiece dari Moses Rosenthaler. Kemudian pada cerita ketiga, ketika anak komisaris meminta seorang wanita untuk menunjukan warna bola matanya. 

Melebihi ekspektasi kita akan film bernuansa pastel yang tegak-lurus saja, sutradara Anderson akan memanjakan mata kita dengan desain visual kaya aset melalui film ini. Pada bagian prolog dan “The Cycling Reporter”, konsep visual yang diterapkan terlihat seperti lukisan bergerak. Menerapkan angle kamera yang lebar dan still, ada banyak adegan yang terjadi dalam satu frame secara kronologis. 

Tidak main aman dengan satu konsep visual saja, kita akan melihat eksplorasi tema visual lainnya dalam setiap babak film ini. Ada kesinambungan dari satu babak adegan yang penuh dengan detail menarik. Seakan setiap gerakan dan gesture aktor benar-benar diarahkan untuk memenuhi visi visual film yang ada dalam benak kreatif Anderson. Mulai dari subjek utama dalam sebuah frame, hingga hal sekecil pelayan yang membagikan minuman, kita bisa melihat bahwa semuanya diarahkan oleh Anderson.  

Desain Produksi Artistik dan Detail

Terciptanya sinematografi yang memanjakan dan melampaui ekspektasi penontonnya, tak lepas dari desain produksi “The French Dispatch” yang maksimal. Mulai dari desain set studio yang teatrikal, desain karakter dengan makeup dan kostum yang unik, hingga setiap aset tiga dimensi maupun dua dimensi yang memberikan variasi pada keseluruhan proyek film ini. 

Kita bisa melihat usaha mewujudkan properti dalam set “The French Dispatch” dari tangan para staff logistik proyek seni ini. Dalam “Revisions to a Manifesto”, konsep visual yang dieksekusi memiliki tema seperti panggung sandiwara, dilengkapi dengan rel pada set untuk menggerakan properti latar. Kemudian ada eksekusi adegan dimana setiap aktor diarahkan bagaikan diorama hidup tanpa CGI, hingga aset visual animasi 2D sebagai variasi.

Ada banyak usaha analog dan eksekusi dengan unsur teknikal detail terlihat dalam setiap adegan, dari awal hingga akhir film. “The French Dispatch” merupakan karya sutradara Wes Anderson yang menyajikan eksekusi melampaui ekspektasi semenjak “The Grand Budapest Hotel”.

Kita bisa melihat visi kreatif dan eksekusi visual yang teknikal dalam seni pembuatan film melalui film artistik ini. Tak hanya kemasan saja yang memikat, naskah drama yang terkandung di dalamnya pun tak kalah menghibur dan kaya cerita layaknya sebuah surat kabar. “The French Dispatch” sudah bisa kita streaming di Disney+ Hotstar.

Click to comment

Teka-teki Tika Review Teka-teki Tika Review

Teka-teki Tika Review: Wadah Eksperimen Tanggung Rasa

Film

Django Unchained Django Unchained

Django Unchained Review: Kisah Balas Dendam Seorang Budak

Film

Cyber Hell: Exposing an Internet Horror Cyber Hell: Exposing an Internet Horror

Cyber Hell: Exposing an Internet Horror Review

Film

A Beautiful Mind A Beautiful Mind

A Beautiful Mind Review: Kisah Perjuangan Matematikawan Peraih Nobel

Film

Advertisement
Connect