Connect with us
The Falcon and The Winter Soldier

TV

The Falcon and The Winter Soldier Review: Kulik Sisi Humanis Pahlawan Super

Alih-alih tampil dengan penuh fantasi, serial ini berhasil memikat dengan segala sisi manusiawi para karakternya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Marvel Cinematic Universe (MCU) merupakan salah satu semesta sinema yang tergolong established di masa kini. Selain tampil dengan segala kemegahannya, semesta ini juga tidak keberatan untuk mengeksplor sisi manusiawi dari para karakternya. Salah satunya yang seperti itu adalah serial The Falcon and The Winter Soldier yang tayang secara eksklusif pada platform Disney+.

The Falcon and The Winter Soldier merupakan serial enam episode dari pemikiran Malcolm Spellman yang diarahkan oleh Kari Skogland. Miniseries ini juga mengusung banyak bintang, seperti Anthony Mackie, Sebastian Stan, Wyatt Russell, Erin Kellyman, Daniel Bruhl, sampai Emily VanCamp.

The Falcon and The Winter Soldier Review

Disney/Marvel Studios

Seperti judulnya, kisah yang diusung dalam miniseries berlatar semesta Marvel tersebut berpusat pada dua karakter, yakni Sam Wilson (Falcon) dan James ‘Bucky’ Barnes (Winter Soldier) setelah kejadian di Avengers: Endgame. Meski awalnya berpisah, keduanya kemudian dipersatukan dengan hadirnya ancaman baru dan berusaha untuk mengatasi hal tersebut.

Premis yang diusung oleh The Falcon and The Winter Soldier ini sebenarnya sangatlah generic, dimana kehadiran threat baru membuat para superhero di dalamnya harus beraksi kembali. Outcome yang diusung juga sangat mudah ditebak dan serasa main aman, karena pada akhirnya pahlawan yang akan Berjaya.

Namun, bukan itulah yang ingin disorot oleh Malcolm Spellman dan Kari Skogland dalam serial ini. Alih-alih hanya fokus pada sekadar gebuk-gebuk dan aksi para orang-orang super, The Falcon and the Winter Soldier ingin menampilkan human side dari para karakter yang menjadi sorotan.

The Falcon and The Winter Soldier Review

Disney/Marvel Studios

Mulai dari Sam dengan tekad penuh damai dan terbebaninya ia dengan membawa tameng Captain America, Bucky yang sulit berdamai dengan trauma masa lalunya, sampai John Walker, sang Captain America baru yang seakan berusaha mendapatkan impresi serupa seperti Steve Rogers dulu. Semuanya terangkum secara epik dalam enam episode yang penuh roller coaster ini.

Karena hal tersebutlah, sebagian besar karakter terasa multi-dimensional dengan segala konflik yang mereka miliki. Tidak hanya protagonist, para antagonist juga diberikan character development yang terlihat sangat make sense. Hal inilah yang membuat penonton bisa jadi merasa peduli dengan segala tindakan dan pengambilan keputusan para karakter, termasuk ke pihak villain sendiri dan sekaligus mengajak penonton untuk berkontemplasi bersama.

Akan tetapi, The Falcon and The Winter Soldier juga tak melupakan jati dirinya sebagai satu serial bertema action superhero dengan segala adegan aksinya. Dalam hampir semua episode, penonton dijamin akan sangat terpuaskan dengan segala fight scene yang disajikan oleh miniseries eksklusif Disney+ ini.

Belum lagi dengan treatment serial ini terhadap source material-nya yang cukup accurate, walau ada beberapa bagian yang sedikit dimodifikasi demi memenuhi plot yang diusung. Dengan begini, fans lama pun akan sangat mudah untuk mencintai serial ini meski episodenya tidak terlalu banyak seperti WandaVision yang panjangnya sembilan episode.

Selain itu, segi teknis juga menjadi unggulan dalam The Falcon and The Winter Soldier. Mulai dari penggunaan set yang baik meski tidak terlalu megah, scoring yang placement-nya pas dengan adegannya, sampai ke sinematografinya yang menawan, membuat serial ini terasa sangat feasible untuk dinikmati sampai akhir.

Pada akhirnya, The Falcon and The Winter Soldier mampu tampil baik dengan sisi humanisnya tanpa perlu mengandalkan banyak gimmick fantasi seperti film dan serial sebelumnya. Bahkan bisa dibilang, serial ini juga akan mengajak penonton untuk dapat berdiskusi dengan apa yang benar dan salah dalam setiap keputusan, membuatnya lebih everlasting walau bukan jadi lineup terbaik.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect