Connect with us
The Devil’s Advocate Review

Film

The Devil’s Advocate Review: Lihainya Iblis Menjerumuskan Manusia

Film bertema iblis dengan konsep sempurna dan plot yang menarik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Kevin Lomax (Keanu Reeves) adalah seorang pengacara yang lihai dalam memenangkan kasus hukum. Prestasi dan ambisi Kevin akhirnya menarik perhatian sebuah firma hukum besar di New York milik John Milton (Al Pacino).

Tawaran tersebut memberikan berbagai kesempatan besar untuk karir Kevin dan kehidupan yang lebih berkelas bersama istrinya. Namun, ketika pekerjaan tersebut meminta sesuatu lebih dari keahlian sebagai pengacara, mampukah Kevin menolak atau terus menantang ambisinya?

“The Devil’s Advocate” mungkin memang tidak termasuk film klasik top tier, namun salah satu yang patut ditonton.

The Devil’s Advocate Review

Firma Hukum Sebagai Media Iblis Melancarkan Tugasnya di Bumi

Film psychological thriller ini memiliki konsep sangat menarik dan dekat dengan kehidupan. Bagaimana iblis dikenal memiliki kemampuan memanipulasi manusia untuk jatuh dalam dosa. Bagi kita yang punya kepercayaan, apapun profesinya, iblis selalu memberikan cobaan atau godaan, bukan? Namun, sebagai materi naskah, kehidupan pengacara merupakan yang paling tepat.

Media ini memang didesain sempurna untuk membuat manusia jatuh dalam dosa (jika menggunakan cara licik), dan memberikan dampak buruk bagai efek domino. Dan itulah objektif iblis, membuat manusia jatuh dalam dosa sekaligus menyebarkan kesengsaraan bagi orang lain. Deskripsi tersebut merupakan gambaran dari naskah “The Devil’s Advocate” yang menarik.

Sekalipun ada sentuhan fantasi dalam film ini, ada banyak hal yang sangat relevan dengan kehidupan. Bahkan dalam skenario terburuknya, semuanya merupakan kenyataan bagaimana manusia mampu mengambil keputusan yang salah untuk mengikuti ambisi pribadi atau menyelamatkan diri dari konsekuensi dosa.

Film ini memiliki plot linear yang mudah diikuti, namun mengandung berbagai agenda yang menarik untuk disimak dan dianalisa. Melalui perspektif Kevin Lomax, kita bisa melihat perbandingan antara karir yang semakin melonjak dengan seberapa besar harga yang harus Ia bayar.

The Devil’s Advocate

Adu Akting Keanu Reeves dan Al Pacino yang Menarik untuk Disaksikan

Sebagai dua pemeran utama, Keanu Reeves dan Al Pacino berhasil mengeksekusi masing-masing peran secara maksimal. Interaksi antara keduanya dalam setiap frame terasa sangat luwes dan seru untuk disimak. Bagaimana Keanu berperan sebagai Kevin Lomax yang lugu sekaligus ambisius, dan Al Pacino yang menyakinkan dan lebih berpengalaman sebagai John Milton.

Kevin digambarkan sebagai manusia yang masih di antara baik dan jahat. Dibandingkan dengan John Milton, Ia tak terlihat tidak sedikit pun memiliki keraguan, dan sangat lihai memutar balik kalimat. Dari situ kita langsung bisa melihat bahwa karakter John adalah ‘sesuatu yang lain’.

Mulai dari casting, akting, kemudian penokohan yang sudah mantap dari adaptasi novelnya, salah satu kekuatan utama dari “The Devil’s Advocate” adalah setiap detik interaksi antara Kevin Lomax dan John Milton yang esensial dan dieksekusi dengan sempurna.

Ditutup dengan Plot Klise yang Menurunkan Kualitas Sebagai Produk Film

Salah satu aspek yang membuat film ini mendapat rating standard bisa jadi karena formula ending yang termasuk “tabu” dalam produksi film. Ketika mencapai babak terakhir antara Kevin Lomax dan John Milton, sentuhan fantasi langsung masuk dan menguasai cerita.

Mulai dari plot twist, arahan akting, dan eksekusi adegan yang mulai terasa kontras dengan realita di babak-babak sebelumnya. Kemudian diakhiri dengan ‘twist’ akhir yang terlarang dalam kebanyakan film. Trik ini kerap membuat beberapa penonton merasa lega atau justru kesal karena merasa ditipu.

Namun, melihat berbagai rentetan perjalanan Kevin Lomax hingga akhir bisa kita ilhami sebagai sebuah pelajaran. Dimana penyesalan selalu datang terakhir, bahkan tak pernah terbesit sedikit pun pada babak pertama jika kita memiliki ambisi yang kuat. Jika Kevin memiliki ‘protagonist privilege’, kita sebagai manusia harus lebih bijak membuat keputusan dari awal.

Secara keseluruhan, “The Devil’s Advocate” bisa menjadi pelajaran keras bagi manusia untuk tidak mudah terjatuh dalam bujukan iblis. Lepas dari beberapa eksekusi yang tidak sesuai dengan “etika” dalam membuat film, esensi dan pesan yang disampaikan sudah dieksekusi dengan sempurna.

Memoir of A Murderer Review Memoir of A Murderer Review

Memoir of A Murderer Review

Film

Prey netflix review Prey netflix review

Prey Review: Pemburu Misterius yang Mengincar Para Pendaki

Film

Kate Netflix Kate Netflix

Kate Review: Film Action Gaya Hollywood dengan Estetika Jepang

Film

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Culture

Advertisement
Connect