Connect with us
The Day Before the Wedding

Film

The Day Before the Wedding: Balada Persahabatan Cosplayer Pengantin

Jujung realism dan presentasi otentik, masih kurang dalam eksplorasi premis yang sebetulnya punya banyak potensi.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Day Before the Wedding” merupakan film drama Indonesia yang sutradarai oleh Razka Robby Ertanto. Ia juga sebelumnya menyutradarai film “Cross The Line” dan “Ave Maryam”. Kerap angkat latar belakang kehidupan karakter yang masih jarang dieksplorasi di sinema Indonesia, film drama dengan poster dua pengantin yang mencuri perhatian dengan estetikanya ini adalah balada cosplayer di Kota Tua, Jakarta. Film ini dibintangi oleh Amanda Rawles sebagai Clara dan Della Dartyan sebagai Kinan.

Clara dan Kinan adalah dua bersahabat yang menyambung hidup sebagai cosplayer pengantin di Kota Tua. Meski sangat dekat dan satu perjuangan, keduanya memiliki dua mimpi berbeda sebagai wanita. Clara ingin menjadi pramugari sementara Kinan tak sabar melepas lajang dan menikah dengan kekasihnya, Gerald (Keanu Campora). Namun, masalah muncul ketika keduanya hamil dari pria yang sama.

Potrait Kehidupan Cosplayer di Kota Tua yang Otentik

Razka Robby Ertanto tampaknya sangat berpihak pada golongan working class di kota besar dan melakukan usaha terbaik untuk sajikan potrait yang otentik. Upaya yang sama juga kembali kita lihat pada “The Day Before the Wedding”. Kita akan mengikuti rutinitas Clara, Kinan, bersama teman-teman cosplayer lainnya, diarahkan dengan naskah serta sekuen adegan yang sederhana dan otentik. Dialog yang dibawakan juga apa adanya, tidak didramatisir, serta dibawakan dengan alami oleh setiap aktornya.

Sinematografi film ini mengingatkan kita pada “Cross The Line”. Salah satu keahlian sutradara Razka sejauh ini adalah “meromantisasi” latar kehidupan warga sosial bawah terlihat lebih artistik. Kita semua mungkin bisa mengira, bahwa lokasi-lokasi ini pastinya kumuh dan tidak sedap dipandang jika kita datangi langsung. Namun pemilihan filter dan editing film ini membuat filmnya tetap enak dipandang setiap frame-nya. Satu saja kekurangan tekniknya adalah mixing dan mastering suaranya.

Penokohan Karakter dan Penampilan Akting Amanda Rawles

Meski kita melihat ada dua karakter yang di-highlight, “The Day Before the Wedding” lebih banyak mengikuti sudut pandang Clara. Terutama kisahnya yang berusaha mencapai mimpi di Jakarta sebagai pramugari. Kita akan mengikuti Clara yang bolak-balik menjalani tes pramugari, sembari ngamen sebagai cosplayer karena hanya dengan profesi tersebut ia bisa menghasilkan uang.

Penampilan Amanda Rawles menjadi yang terbaik dalam film ini. Ada beberapa adegan dimana ia mampu menampilkan emosi yang alami dan meyakinkan. Meski masih kurang porsinya dalam menampilkan latar belakang persahabat antara kedua karakter, Amanda dan Della untungnya sanggup menampilkan chemistry yang cukup untuk menyentuh hati penontonnya.

Penampilan Keanu Campora masih kurang. Justru karakter pendukung yang menjadi cosplayer biarawati tampil lebih berkesan setiap kali muncul diadegan, meski tidak terlalu banyak.

Banyak Premis Menarik Namun Eksplorasi Kurang Mendalam

“The Day Before the Wedding” dari posternya sudah terlihat menarik, membaca premisnya kita juga langsung memiliki ekspektasi bahwa ini bakal sajikan naskah yang baru dalam skenannya. Ada banyak premis yang menarik dalam skenario ini, sayangnya tidak dipresentasikan dengan lebih artistik dalam penulisan naskahnya. Pertama, latar belakang dua karakter utama sebagai cosplayer Kota Tua, ini masih menjadi premis yang presentasinya sudah bagus dalam naskah.

Kedua, dualitas antara Clara dan Kinan ini juga menarik. Kinan tidak mau sulit-sulit membangun karir, dia hanya ingin segera menikah, menjadi istri dan ibu. Sebaliknya Clara ingin jadi wanita karir dan tidak terlalu melihat romantisnya suatu pernikahan. Ini ternyata karena ia adalah anak dari istri kedua ayahnya yang berpoligami. Premis-premis menarik ini nyatanya hanya ditampilkan ala kadarnya dalam setiap adegan. Hanya satu dua adegan saja, tanpa dialog dengan kedalaman yang eksploratif yang kohesif.

Sutradara Razka jelas memiliki ide yang menarik untuk filmnya ini, namun sepertinya masih kurang digodok untuk membentuk naskah yang lebih sinematik. Terlihat usaha sutradara yang menjunjung realism dan cita rasa otentik untuk film ini, sayangnya eksekusinya masih kurang untuk menghasilkan naskah yang kesempurnaannya solid. Namun secara keseluruhan, “The Day Before the Wedding” masih layak tonton di Netflix buat penikmat film lokal bermuatan kehidupan sosial yang mengangkat latar tidak biasa.

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect