Quantcast
The Cure 'Songs of a Lost World' Refleksi Tentang Kehilangan - Cultura
Connect with us
The Housemaid Korea
The Cure Songs of a Lost World
Cr. Roberto Ricciuti/Redfer (2022)

Music

The Cure ‘Songs of a Lost World’ Refleksi Tentang Kehilangan

Karya terbaik sejak Margaret Thatcher berkuasa.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Setelah penantian panjang 16 tahun, The Cure akhirnya merilis album ke-14 mereka “Songs of a Lost World” pada 1 November 2024. Album ini melanjutkan tradisi band yang dikenal karena menggabungkan melodi melankolis dengan lirik yang introspektif.

Dengan total delapan lagu, album ini menawarkan perjalanan emosional melalui tema kehilangan, kerentanan, dan penyesalan, menghadirkan estetika sonik yang terasa familier namun lebih dewasa dan matang.

Narasi Gelap dan Kekuatan Emosi

Album dibuka dengan “Alone,” sebuah trek atmosferis yang menekankan perasaan kesendirian dan ketakutan akan perubahan. Robert Smith, sang vokalis, menggambarkan lagu ini sebagai cerminan ketidakpastian yang mendalam, memperkenalkan nada album secara keseluruhan.

Lagu-lagu seperti “And Nothing Is Forever” dan “I Can Never Say Goodbye” memperkuat tema-tema kesedihan dan kehilangan, terutama terkait pengalaman pribadi Robert Smith dalam menghadapi kepergian orang-orang terkasih.

Album ini ditutup dengan “Endsong,” sebuah epik berdurasi lebih dari 10 menit yang mengeksplorasi waktu dan kefanaan. Lagu ini menyajikan perjalanan yang tidak hanya melankolis tetapi juga penuh kedalaman emosional, menjadikannya salah satu trek paling berkesan di diskografi band ini. Komposisi instrumental yang kaya—termasuk piano dan pedal steel—menciptakan nuansa atmosferik yang kuat tanpa terkesan berlebihan.

The Cure: Songs of a Lost World

Diproduksi bersama oleh Robert Smith dan Paul Corkett, album ini memadukan nuansa langsung dengan aransemen yang cermat. ‘Songs of a Lost World’ berhasil menggabungkan elemen klasik The Cure dengan energi baru, menjadikannya lebih mirip ‘Disintegration’ (1989) yang reflektif daripada ‘4:13 Dream’ (2008) yang lebih eksperimental. Lirik-lirik Robert Smith tetap puitis dan kompleks, mengundang pendengar untuk menyelami makna tersembunyi di balik setiap barisnya.

Meskipun album ini berisi beberapa momen gelap, musiknya tetap diimbangi dengan melodi yang indah, seperti terlihat dalam “A Fragile Thing.” Album ini menunjukkan bahwa The Cure masih mampu membuat karya yang relevan dan emosional, bahkan setelah puluhan tahun berkarya di dunia musik.

‘Songs of a Lost World’ bukan hanya album kembalinya The Cure, tetapi juga karya yang memperlihatkan refleksi mendalam dari perjalanan panjang mereka. Setiap lagu terasa seperti meditasi tentang waktu, kehilangan, dan makna, dengan komposisi yang kuat dan lirik yang mengena. Robert Smith dan kawan-kawan menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk membuat musik yang mendalam dan menggugah.

Album ini adalah bukti bahwa The Cure tetap relevan dan mampu memberikan karya berkesan di tengah perubahan zaman. Dengan keseimbangan antara melankolia dan harapan, ‘Songs of a Lost World’ akan menjadi tambahan yang berharga bagi katalog panjang mereka dan layak mendapat tempat istimewa di hati para penggemar lama maupun baru.

Crazy Aerosmith Crazy Aerosmith

Crazy: The Girlhood Road Trip That Rewired ’90s Pop Culture

Culture

Michael Jackson – Dangerous: Ambisi Pop yang Menentukan Masa Depan Musik Global

Music

Picture Parlour – The Parlour Picture Parlour – The Parlour

Picture Parlour – The Parlour: Pintu Masuk ke Dunia Rock Baru yang Penuh Imajinasi

Music

Lorde Virgin Lorde Virgin

Lorde ‘Virgin’ Album Review: Pengakuan Diri yang Sunyi dan Penuh Luka

Music

Advertisement Drip Bag Coffee
Connect