Connect with us
THE 24TH
Vertical Entertainment

Film

The 24th Review: Dekolonisasi Brutal dalam Sejarah Amerika

Menyuguhkan penggambaran yang jujur mengenai kekerasan polisi dan diskriminasi terhadap orang kulit hitam di AS pada tahun 1917.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Da 5 Bloods (2020) memberikan sebuah kisah mengenai para mantan tentara kulit hitam yang telah bertugas di Perang Vietnam, berfokus pada ambivalensi mereka dalam mengabdi kepada negara yang tidak mengakui hak-hak mereka. Sementara The 24th membawa penonton lebih jauh ke belakang, di tahun 1917 ketika tentara-tentara kulit hitam masih berusaha untuk membuktikan bahwa mereka pantas untuk ditugasi dalam Perang Dunia I. Kedua film berbicara tentang ambivalensi atau konflik yang ada dalam para tentara kulit hitam, tetapi keadaan dan tujuan mereka tidak serta merta sama.

The 24th Review

Vertical Entertainment

The 24th berfokus pada kisah Boston, seorang pria kulit hitam muda berpendidikan yang telah bergabung dalam resimen infanteri ke-24 Amerika Serikat setelah menyelesaikan studinya di Sorbonne, Paris. Dengan warna kulitnya yang termasuk terang, Ia dipuja sekaligus dibedakan dari tentara-tentara lainnya. Boston dianggap sebagai seorang pria kulit hitam yang dapat berperan di kedua sisi hitam dan putih. Namun begitu, semasa penugasannya dalam resimen ke-24, Ia menyaksikan begitu banyak diskriminasi dan kekerasan baik terhadap warga kulit hitam serta tentara kulit hitam. Hal ini lambat laun memuncak hingga mencapai peristiwa yang dikenal sejarah sebagai pemberontakan Houston tahun 1917.

Diarahkan dengan kejujuran yang brutal dari Kevin Willmott, The 24th dibuat dengan mode cahaya natural yang meningkatkan keaslian dari peristiwa-peristiwanya. Adegan-adegan di dalamnya sengaja dituliskan dengan penuh kekerasan, tanpa ampun, dan demi mengganggu para penonton. Dengan bantuan Brett Pawlak dalam aspek sinematografi, filmnya tidak hanya menangkap peristiwa-peristiwa yang bergulir hingga titik pemberontakan dalam perincian yang sangat jelas, tetapi juga pemberontakannya sendiri di tengah gelapnya malam.

The 24th Review

Vertical Entertainment

Meskipun visual film ini tidak memiliki kekurangan dari segi apa pun, jajaran pemain film ini tidak dapat dikatakan sama halnya. Performa mereka cukup baik, tetapi gagal membawa tingkat keterlibatan emosional yang tinggi dengan para penonton. Bahkan Trai Byers yang memerankan protagonis utama, Boston, terlihat tersesat dalam pikiran karakternya yang penuh konflik dan tidak memberikan banyak hal ke muka penonton.

Untungnya, alur kisah film ini cukup menambal performa yang biasa saja tersebut. Film ini mengisahkan keadaan pikiran orang kulit hitam yang rumit yang sudah lama ditunggu untuk diceritakan dalam film. Meskipun sangat menyakitkan, dan sewaktu-waktu rasanya terlalu berlebihan, untuk menyaksikan seluruh kekerasan yang dihadapi oleh orang kulit hitam pada saat itu, hal tersebut memiliki peran yang penting dalam kisahnya. Seluruh kekerasan dan perlakuan tidak baik terhadap orang kulit hitam yang ditunjukkan dalam film adalah pendorong utama yang menyebabkan pemberontakan nantinya.

Meskipun sebagian besar orang mungkin melihat kisah ini hanya sebagai pembalasan dendam ras biasa, kisah ini lebih dari itu pada intinya. Ini mengenai kemanusiaan mereka, kemanusiaan yang telah diambil dari hak-haknya di negara yang mereka abdikan. Ini bukan jenis kemanusiaan yang penuh kebaikan, kasih, dan kelembutan. Karena kebencian dan kekerasan juga merupakan bagian dari kemanusiaan. Ini adalah cara mereka melakukan dekolonisasi, seperti kata Frantz Fanon.

The 24th Movie Review

Vertical Entertainment

Orang kulit hitam telah hidup melalui ratusan tahun perbudakan, dan bahkan setelah perbudakan telah dilarang oleh hukum, mereka masih belum diperlakukan seperti manusia yang setara. Hukum Jim Crow, suatu hukum segregasi antara orang kulit hitam dan kulit putih di Amerika, serta merta mendukung ketidaksetaraan tersebut. Mereka masih diperlakukan sebagai ras yang inferior, non-manusia yang dapat dipukul dan dibunuh orang kulit putih tanpa perlindungan hukum yang setimpal. Orang kulit hitam menyaksikan ketidakadilan ini dalam dian, seperti Sersan Hayes dalam film ini, sementara pemikiran bahwa kekerasan sama dengan kuasa terus menumpuk di dalam diri mereka. Hingga akhirnya mereka membebaskan diri melalui kekerasan juga.

Memang tragis bahwa orang kulit hitam harus menggunakan kekerasan untuk membebaskan diri mereka sendiri, tetapi yang lebih tragis adalah bagaimana orang kulit putih masih hanya melihatnya sebagai tindakan kekerasan semata-mata tanpa tujuan dekolonisasi.

Melalui film ini, Kevin Willmott berusaha untuk menyampaikan pesan tersebut dan memaksa penonton untuk menyaksikan kekerasan brutal yang dialami oleh orang kulit hitam. Memang seharusnya mengganggu karena sang sutradara/penulis skenario ini ingin dunia mengetahui bahwa jalan menuju dekolonisasi melalui kekerasan tidak terjadi dalam satu malam. Dekolonisasi adalah akumulasi dari penindasan sistematis yang tidak mengenal ampun.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect