Di awal 1980-an, Reykjavík bukanlah pusat perhatian dunia seperti sekarang. Ia hanyalah sebuah ibu kota yang terisolasi, dingin, dan sedikit membosankan. Namun, di balik keheningan lanskap vulkaniknya, sebuah generasi remaja tengah gelisah, mencoba menerjemahkan energi punk dari London menjadi sesuatu yang sangat lokal dan liar.
Di sinilah kita menemukan Tappi Tíkarrass, sebuah band yang namanya mungkin terdengar seperti lelucon kasar, namun secara musikal menjadi fondasi bagi salah satu karier paling transformatif dalam sejarah musik modern: Björk Guðmundsdóttir.
Lebih dari Sekadar Nama Provokatif
Bagi telinga asing, nama Tappi Tíkarrass mungkin tidak bermakna apa-apa. Namun dalam bahasa Islandia, ia memiliki arti yang cukup “mengganggu”: Cork the Bitch’s Ass. Nama ini lahir dari sebuah kritik spontan ayah sang basis yang menyebut musik mereka seperti “sumbat” pada lubang yang salah. Alih-alih tersinggung, mereka justru mengadopsinya sebagai identitas.
Band ini berdiri di persimpangan yang menarik. Ketika banyak band punk saat itu hanya peduli pada tiga chord dan kemarahan, Tappi Tíkarrass justru menyelipkan elemen funk, jazz fusion, hingga disco ke dalam struktur post-punk mereka. Di sinilah letak skeptisisme saya sebagai jurnalis: seringkali band remaja hanya meniru, tetapi Tappi Tíkarrass—terutama dalam album penuh mereka, Miranda (1983)—menunjukkan keberanian untuk bereksperimen yang jauh melampaui usia mereka yang saat itu masih belasan tahun.
Kemunculan Sang Ikon: Björk di Usia 15 Tahun
Björk bergabung dengan Tappi Tíkarrass saat ia baru berusia 15 tahun. Meski ia pernah merilis album anak-anak di usia 11 tahun (sebuah proyek yang ia benci karena merasa tidak memiliki kontrol kreatif), Tappi Tíkarrass adalah tempat di mana ia benar-benar “menemukan” suaranya.
Jika kita mendengarkan lagu seperti “Iltíebbe” atau “London”, kita bisa mendengar embrio dari teknik vokal Björk yang kita kenal sekarang. Ada geraman punk yang kasar, jeritan yang tiba-tiba melengking, hingga phrasing jazzy yang tidak terduga. Ia tidak sekadar bernyanyi; ia sedang bertarung dengan mikrofon. Melalui band ini, ia melepaskan diri dari label “anak ajaib” dan bertransformasi menjadi seorang seniman provokator.

Warisan “Rokk í Reykjavík”
Visual paling ikonik dari era ini terekam dalam dokumenter legendaris Rokk í Reykjavík (1982). Björk, dengan gaun kuning cerah dan pipi yang masih menunjukkan sisa-sisa lemak bayi, tampil dengan intensitas yang hampir menakutkan. Momen ini menandai pergeseran budaya di Islandia—dari sekadar peniru menjadi pencipta identitas baru.
Secara kolektif, Tappi Tíkarrass adalah bukti bahwa musik Islandia tidak pernah takut untuk menjadi aneh. Mereka menggabungkan kegelapan The Cure dengan ritme dansa yang janggal. Meskipun mereka hanya merilis satu album penuh, pengaruh mereka terhadap gelombang alternative rock berikutnya—seperti KUKL dan nantinya The Sugarcubes—tidak bisa diremehkan.
View this post on Instagram
Mengapa Kita Harus Mendengar Mereka Sekarang?
Membahas Tappi Tíkarrass hari ini bukan sekadar nostalgia untuk penggemar berat Björk. Ini adalah studi tentang bagaimana keterbatasan geografis dan keberanian artistik bisa melahirkan sesuatu yang orisinal. Tappi Tíkarrass adalah “sumbatan” yang melepaskan tekanan kreativitas di Islandia, membiarkan aliran musik eksperimental membanjiri dunia.
Bagi para penikmat musik yang haus akan kejujuran mentah, mendengarkan Miranda adalah sebuah perjalanan waktu. Kita diajak melihat seorang bintang dunia saat ia masih menjadi remaja punk yang hanya ingin membuat kebisingan di sebuah gudang kecil di Reykjavík. Tanpa Tappi Tíkarrass, mungkin kita tidak akan pernah mendapatkan Debut, Post, atau Homogenic. Mereka adalah kepingan puzzle pertama dari sebuah jenius yang menolak untuk dijinakkan.

