Connect with us
ulasan story of kale
Visinema Pictures

Film

Story of Kale: When Someone’s in Love Review

Film spinoff dari semesta NKCTHI, membahas kisah Kale sekaligus mengangkat isu toxic relationship.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah salah satu film yang menggetarkan bioskop Indonesia di awal 2020. Sebagai salah satu tontonan paling bermakna tahun ini, NKCTHI menghadirkan ragam karakter menarik, salah satunya adalah Kale yang diperankan Ardhito Pramono.

Kale menjadi karakter yang banyak diperbincangkan semenjak perilisannya. Oleh karena tindakannya di NKCTHI, netizen meminta untuk dibuatkan satu segmen khusus membahas dirinya. Itulah yang dijadikan kesempatan bagi Angga Dwimas Sasongko untuk membuat feature film Story of Kale: When Someone’s in Love, eksklusif di Bioskop Online.

Story of Kale: When Someone’s in Love adalah film terbaru dari Visinema Pictures yang merupakan prequel spinoff dalam semesta NKCTHI.

Film ini dibintangi oleh Ardhito Pramono, Aurelie Moeremans dan Arya Saloka sebagai pemeran utamanya. Seperti judulnya, film ini berkisah tentang masa lalu Kale ketika ia memulai hubungan asmara dengan Dinda. Hubungan inilah yang kemudian membentuk dirinya dan mengubah pandangannya terhadap cinta.

Story of Kale: When Someone’s in Love Review

Visinema Pictures

Story of Kale dikemas dalam durasi kurang lebih 77 menit. Seperti pendahulunya, film ini tampil dengan alur maju mundur untuk menguatkan kisah yang terjadi antara Kale dan Dinda.

Alur majunya membahas mengenai hubungan Kale dan Dinda yang shaky, dengan perlahan melihat mereka berkompromi untuk kejelasan asmara mereka. Sedangkan alur mundurnya tampil untuk menegaskan beberapa momen yang sedang dibahas dari sekuens sebelumnya.

Sekilas, melihat alurnya yang seperti ini seakan membuat kita menonton NKCTHI dengan cerita yang berbeda. Walau tidak memberikan visual cue mengenai kapan alurnya maju dan mundur, Story of Kale ini sangat mudah untuk dinikmati.

Materi promosi dari Story of Kale menampilkan isu mengenai toxic relationship. Masalah ini kerap ditemui di sekitar kita, dan membawanya kembali dalam bentuk film bukanlah opsi yang buruk.

Dengan durasi yang tak lama, Story of Kale cukup berhasil dalam menampilkan bagaimana beracunnya sebuah hubungan ketika minim cinta dan justru lebih banyak kekerasan di dalamnya. Mudah sekali bagi kita untuk relate dengannya, terutama untuk yang memang pernah terjebak dalam toxic relationship.

Karena isu yang dibawa itu, Story of Kale terasa seperti film Posesif (2017) arahan Edwin. Masalah yang dibawakan pun hampir sama, dengan beberapa perbedaan pada pengemasan akhir.

Story of Kale berfokus pada tiga karakter, yakni Kale, Dinda dan Argo. Mereka adalah center dalam film ini, walau yang jadi spotlight adalah Kale dan Dinda. Tiga karakter tersebut digambarkan dengan baik dan memiliki keunikannya masing-masing. Kale yang tampil penuh cinta dan bisa emosional karenanya, Dinda yang nyentrik nan carefree, dan Argo yang menggebu-gebu dengan screen time-nya yang tidak terlalu lama. Semuanya memberikan nyawa terhadap Story of Kale. Bahkan, karena representasinya yang apik, mudah sekali untuk mengilhami setiap karakternya.

Story of Kale merupakan film panjang kedua Ardhito Pramono. Di sini, ia disandingkan dengan Aurelie Moeremans dan Arya Saloka yang punya jam terbang lebih tinggi. Walau begitu, Ardhito mampu tampil dengan cukup baik, dengan beberapa bagian mampu menampilkan emosi nan nyata. Meski lebih baik dari Ardhito, Arya nampak berlebihan dengan perannya.

Dari dua pemeran tersebut, Aurelie yang mengusung akting paling mendingan. Dengan berbagai cakupan emosi yang ditampilkan, karakter Dinda terasa lebih lively dan bisa jadi lovable.

Visinema Pictures terkenal dengan teknis filmnya yang terlihat ciamik. Inilah yang sebenarnya menjadi power dari Story of Kale. Dari segi visual terlihat cool dan colorful. Cocok sekali dengan nuansa cerita yang dibawakan oleh Angga Sasongko mengenai Kale.

Sisi scoring pun jadi poin yang tak pernah dilewatkan dalam filmografi Visinema. Alunan backsound-nya sukses menghidupkan berbagai momen, baik ketika senang hingga yang paling sedih. Di samping itu, soundtrack yang diusung pun juga cocok sekali untuk telinga milenial. Selain dari Ardhito Pramono yang menyumbang satu lagu dari diskografinya dan dua original soundtrack, ada pula dua lagu dari band Arah yang tergolong eargasm. Ya pokoknya pas buat anak muda kekinian.

Story of Kale adalah film spinoff NKCTHI dengan isu toxic relationship yang dibawakan dengan apik. Didukung dengan penceritaan yang cukup bagus dan teknis yang ciamik, film ini akan mudah diterima oleh generasi Z dan milenial.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect