Connect with us
Slipknot
Photo via Wallpaperflare

Music

Slipknot: We Are Not Your Kind Album Review

Menceritakan tentang kehidupan Taylor dalam beberapa tahun terakhir.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Slipknot memainkan lebih dari sekadar kekuatannya dalam album ‘We Are Not Your Kind’. Album ini merupakan rilisan keempat dari Corey Taylor dan kawan-kawan. ‘We Are Not Your Kind’ direkam di EastWest Studios di Hollywood, California, lalu dirilis Roadrunner Records pada 9 Agustus 2019.

Pemilihan nama album tersebut diambil dari lirik lagu “All Put Life” yang merupakan lagu rilisan Slipknot pada 2018. Sebetulnya, Jim Root (gitaris) dan Shawn Crahan (perkusi) sudah mulai menulis materi ‘We Are Not Your Kind’ sejak awal 2017. Rekaman pun ditancap dari November 2018 sampai April 2019.

Slipknot: We Are Not Your Kind Album Review

Slipknot – We Are Not Your Kind

Di sisi lain, ‘We Are Not Your Kind’ adalah album Slipknot pertama yang direkam tanpa Chris Fehn yang meninggalkan posisi perkusi sejak Maret 2019. Tapi Slipknot telah memperluas parameter musiknya dalam album ini. Alasannya karena agresi dari perkusi dan melodi yang tetap dibuat dengan baik oleh Slipknot. Kemudian album yang digarap oleh delapan orang ini menjadi karya kohesif yang dibangun secara berkualitas.

Album ‘We Are Not Your Kind’ tidak lepas dari eksperimen yang didorong secara pasang surut selepas perginya Fehn, Joey Jordison dan Paul Gray. Sebab Slipknot masih memiliki nyanyian dari Taylor yang sangat bersih namun tidak pernah mengganggu kebrutalan eksorsismenya. Itu membuat Slipknot selalu berkarya dengan baik ketika memiliki narasi yang diikuti.

Sementara itu, sebagian besar lirik di dalam album ini menceritakan tentang kehidupan Taylor dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah perpisahan dengan Stephanie Luby yang merupakan istrinya. Hal itu membawa Taylor ke ambang kegilaan hidupnya dan harus menunjukan kekuatan besar untuk menjaga dirinya sendiri.

Alur cerita dibahas dalam album ini dengan struktur yang eksperimental. Seperti tiga lagu pendek yang diisi oleh instrumental pada judul “Insert Coin”, “Death Because of Death” dan “What’s Next”. Lagu-lagu itu dipenuhi suara-suara aneh dan teknik non-konvensional disertai sampel yang cepat. Tiga lagu itu memperkenalkan elemen keanehan dan kengerian di album ‘We Are Not Your Kind’.

Seperti dimulai dari Intro lagu “Insert Coin” yang terus dihantui alarm berdengung di atas keyboard gothic dengan efek suara berlapis. Kemudian Taylor menyanyikan “I’m counting all the killers” yang menggema, terpotong-potong dan ditelah oleh suara yang lebih keras lagi.

Setelah dari “Insert Coin”, Slipknot langsung meluncurkan “Unsainted”. Lagu ini Melibatkan paduan suara lembut dengan vokal Taylor yang putus asa. “oh, I’ll never kill myself to save my soul / I was gone but how was I to know? / I didn’t come this far to sink so low / I’m finally holding on to letting go”.

Dua lagu awal itu seperti pengantar album yang penuh dengan rasa frustasi, kemarahan dan kebencian diri yang nyata. Sementara pada lagu “Nero Forte”, salah satu yang menariknya adalah ketika Taylor berteriak “Fist clenched tight in the pocket of my hoodie / and I know where I need to go / but the voice of reason can’t say no / It’s in the eyes and heart / Just the latest psycho off the chart/ You can do your worst to me / At the end of the day that’s what you do best.”

Di sisi lain, Semua bagian itu diletakan di antara melodi yang berat dan ketukan drum dan perkusi. Tapi jika ingin melihat catatan kekhawatiran Taylor, ada pada lagu “Not Long for This World”. Kebenaran dalam kesakitan dalam sinismenya terletak pada liriknya. “Decide/ Tell me how I’m gonna die / Cuz I’ve already gone away / Not long for this world”.

Setidaknya, Taylor juga menunjukan tujuan untuk semua kesedihannya dalam lirik lagu “Orphan”. “I’ll put an end to all the fucking psychobabble/ We eat the meat cause the mead had a soul / We take the lives cause to hurt makes us whole”

Di sisi lain, mungkin beberapa penggemar fanatik Slipknot tidak suka dengan beberapa vokal Taylor dan melodi lebih melankolis di album saat ini. Seperti di dalam lagu “Spiders” dan “A Liar’s Funeral” yang terdengar cukup lambat meski ketukan drumnya tetap menghentak dan pergeseran ritmenya masih apik. Seharusnya, semua warna itu akan menjadi hal yang bisa ditemukan untuk mencintai ‘We Are Not Your Kind.’

Di sisi lain juga ada kemungkinan beberapa penggemar Slipknot mendengarkan dalam kondisi terbaiknya ketika Taylor berada di kondisi terburuknya itu. Rasa sakitnya seolah menjadi keuntungan bagi para penggemarnya. Rasa sakit itu juga tidak jauh lebih menyakitkan dari lagu berjudul “Solway Firth” yang menjadi penutup album ini.

“While I was learning to live, we all were living a lie / I guess you got what you wanted / So I will settle for a slaughterhouse soaked in blood and betrayal / You want the real smile or the one I used to practice not to feel like a failure?”

Di luar lagu-lagu yang dibahas, lagu-lagu lainnya menampilkan intro mengerikan, bagian tengah yang tak terduga dan kesimpulan mengejutkan. Bisa dibilang ini adalah pembuatan album Slipknot paling berani dan beragam hingga saat ini.

Album ini didorong oleh kehidupan Taylor yang penuh dengan gejolak menjadi satu dimensi. Dipicu secara kretif oleh kesengsaraan dan kenyataan patah hati adalah harga tinggi yang harus dibayar Taylor. Membuktikan depresi dan kemarahannya tidak membuatnya menjadi kurang produktif.

Taylor punya bakat untuk masuk ke situasi yang merusak dirinya sendiri bahkan ketika ia sadar sekalipun. ‘We Are Not Kind’ pun menjadi menerima banyak pujian dari komentator yang menganggap album ini sebagai salah satu rilisan terbaik dalam karir Slipknot.

Inilah bukti naluri bertahan hidup dan pengakuan Slipknot tentang pertumbuhan serta evolusi yang telah membawa mereka ke terobosan musik. Bisa dilihat dari ada begitu banyaknya elemen kreativitas yang bermain. Penggemar alternatif rock maupun eksperimental pun akan mendengarkan banyak referensi yang cukup bagus jika mendengarkan ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect