Connect with us
sin city
The Weinstein Company

Film

Sin City: A Dame to Kill For Review

Cukup seru di bagian awal, namun membosankan mendekati akhir.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Senjata, asap rokok, dan figur wanita berlipstik merah yang berbahaya; merupakan salah sederet unsur noir yang sangat kuat dalam Sin City. Film yang diangkat dari graphic novel berjudul serupa karya Frank Miller, “mengeksploitasi” genre neo-noir dengan berbagai kisah dari setiap orang yang singgah di kota fiksi tersebut.

Sin City pertama rilis pada 2005, sementara Sin City: A Dame to Kill For merupakan sekuel pada tahun 2014. Keduanya disutradarai oleh Frank Miller dan Robert Rodriguez. Kita sudah bisa menonton Sin City: A Dame to Kill For di Netflix sekarang.

The Weinstein Company

Dibintangi oleh oleh beberapa aktor terkenal, mulai dari Jessica Alba, Bruce Willis, Eva Green, Joseph Gordon-Levitt, hingga cameo dari Pop Star, Lady Gaga. Meski termasuk sekuel, kita akan tetap dapat mengikuti kisah dari film ini meski belum melihat Sin City yang pertama. Hal ini karena konsep anthology dimana film terbagi menjadi beberapa babak kisah.

Ada beberapa ‘chapter’ yang berkaitan dengan alur cerita berikutnya, namun ada juga yang hanya sekedar plot selipan. Mulai dari kisah Nancy penari seksi yang ingin balas dendam, Johnny yang selalu yakin ia tak pernah kalah dalam berjudi, hingga Ava Lord, wanita yang pandai menggoda pria untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan.

Konsep Film yang Dramatis dan Theatrical

Sebagai film adaptasi graphic novel, Sin City: A Dame to Kill For memiliki produksi yang secara harfiah membawa komik ke layar lebar. Dengan editing dan VFX tebal, kita akan melihat materi komik 2D dihidupkan secara artistik dan dramatis dalam sebuah film.

Konsep produksinya yang sangat mengandalkan efek visual ini cukup serupa dengan film adaptasi game atau komik lainnya; Sucker Punch (2011), 300 (2006), dan Scott Pilgrim vs. the World (2010).

The Weinstein Company

Mengusung tema neo-noir, visual hitam putih yang dibiarkan otentik mendukung genre tersebut. Dengan beberapa efek splash color yang random untuk memberikan statement visual tertentu. Yang secara tidak langsung juga memberi garis bawah pada setiap perubahan persona dan emosi pada setiap karakter.

Screenplay yang ditulis bagaikan sebuah puisi berima pada narasinya. Hal ini karena adaptasi komiknya yang tidak ditinggalkan. Banyak dialog yang juga sangat klise dan cukup jelas maknanya. Dibawakan dengan akting yang ekspresif dan theatrical. Buat yang menyukai film aksi dengan berbagai adegan laga epic, film ini akan memanjakan kita dengan konten tersebut.

Sederet Karakter Femme Fatale yang Ikonik

Sebagai film drama anthology, ada banyak deretan karakter menonjolkan yang hadir dalam setiap babaknya. Namun karakter dengan konsep femme fatale adalah unsur yang paling ikonik dalam film ini.

Desain kostum dan make up yang diaplikasikan berhasil menghidupkan sosok karakter wanita yang kuat secara visual. Mulai dari Nancy yang selalu tampil seksi di atas panggung, hingga Ava Lord yang merupakan gambaran sempurna dari wanita dengan pesona yang tak terelakan. Begitu juga dengan beberapa karakter pendukung yang tak kalah berbahayanya; Gail yang diperankan oleh Rosario Dawson dan Miho yang diperankan oleh Jamie Chung.

The Weinstein Company

Tak hanya menyakinkan secara visualnya, penulisan karakter dieksekusi dengan akting yang sempurna dari setiap karakter. Salah satu kelebihan dari film dengan konsep dramatis dan theatrical adalah eksplorasi akting yang menyenangkan bagi masing-masing aktornya. Kita bisa melihat semua aktor bersenang-senang melakukan role play dalam film ini, terutama para karakter wanita utama.

Film ini juga akan memanipulasi kita dengan desain sinematografi artistik untuk terpikat pada karakter tertentu. Contohnya pada setiap adegan dengan Ava Lord sebagai bintang utamanya, sinematografi yang dihadirkan lembut dan misterius, menonjolkan siluet tubuh dan garis muka Ava yang flawless. Sementara pada adegan Nancy, sinematografi lebih dinamis dengan musik latar keras untuk definisi sensual dari perspektif yang berbeda.

Tak Berhasil Mempertahankan Keseruan Hingga Akhir Film

Sin City: A Dame to Kill For sayangnya tidak bisa mempertahankan keseruannya hingga akhir cerita. Hanya ada beberapa storyline yang menarik diikuti, seperti kisah Johnny dan Ava Lord yang selalu kita nanti-nanti. Karena kedua karakter ini memiliki peran yang menyenangkan dan menarik. Ketika storyline mereka ditutup, sisanya cukup predictable dengan format aksi yang mulai terasa membosankan karena diulang-ulang.

Sinematografi yang dihadirkan juga kurang konsisten. Pada beberapa adegan visual hitam putih yang elegan dan artistik disematkan. Namun pada babak lainnya, kita akan melihat visual dengan VFX yang kasar dan sangat komikal. Seperti ada dua gaya dengan image yang jauh berbeda digabungkan dalam satu film.

Secara keseluruhan, Sin City: A Dame to Kill For tidak memiliki eksekusi yang lebih baik dari sekuel pertamanya. Hanya ada beberapa karakter yang menarik, dan beberapa storyline dihadirkan setengah matang. Namun, film ini cukup memanjakan kita dengan vibe neo-noir yang unik dan deretan karakter femme fatale yang menghibur mata.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect