Connect with us
She Dies Tomorrow
NEON

Film

She Dies Tomorrow Review: Krisis Eksistensial yang Menyebar Seperti Virus

Bukan favorit semua orang, namun memuat materi yang dialami oleh setiap manusia.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Setiap orang akan meninggal sendiri, namun ketakutan dan kegelisahan yang dirasakan bisa disebarkan selama kita masih hidup. Begitulah konsep singkat dari film She Dies Tomorrow yang disutradarai dan ditulis oleh Amy Seimetz.

Kisah berawal dari seorang wanita bernama Amy. Ia sangat yakin bahwa dirinya akan mati esok hari. Ketika temannya, Jane datang mampir ke rumah, Ia pun berkali-kali mengatakan bahwa Ia akan mati. Tanpa siapapun sadari, “virus” krisis eksistensial pun menyebar seperti mata rantai yang tak bisa dihentikan.

She Dies Tomorrow

NEON

She Dies Tomorrow sebetulnya bukan film yang cukup menghibur apalagi santai untuk kita tonton pada masa pelik seperti sekarang. Namun, bisa menjadi tontonan yang menarik buat kita yang menyukai film psychological drama.

Film ini termasuk salah satu yang mengundang pro dan kontra dalam ulasannnya. Website rating paling populer seperti Rotten Tomatoes memberikan rating 89% yang termasuk ‘fresh’. Media besar seperti Rolling Stone dan The New York Times juga memberikan ulasan positif. Bertolak belakang dengan ulasan penonton dari kalangan umum yang tidak terlalu menyukai film dengan konten yang cukup unik dan ekstrem.

Ketika Krisis Eksistensial Menjadi Virus yang Menular

Krisis eksistensial merupakan sebuah kesadaraan dimana kita mempertanyakan keberadaan kita di alam semesta ini. Biasanya bermula dari pertanyaan apa makna dari kehidupan kita, kemudian berakhir pada pencerahan bahwa kita semua akan mati suatu hari nanti. Amy Seimetz menggunakan ide tersebut untuk menciptakan suatu konsep film yang absurd, hiperbola, namun relevan, seperti mengungkap ketakutan terdalam dari setiap manusia; ketakutan untuk menghadapi kematian.

Awalnya kita akan berpikir bahwa ini tentang Amy, yang tampak depresif dan sedang berusaha melanjutkan kehidupan. Hingga akhirnya kita sadar, it’s not only about Amy, it’s about us. Kita juga bisa merasakan emosi yang sama jika berkali mendengarkan semua karakter bicara tentang kematian. Ketakutan mereka adalah pikiran-pikiran akan kematian yang bisa saja kita simpan masing-masing dalam diri kita.

Lebih dari sekedar kecenderungan bunuh diri, namun lebih pada ketakutan akan kematian yang bisa datang kapan saja. Kematian adalah sesuatu yang akan dihadapi oleh manusia, tak peduli apapun kepercayaan kita.

She Dies Tomorrow

NEON

Bukan Film yang Bisa Dinikmati Oleh Semua Orang

Berbicara tentang krisis eksistensial atau kematian bukanlah topik yang bisa kita bicarakan dengan santai. Banyak orang pasti merasa tidak nyaman untuk membicarakan topik ini sebebas mungkin. She Dies Tomorrow juga bisa disalah artikan sebagai film yang mempengaruhi penontonnya untuk mengalami kegelisahan akan kematian. Tak terhitung berapa kali ucapan tentang kematian diucapkan dalam film ini. Mungkin hal ini ‘lah yang menimbulkan banyak kritik dari penonton kalangan umum. It’s not a fun movie to watch.

Padahal, konsep yang suguhkan cukup menarik dan original. Sudah biasa bagi kita melihat film tentang virus yang berwujud seperti zombie atau penyakit mematikan tertentu. Virus seperti pada film Cell (2016) dan Bird Box (2018), juga merupakan contoh film tentang teror akan sesuatu yang belum kita temukan sebelumnya.

She Dies Tomorrow menghadirkan virus yang lebih berbentuk gagasan, pemikiran, atau doktrin. Hal ini seperti ketika kita ngobrol dengan teman tentang sesuatu, lalu kita jadi ikut kepikiran dan terpengaruh. Dalam film ini, konsep tersebut dieksekusi secara hiperbola dengan sentuhan imajinasi dari Amy Seimetz.

Repetitive, Editing Kasar, Akting Beberapa Aktor Kurang Maksimal

Dengan konsep cerita yang absurd, tampaknya sang sutradara hendak menghadirkan visual dan suasana film artistik. Ada permainan sinematografi yang seperti lampu-lampu neon berwarna cerah, hingga filter film yang didominasi dengan warna-warna sejuk dan suram. Kita bisa melihat bahwa setting syuting film ini sudah memberikan modal untuk visual artistik. Sayangnya, eksekusinya tidak seartistik ekspektasi kita setelah melihat posternya.

Sebagai film dengan nuansa yang hampa, harusnya bisa ada banyak frame yang bisa diatur agar sinematografinya sempurna. Contohnya seperti film The Neon Demon (2016), dengan nuansa filter dan warna yang sama. Ada banyak frame yang ikonik dan memikat penonton dalam film tersebut. Editing dalam film She Dies Tomorrow juga sangat kasar dan “kejam”. Mungkin maksudnya biar artistik, but it just doesn’t work.

Pada babak pertama film, ada adegan yang sangat repetitive dan terasa canggung. Dengan sentuhan klise musik ‘Lacrimosa’ dari komposer Amadeus Mozart yang menimbulkan suasana kelam dan depresif. Musik tersebut sendiri merupakan requiem atau lagu yang dikomposisi untuk upacara pemakaman. Meski aktor utama Kate Lyn Sheil dan Jane Adams mampu memberikan akting yang cukup meyakinkan, ada beberapa aktor pendukung yang tampil tidak maksimal.

(Spoiler alert)

Setelah merasakan kesepian dan kesendirian yang menakutkan dari banyak karakter, babak terakhir film ini akan memberikan sedikit rasa tenang. Jane akan bertemu dengan karakter bernama Sky dan Erin yang diperankan oleh aktris terkenal, Michelle Rodriguez dan Olivia Dudley. Jane berkata bahwa dirinya akan meninggal dan Ia merasa seperti orang yang sedang sekarat. Kemudian Sky dan Erin mengatakan bahwa mereka juga merasakan hal yang sama. Pada titik ini kita akan mendapatkan pencerahan baru; semua orang merasakan ketakutan yang sama.

Pencerahan tersebut akan membuat kita merasa tidak sendirian dalam menghadapi krisis eksistensial. Kita cenderung merasakan kelegaan ketika mengetahui orang mengalami ketakutan dan kesulitan yang sama. Diawali dengan teror, She Dies Tomorrow memiliki akhir yang cukup bertanggung jawab dengan memberikan pesan bahwa kita tidak sendirian selama kita masih hidup.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect