Connect with us
Sal Priadi: Berhati Album Review

Music

Sal Priadi: Berhati Album Review

Debut yang tidak biasa, namun mengesankan, dari seorang artis pendatang baru Indonesia.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Apabila kita memutar ulang waktu dan kembali ke dua puluh tahun yang lalu, rasa-rasanya artis seperti Sal Priadi tidak akan punya tempat di industri musik Indonesia. Ketika lanskap musik nasional didominasi oleh musik pop lokal rasa Top 40 dan musik ‘impor’ yang tidak terbendungi, tidak ada ruang bagi seorang musisi untuk menyuguhkan sesuatu yang berani, eksperimental, dan provokatif.

Kini segalanya telah berubah. Semakin beragamnya opsi yang dimiliki music lovers untuk menikmati musik pilihannya (seperti YouTube, Spotify, iTunes, dan SoundCloud) menciptakan kesempatan tak berujung bagi artis pendatang baru untuk ‘unjuk gigi’ dan mengeskpresikan kreativitasnya. Artis pendatang baru seperti Sal Priadi.

Album debut Priadi–dengan tajuk Berhati–sama sekali bukanlah album yang disuguhkan untuk penikmat musik pop Top 40. Bahkan, hanya dengan mendengar lagu pertama saja (“Nyala”), seolah-olah Priadi mendeklarasikan bahwa dia adalah seorang individu sejati dalam kelas yang menjadi miliknya sendiri. Diawali dengan a capella, “Nyala” berangsur-angsur berevolusi menjadi musik avant-garde pop yang mengeksplor tema ‘gelap’ seperti cemburu dan dendam. Ironisnya, “Nyala” justru adalah pembuka untuk sepuluh track lainnya yang semakin kompleks dan semakin memprovokasi telinga pendengar.

Nyaris mustahil untuk mengotakkan Berhati ke dalam satu atau dua genre musik. “1-2-CHA-CHA” menghadirkan vokal Priadi yang lebih powerful dari biasanya sembari mengombinasikan nuansa bossa nova dengan calypso.

“Ikat Aku Di Tulang Belikatmu” terdengar seperti homage Priadi untuk power ballad era 90-an dengan modern twist. “Di Timur” diawali dengan melodi pop dan R&B yang generic sampai kemudian bridge tiba dan Priadi langsung mengubah haluan emosinya.

Apabila harus memilih, kreasi Priadi yang paling berani adalah “Dalam Diam”– di mana Priadi mencampuradukkan genre disco, funk, acid jazz, dan menambahkan vocal feature wanita (yang tidak disebutkan identitasnya) sehingga menjadi dance record paling unik sekaligus paling membingungkan.

Terlepas dari eksperimen genre, yang menjadi kekuatan Priadi adalah songwriting skills yang sangat khas. Diksi yang dipilih Priadi seharusnya tidak cocok untuk menjadi lirik lagu populer– namun Priadi memang bukan musisi yang takut mengambil risiko.

“Kultusan” memuat lirik paling brutal dan tajam yang pernah ditulis oleh Priadi (atau siapa pun itu pada dekade baru ini). Dengan bantuan Nadin Amizah, “Amin Paling Serius” menjadi balada cinta nan puitis tanpa melupakan faktor emosi. Memang, ada kalanya diksi yang dipilih Priadi justru menjadi pisau bermata dua. Lirik pada lagu “Melebur Semesta” seolah-olah gagal mengimbangi aransemennya yang sangat grande. “Jelita” yang seharusnya menjadi lagu yang inspiring malah tampak terjebak dengan pemilihan diksi yang berlebihan. Lagu penutup, “Nyalak”, hanya terdiri dari musik instrumental sehingga terkesan antiklimaks.

Pada akhirnya, Berhati adalah debut yang sangat berani bagi seorang Sal Priadi. Ketika artis pendatang baru pada umumnya masih kesulitan menemukan jati diri mereka sebagai seorang seniman (sehingga lebih condong ke bermain aman), Priadi tahu betul siapa dirinya dan arah musik seperti apa yang ingin dia ciptakan. Industri musik Indonesia, berbahagialah. Musik anak negeri kini semakin kaya.

IN A NUTSHELL:
+ Eksperimentasi genre musik di sana-sini menciptakan keunikan tersendiri. Lirik yang khas ikut menambahkan daya tarik ekstra.
– Tone album yang sangat anti-mainstream terkadang melelahkan telinga. Tidak semua risiko yang diambil terbukti sukses.

TRACK PICKS:
“Ikat Aku Di Tulang Belikatmu”, “Amin Paling Serius”, “Dalam Diam”

1 Comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect